Monday, December 31, 2007

CATATAN KEGIATAN FPKM TAHUN PERTAMA

Gagasan membuat catatan harian forum penulis kota Malang muncul diatas angkutan kota dalam perjalanan menuju perpustakaan umum dan arsip kota Malang. Catatan harian ini merupakan kisah perjalanan forum ini seperti rapat kecil (yang dihadiri sebagian kecil pengurus), rapat besar (dihadiri semua pengurus), acara resmi, bedah buku, dan sebagainya disajikan dengan gaya bercerita yang santai. Disini ada pengalaman, kesan, kisah sedih, cerita lucu, dan cerita menarik lainnya. Teman-teman jangan tersinggung dengan gaya penulis yang terang-terangan ya. Kalau teman-teman forum nyumbang tulisan, silakan …
Vita Priyambada – dept. Litbang

14 – 22 september 2006
Formulir pendaftaran anggota FPKM diletakkan di atas meja. Dari pintu masuk perpustakaan, tengok sebelah kanan, nah disitu letaknya!!! Pas acara Malang Book Fair formulir ini beredar. Saat mengisi formulir tersebut, pasti banyak deh yang nanya, “kok, formulirnya seperti ini ?” Yaaa ……!!! Karena yang perlu diisi hanya nama, tempat tanggal lahir dan nomor telp / HP. Tidak tercantum nama orang yang bertanggung jawab dan nomor telepon yang bisa dihubungi atau apalah yang bisa menjelaskan lebih lanjut tentang forum. Bingung Lah YauW!!

8 Oktober 2006 – Minggu
Hari Minggu yang cerah. Lantai 2 ruang audio visual perpustakaan menjadi tempat pertemuan yang bersejarah. Cukup banyak yang datang, sekitar 70-an orang. Pasti mereka datang dengan sejuta Tanya di kepala : apa tujuan forum ini, mengapa dibentuk, bagaimana kelanjtannya, apa yang saya dapat, dan bebagai pertanyaan dan siang itu semua pertanyaan terjawab, susunan pengurus dibentuk, visi dan misi FPKM disebar. Mas david Ardy didaulat jadi ketua. Lha wong, mas David david yang mengundang. Ngomong-ngomong, gimana sih undangan disebar? Susttt…. Mas David ini yang sibuk telepon kesana kemari dan yang pencat-pencet nomor HP mengirim pesan pendek. Bayangin aja, satu per satu calon anggota! Sampai pegal tuh jempol. Itulah kehebatan teknologi jempol tangan. Berapa duit ya … yang sudah dikeluarkan mas David? He…he…hukum pengorbanan demi terbentuknya FPKM.

11 Oktober 2006 – Rabu
Tanggal persisnya lupa, habis audah lama banget. Hari ini tiba-tiba pak ketu mengundang rapat pertama yang mendadak. Lagi-lagi dengan telepon dan sms. Lesehan di teras depan perpustakaan dan membicarakan bagaimana kelanjutan FPKM. Yang tunjuk jari mengajukan diri mengisi acara yang pertama adalah mbak Indah yang akan membedah novelnya berjudul cermin retak yang konon sedang menunggu jawaban dari penerbit. Salut untuk mbak Indah.

15 Oktober 2006 - Minggu
Bedah buku cermin retak oleh Mbak Indah. Rupanya seleksi alam sedang terjadi. Anggota yang hadir hanya separuh dari pertemuan awal. Ngaak apa-apa. Maju terus pantang mundur! Mbak Enta, sang bendahara, mulai deh nagih-nagih. Maklum, didaulat jadi tukang tagih. Seram juga ya! Kalo perlu duit, minta juga ke mbak Enta.

15 November 2006 - Rabu
Tanggal persisnya lupa nih…! Kayaknya antara 13-18 November 20006 ada pertemuan kecil, tapi berhubung sudah lewat lama, jadinya lupa deh. (padahal segenap ingatan sudah digali, tapi sia-sia). Saya dapat sms dari pak ketu, ada perlu, nulisnya sih jitu. Langsung deh begitu ketemu di perpustakaan saya ditunjuk jadi pembicara di Universitas Negeri Malang. Duh, mimpi apa saya semalam? Berat juga mengiyakan, tapi demi nama baik FPKM saya jawab “YA”.

18 November 2006 – Sabtu
sudah menjadi kesepakatan tidak tertulis bersama. Anggota forum yang mau ketemu di perpustakaan bias ngumpul di tempat ini tiap sabtu. Perpustakaan sekarang jadi tempat nongkrong yang asyik bernuansa intelektual. Apalagi kalau FPKM sudah punya kantor, konon ruang di sebelah mushola itu yang akan dipakai. Tengah hari, mas David kedatangan dua orang tamu dan memperkenalkan kepada say. Mereka dari UKPM UM (Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis Universitas Negeri Malang). Yap, tugas menanti.

22 November 2006 – Rabu
Sekitar pukul 11.00 WIB. Lagi-lagi pengurus rapat, sebut saja KMBK (Konferensi Meja Bundar Kecil) Lha wong meja bundarnya memang kecil. Disekeliling meja hadir Enta, Haryo, Olen, Alam, Adin, Fia, Pak Ketu yang wajib hadir dan saya. Berhubung pak ketu lagi bokek berat, jadinya minta tolong sms ke mbak Mila. Eh, Mbak Mila sedang sibuk, titip absent rapat saja katanya. Mbak Mila, kenapa sih sms-mu susah dipahami? Rapat ini ngobrol tentang rapat 17 desember 2006, deklarasi FPKM yang akan dihadiri oleh Bapak Peni Suparto, Walikota Malang. Dani dari UKMP UM dating ke perpustakaan untuk mengambil makalah dari saya. Makalah itu masih dengan tulisan tangan. Harap maklum, saya ngga punya mesin ketik canggih yang namanya computer yang saya punya hanya mesin ketik biasa yang bunyinya rebut tak .. tik .. tuk.. mesin itupun sedang dipakai ketika saya akan mengetik makalah.

24 November 2006 – Jum’at
Pukul 13.00 WIB. Cuaca mendung, awan hitam menyelimuti angkasa. UKMP UM mengundang FPKM menjadi salah satu dari tiga pembicara dalam sarasehan menulis produktif bersama komunitas Penulis Bengkel Imajinasi, di Joglo Perpustakaan UM. Tema yang diangkat : “Kiat Menembus Koran, Penerbit dan Lomba kepenulisan”. Peserta yang hadir sekitar 40 orang. Tanya jawab berlangsung ramai dan seru. Roh-roh menulis sudah bergentayangan di Malang.Pertanda bagus. Eits…… umur FPKM belum genap 2 bulan. Ibarat bayi yang baru lahir procot, belum bias apa-apa, tapi sudah laris manis dapat undangan. Ada Wulan, Olen, Adin, dan Pak Ketu. Saya nih kebagian tugas membawakan materi. Tugas tetap tugas yang membawa nama FPKM.
Pukul 19.30 WIB. Anggota FPKM dapat undangan acara pembukaan Trienal Seni Grafis Indonesia II 2006 yang diadakan di ruang Ken Arok Perpustakaan umum dan arsip kota malang. WOW, rame banget! Anggota forum yang muncul : Mas David alias Pak Ketu yang jadi pembawa acara dadakan, Wulan, Olen, Haryo, Mila, Adin, Fia, Alam, mas siapa ya namanya _ saya belum hapal- yang serius bareng Mila, dan saya. Kami sempat foto bareng-bareng di ruang pameran. Mana nih hasil fotonya! Menurut desas desus pada pembukaan ini ada acara makan-makan, acara yang selalu ditunggu. Ngga tahunya hanya ada kue mungil dan segelas plastic kecil kopi susu. Ngga pa-pa deh, yang penting ngumpul dan wawasan tambah luas. Betulkan temen-temen !!! Beginilah jadinya FPKM, ada acara apa di perpustakaan, rame-rame kumpul grubyukan. No reken (ga peduli) acaranya ngga berhubungan dengan menulis, pokoknya kumpul. Ngga hanya bisa menulis, siapa tahu ada bakat terpendam lain seperti menggambar, melukis atau desain grafis. Siapa tahu, kan?

25 November 2006 – Sabtu
Pukul 10.30 WIB. Lagi-lagi KMBK yang akan membahas acara bedah buku besok dan ”proyek besar”. Pak Ketu, Enta, Mila, saya dan mas … (maaf ya Mas, kita belum kenalan, padahal sering ketemu dan saya belum tahu namanya). Fia membawa serta temannya yang juga senang menulis. Mbak Wulan kirim sms ke saya, ngga bisa dating. Mbak Olen telepon juga ke saya akan datang terlambat. Mas Haryo gabung, sebelumnya sibuk di internet. Mumpung pakai gratuiss untuk anggota perpustakaan selama satu jam. Mas Haryo ini latar belakang pendidikannya pertanian, tapi jago nulis resep masakan (katanya juga senang masak karena suka makan), nulis artikel yang berhubungan dengan TI (Teknologi Informasi), nulis cerpen juga pernah. Di forum kebagian tugas membuat situs FPKM, ya… semacam webmaster. Hari ini ada kasus. Ada dua orang yang mengaku semalam ngga bisa tidur.(Apakah karena kopi susu yang diminum semalam?) oalah. . . malah jadi bahan ledekan pengurus forum yang hadir disini. Komentarnya macem-macem (off the record saja, ya . . .) Nasib tak terelakkan. Cut !!! oh ya mbak Mila bawa camilan crakers asin Hore . . . !?!!? sering-sering aja bawa kue kalau rapat ya, mbak Mila. Pasti pengurus tidak ada yang nolak [koor pengurus] : SseeetttuujjuuuU . . . . .

26 November 2006 – Minggu
Pak ketu kemaren sudah wanti-wanti : pengurus datang jam 9 teng. Angkat kursi, atur meja. Rey Ayudha memanggul 1 kardus aqua (maaf lupa merk minumannya) dan dua bungkus permen. Eh jangan dikira lho! Kecil-kecil tapi tenaganya kuat banget . He . . . he . . . he. Maklum, pecinta alam. Hobby nonton Smack Down. Didapuk jadi penerima tamu bias, angkat barang oke. Kerja serabutan. Anaknya lucu, jadi kadang-kadang malah dikerjain sama yang gede-gede. “Rey kalo kamu baca catatan harian ini jangan tersinggung ya! Kamu membuat suasana FPKM menjadi ceria dan gembira. Sungguh . . . . !!!”
Ahmadi Sofyan, penulis novel “Jangan Panggil Aku Pe’cun Kampus” datang. Acara bedah buku dimulai moderator : Mbak Mila, Pembanding Ms Liga Alam. Lembar Sinopsis dibagi. Membaca judulnya saja sudah bisa diduga, pertanyaan-pertanyaan yang muncul akan “panas”. Ngga meleset . . . . seru dan juga heboh jadinya. Ada acara bagi buku yang bisa menjawab pertanyaan.
Selesai acara bedah buku, anggota FPKM ngumpul. Asyik, Mbak Dhi Tahanti (Mbak Anti panggilannya) bawa kue. Perut yang keroncongan bias diganjal sedikit. Kali ini, rapat paripurna tentang deklarasi FPKM dan “proyek besar”. Apa sih proyek besar, sepertinya rahasia banget. Ya, ntar kalo sudah waktunya dibuka semua. Sekarang, masih dalam pembahasan. Ngobrolnya selesai, kursi dan meja dikembalikan.
Kalau pengurus sudah ngumpul jadwal pulang jadi molor. Lagi-lagi membentuk KMBK, meskipun kali ini ngga resmi. Rey, Olen, Henny, Anti, Malady, Pak Ketu dan saya. Ngobrol ngalor ngidul tentang deklarasi, acara apa yang menarik? Ada yang usul buat teater. Nah yang gini-gini, bikin naskah drama Mbak Anti jagonya. Interupsi mbak Henny dan Malady keluar, katanya beli makanan dan rokok siipp. . . setelah ditunggu beberapa saat mereka dating. Roti sisir dan biscuit diserbu. Habis deh . . . di kursi panjang dekat tembok, masih ada Mas Alam, mas Haryo, dan … siapa lagi ya? Lupa. Mas Haryo sudah mau pulang, datang ke meja mencomot kue, habis itu ngacir pulang. Ada yang protes nih. Mas Malady protes ke saya, “Kenapa Mbak Vita diam saja ?” Saya sudah terbiasa menghadapi pertanyaan sejenis. Lha, dari sononya emang sudah begitu mau bagaimana lagi? Hemat kata irit ngomong. Tadi juga ada yang bilang, “Mbak Vita sepertinya sombong, ya, habis ngga banyak bicara”. Kesan pertama emang begitu, selanjutnya terserah anda. Gitu aja kok repot, pinjam istilahnya Gus Dur. Pulang, pulang, sudah pukul 14.00 WIB. Perpustakaan udah mau tutup.

28 November 2006 - Selasa
Beberapa hari yang lalu sempat saya membuka email, salah satunya dari mbak Indah, ternyata rapat hari ini muncul. Lalu ada Trias, Adin, Olen. Trias malah beli fruit tea botol sendiri dan kudapan ringan. Dia juga bawa permen mentos yang kecil. Trias tertawa melulu, yang lihat sampai bingung. Ada apa denganmu Trias? Mas Adin melontarkan gagasan : lirik-lirik lagu Katon Bagaskara sangat puitis, pasti asyik deh dibedah. Pak Ketu menambahkan, sebetulnya sastra lamaseperti pantun, roman, dan gurindam patut dibedah karena dasarnya dari situ. Betul kan Pak Ketu . . .!

29 November 2006 - Rabu
Adin, Pak Ketu, Olen, Haryo, Enta dan saya. Mas Haryo perlu tambahan dana untuk menyelesaikan situs FPKM. Katanya mau ke warnet ambil paket. Mintanya ke mbak Enta. Mas Haryo agak flu gara-gara begadang di warnet. Mas Haryo kali ini membocorkan sedikit jurus meminta-minta. Kalau gitu masuk partai kaipang aja mas Haryo. Jadi pengemis intelektual. Wah, saya kena protes Pak Ketu, kenapa diam saja. Mas Haryo bilang saya melamun. Saat itu saya sedang berada “di dunia lain”.

2 Desember 2006 – Sabtu
Biasanya hari Sabtu gini Mas Haryo- sang Webmaster FPKM – datang lebih awal sebelum pintu perpustakaan buka. Artinya, kalau mas Haryo datang lebih pagi supaya dapat tempat di Internet. Sang webmaster baru muncul hampir pukul 09.30 WIB. Batuknya tambah parah. Ngomong dikit sudah uhuk . . uhuk . . uhuk. Jadi ngga berani ngomong banyak-banyak deh, Ya… mas!! Kami doakan supaya cepat sembuh.
Rapat kecil lagi nih di tangga teras perpustakaan. Pak Ketu – David, Wulan, Ady, saya, Indah dan Alam. Ngomongin soal tema novel untuk “proyek besar” Pak Ketu punya gagasan unik dan bagus, ide yang tidak lazim (maaf, ide ini masih off the record). Malah ditambah ide gila mas Haryo. Sebetulnya kita punya ide gila tiba-tiba keluar. Gila bener! Kata Pak Ketu, akibat ditanggung bersama. Maksudnya yang paling ekstrim, seandainya kita dipenjara ya barengan gitu, rame-rame. Ha..ha..ha.. dipenjara membuat karya lagi yang lebih hebat. Berkarya, berkarya, berkarya. Sesuai dengan misi jangka pendek, menengah dan panjang, masing-masing pada butir pertama.
Satu per satu pada pamit. Pukul 12.30 WIB. Sisa David, Ady dan saya. Kami berangkat ke kelompok Kompas Gramedia Fair di Hotel Santika. Naik apa, ya?
Punyanya sih Mercedes warna biru yang sopirnya ganti-ganti melulu. Menurut jadwal ada bedah buku “Perempuan kembang Jepun” karya Lan Fang pada pukul 13.00 WIB. Molor sampe jam 14.00 lebih. Kami duduk di tepi kolam, naik ke lantai satu, turun lagi ke lantai dasar. Keliling liat-liat buku. Menurut jadwal, bedah buku diadakan di ruang lontar lantai satu, ternyata diadakan di lantai dasar di depan panggung. Wow, bedah bukunya seru! mas David oleh mbak Lan Fang berkali-kali dipanggil dengan Andre. Pak Ketu, namanya jadi Andre Aksana. Kalo di FPKM jadi mas David lagi. Setuju ngga, mas Ady? Pak Ketu pulang dengan membawa souvenir dari Gramedia karena mengajukan pertanyaan kepada Mbak Lan Fang.

3 Desember 2006 – Minggu
Mbak Anti datang dengan membawa naskah teater. Pak Ketu kayaknya agak mumet nih mikir buat acara tanggal 17 Desember. Betul nih, Pak Ketu ? jangan dipikir sendiri, masih ada temen yang siap untuk berbagi beban. Seperti biasa rapat ini dihadiri Alam, Ady, Wulan, saya dan temannya Ady yang kayak Lenny Kravitz. Rambutnya panjang kriwal-kriwil (maaf yam as saya belum tahu namanya), mas ini jago teater. Oya, kata Alam, Mila ga bias dating. Masih kata Alam, Malang Post hari ini memuat cerpen mbak Mila. Mila kami tunggu traktirannya, ya !!! pukul 12.00 rapat bubar dengan menghasilkan beberapa kesepakatan. Tinggal wulan dan saya yang ngobrol tentang gender sampai pukul 14.00. diskusi yang sangat seru . . . !!!

19 Desember 2006 - Selasa
Priit…Mas Haryo hampir selalu tepat waktu. Kalo ga ada halangan apa-apa, datang ke perpustakaan paling awal, padahal naik sepeda onthel.
Patut dicontoh, nih. Pagi ini seperti biasa yang nulis catatan harian ini jadi pendengar yang baik. Fia pulang dulu karena jam 12 ada kuliah.
Alam, Heri, Olen dan Mas David muncul hampir bareng. Indah muncul juga. Karena FPKM sudah punya markas, ngumpulnya banyak di tempat itu.
Mas David ada urusan, izin keluar, katanya jam 1 udah balik. Jadi tinggal Olen, Mas Haryo, Indah, Alam dan Heri. Tapi ya itu, satu per satu pada kuliah : Olen, Alam dan Heri.
Indah mau masuk kerja. Tinggal berdua, nih, aku dan Mas Haryo. Mana di luar hujan deras. Mas David ditunggu-tunggu belum muncul padahal jam sudah menunjukkan ke angka 13.30.
Wah, kita berdua benar-benar sudah jadi reco penthung (arca yang bawa pentungan, penjaga gapura di istana-istana kuno Jawa). Bosan habis, deh !
Komputer dicabut…takut kesamber bledek (kilat). Akhirnya Olen datang (tadi emang bilang mau balik jam 3-an). Alam, Heri, Mas David, satu per satu nongol. Legaa..
Di luar, sisa gerimis.

23 Desember 2006 - Sabtu
Tak biasanya Pak Ketu sudah tiba di perpustakaan pukul 9.30 WIB. Ngobrol di depan ruang Ken Arok dengan seorang Bapak yang belum kukenal.
Kemudian Pak Bambang datang. Tumben nih Mas Haryo datang siang. Selanjutnya Enta yang hanya sebentar, kabur dulu entah ke mana. Fia juga sebentar.
Aku diminta Pak Ketu sms Wulan. Wulan yang membalas sms dengan bahasa Jawa (langka lho di zaman sekarang !). Salah satu mas yang kuliah di filsafat juga sempat ngobrol bareng Pak Bambang.
Mas David, Mas Haryo, dan Wulan ke Markas. Ngapain aja sih mereka ? Weleh, ternyata Mas David dan Wulan sedang melubangi meja komputer di bagian belakangnya untuk sirkulasi udara biar komputernya gak kepanasan.
Olen baru muncul, padahal sudah sejak tadi di perpustakaan tapi ngubek-ubek lantai 2 cari buku. Wulan dan Olen keluar cari keripik singkong, hasil urunan dari orang-orang yang hadir di situ.
Adin (Abdin) sempat muncul tapi kabur sebelum yang beli keripik singkong datang. Ditunggu lamaaa banget, belinya di Lawang (kota kecil terdekat dari pusat kota Malang) kali ya ?
Begitu muncul, nggak dapat keripik tapi…apa namanya camilan itu, ya ? Yang satu seperti batang korek api, yang satu bunder bolong, plus ada juga satu botol aqua gede. Tamrin tiba-tiba muncul. Trias muncul membawa keripik singkong dan keripik apa ya ?
Wow, siip !… Heri dan Alam muncul. Eh, jam 3 ada orang baik beliin bakso buat yang hadir di situ. Terima kasih…terima kasih.
Perut kenyang, orang-orang yang biasanya cerewet rada diam. Tapi hanya sementara karena sesudah itu pada “kumat”. Ngobrol mulai dari masalah gender, Pithecanthropus Erectus, Adam dan Hawa, Lubang Ozone sampai hal-hal yang bisa membuat “gila” bagi orang yang nggak biasa dengar pembicaraan sekumpulan orang-orang yang rada nggak waras ini.
Mana di luar hujannya ngamuk. Ya, katanya kalau mau ke RSJ bareng-bareng (he..he..he..). Entar di sana bikin karya lagi yang lebih gila.
Berkarya, berkarya, dan berkarya. O ya, Pak Bambang sempat mengemukakan lagi tentang novel 72 jam dan banner puisi. Ayo, Mas David maju terus ! Kami mendukung ! Hidup FPKM !!

24 Desember 2006 - Minggu
Mas David, Mas Haryo dan Adi sudan nongkrong di kantor. Eh, sudah pula ada sekotak kue dari Mas Budi yang jaga di Tourist Information Center-nya Perpustakaan Kota Malang. Terima kasih, Mas.
Rezeki mengalir ke FPKM sejak kemarin. Mas David malah bawa laptop plus plus. Ooi…Rey datang. Tumben. Alam, Heri, Olen dan Tamrin. Fia muncul juga bawa penganan. Olen juga.
Camilan sisa kemarin juga dikeluarin sambil nonton film. Tamrin kemarin sudah janji. Judul filmnya Quill. Kalau diterjemahkan, artinya pena dari bulu angsa.
Ceritanya tentang seorang sastrawan yang dipenjara, bernama Marquis de Sande (moga-moga tulisannya gak salah). Dalam keadaan tertekan justru gagasan yang mengalir begitu deras, meskipun dia harus menulis dengan sembunyi-sembunyi dibantu oleh seorang tukang cuci bernama Madeleine (mohon maaf kalau tulisannya salah).
Akhir filmnya tragis banget ! Uhuk..uhuk..uhuk…Nangis deh !
Rey nonton sambil tutup wajah dengan jaket, padahal adegan filmnya biasa aja tuh. Fia dan Mas David ribut soal gender.
Wah, tentang gender ini perlu dijadikan wacana pasti rame. Soalnya kemarin sempat ribut tentang gender, Mas Haryo lawan Wulan dan Vita !
Mentang-mentang sudah punya kantor sendiri, pulangnya sekarang jadi sore melulu, ikut jam kantor. Tapi Adi sudah kabur duluan sebelum film diputer.
Alam sempat-sempatnya tidur pulas. Kok bisa, ya ? Sesudah bangun malah naik sepeda onthel-nya Rey keliling-keliling perpustakaan.
Emangnya ingat masa kecil di kampung dulu, Mas Alam ?

26 Desember 2006 - Selasa
Nggak nyangka ketemu Trias di lantai 2. Aku turun duluan. Nggak lama Trias nyusul, trus kita ngobrol bareng. Aha, Wulan akhirnya datang juga.
Ngobrol bertiga. Aku dan Wulan tukaran baca cerpen, Trias ikut baca. Kurang lebih jam 13.30 WIB Pak Ketu datang dengan membawa payung bergagang.
Ditanya sama Wulan, “Dari mana, Mbah ?” Pak Ketu menjawab, “Dari Tumpang.”
Wulan mengeluarkan camilan. Thank you very much. Duo Xie. Terima kasih banyak.
Giliran Trias yang beli minuman sari apel 4 gelas plastik. Matur nuwun. Hujan deras di luar. Setelah reda, Pak Ketu ngacir ke Pak Bambang. Trias pulang.
Tinggal aku dan Wulan. Eh, tuit..tuit.. HPku yang bunyi. Nomor siapa ini yang muncul ? Kaget juga, ternyata dari Ibu Neni Utami yang punya rubrik Pustaka di Koran Pendidikan.
Nggak nyangka deh, beliau menghubungi, padahal hubungan lewat e-mail masih bisa dihitung dengan satu tangan.
Lalu aku menghubungi Pak Ketu pake HP Wulan, belum selesai bicara sudah ada peringatan “telepon yang Anda tuju tidak bisa dihubungi”.
Weleh, lupa nih kalo HP Pak Ketu bermasalah ! Akhirnya lewat SMS. Wadow, ditunggu-tunggu nggak datang-datang. Sebelum perpustakaan tutup kita berdua keluar sebelum “diusir”.
Aku dan Wulan siap-siap pulang. Aku masih belum sampai di marka jalan, Pak Ketu datang dengan Olen. Nggak jadi pulang, deh.
Ngobrol sebentar di depan wartel. Aku pulang bareng Wulan tanpa helm. Nekaad !! Ini yang kedua kalinya.

27 Desember 2006 - Rabu
Pagi-pagi telepon Ibu Neni. Kemudian menghubungi pemimpin redaksi Koran Pendidikan. Ke perpustakaan, janjian dengan Mas David untuk menemui Bu Neni jam 12.
Hampir jam 12 teng, kita jalan menuju rumah Bu Neni tak jauh dari perpustakaan. Kita nunggu sebentar karena Bu Neni belum pulang.
Tak lama beliau muncul. Ternyata sudah banyak banget buku-buku yang diterbitkan, ada buku dewasa dan buku anak. Kurang lebih 75 menit kami bincang-bincang. Bu Neni bersemangat untuk membagi pengalaman menulisnya (termasuk siaran lewat beberapa radio di Malang).
Pulang dari situ menuju perpustakaan lagi. Pak Ketu debat dengan dua orang perempuan dari UKMP UM (waktu acara pameran buku di sana kita sudah ketemu hanya lupa namanya).
Biasalah, debat tentang tema novel 72 jam yang bakal digelar nanti. Yang nulis diari ini jadi pendengar yang baik saja, nggak ikut-ikutan debat.
Sampai Olen datang, disusul Adin yang sudah dari atas (soalnya Olen nunggu Adin dari tadi). Akhir cerita hari ini : Olen, Adin dan Mas David makan kue dan minum sirup melon di rumah yang nulis diari ini.
Takdir terjadi hari ini, aku nggak bisa buka tempat kue, Olen nggak bisa, akhirnya Mas David.
Nggak bisa juga, akibat dipaksa, tempat kue itu akhirnya bolong di salah satu sisinya plus retak. Kacanya tipis banget !

28 Desember 2006 - Kamis
Tugasku hari ini menemui pemimpin redaksi Koran Pendidikan. Aku baru dihubungi Pak Nourdin jam 13.30 WIB, janji ketemu jam 14.00 WIB di Kantor KP, Jl. Bogor.
Pak ketu seperti katanya kemarin menemui orang perpustakaan.

29 Desember 2006 - Jumat
Hari ini nyoba jalan kaki (santai) dari rumah ke perpustakaan. Butuh 1 jam ! Sampe perpustakaan sudah ada Mas David duduk di depan anjungan Ken Arok.
Waktuku menyampaikan laporan ke Pak Ketu atas pertemuanku dengan Pimred Koran Pendidikan kemarin sore. Pak Ketu malah belum ketemu orang perpustakaan.
Yang ditunggu-tunggu selama ini pasangan setia komputer - apalagi kalo bukan printer, pagi ini bisa dipasang di kantor. Wah, printernya “Mas Haryo” banget !
Habis bisa untuk scanner plus fotokopi ! Alam di sms, harap segera datang ke perpustakaan.
Bangga juga nih, tapi tanggung jawab pun sudah menunggu supaya FPKM “nggak diam aja”.
Dapat printer bagus Mas David malah bingung ! Begitu Alam tiba, dia langsung ketik surat permohonan untuk deklarasi FPKM ke walikota.
Sudah dapat printer apik, berangan-angan kantor FPKM suatu saat nanti bisa dilengkapi mobil dinas, ruang kantor ditambah sofa, kulkas dan kompor (he..he..he.. king of wishfull thinking !)
FPKM diubah menjadi DPKM (Dinas Penulis Kota Malang !) Mengkhayalnya sudahan gih !
Pak Ketu ijin ke Pak Bambang. Tinggal Alam dan aku. Alam mengutak-atik cover novelnya yang terbaru pakai Corel Draw.
Olen datang udah lewat tengah hari kurang lebih jam dua siang, naruh permen lalu ke lantai 2. Hujan lagi, hujan lagi !
Jam 15.30 WIB 4 mangkok bakso dan 4 gelas teh hangat datang. Thanks Alam. Pak Ketu wanti-wanti besok datang jam 10.00 WIB.

30 Desember 2006 - Sabtu
Begitu sampai di lobi, aku sudah lihat Mas Haryo duduk sambil baca koran. Aku terus ke belakang. Olen dan Mas David juga baru datang. Kemudian kita ke kantor. Nah, Mas David jadi tukang kayu lagi untuk mbolongi meja komputer. Digergaji dengan susah payah….ogrok….ogrok….ogrok…..Kira-kira seperti itulah suaranya kalo ditulis dengan huruf. Aslinya berisik banget. Satu per satu anggota FPKM muncul, Heri, Liga, Cahyo, Mas Andik (rajin juga datang tiap Sabtu meskipun sebelum jam 12 harus sudah cabut karena peraturan asrama. Kok seperti cinderela, ya?) Mas Haryo dan Mas Andik tukar-tukaran majalah digital. Contoh yang nggan bagus, jadi Forum Pembajak Kota Malang. Adi, Adin, dan Tamrin juga hadir. Enta bawa dua kotak kue. Enak lho kue kering dan wingkonya. Enta kan juga bikin kue! Anak-anak pada nyalamin ulang tahun (padahal ultahnya sudah lewat seminggu yang lalu).
Entah, awalnya dari mana kok tahu-tahu ngomong soal togel segala. Katanya untuk menghidupi FPKM kita pasang togel. He…..he….Tiba-tiba aku dibilangin Mas David, “Mbak, Mbak, ada Bu neni lewat.” Aku pas nggak lihat ke luar, Mas David tuh yang lihat. Aku segera mengejar Bu Neni yang jalan-jalan bersama putra putrinya dan Mbak fitri. Bu Neni jalan-jlan ke perpustakaan, mau pulang lewat belakang untuk selanjutnya mencari gado-gado. Bu Neni mampir ke markas FPKM. Anaknya yang perempuan tiba-tiba nangis. ‘Kali takut sama Tamrin yang rambutnya gondrong keriting. Lha, malah anaknya yang laki-laki ikut nangis. Ya sudah, Bu Neni pamit.
Mbak Wulan datang sudah lewat tengah hari (emang tadi sms kalo datang telat). Trias muncul dan yang paling akhir muncul adalah Fia yang datang menjelang jam 3. Adi baca puisi dengan kocak. Setiap ada kata-kata puisi yang ‘jelek’ selalu nunjuk Trias. Siapa yang nggak ketawa. Tamrin yang lagi di depan komputer ketawa tapi mukanya ditutup buku! Yang lain pada ngakak haha hihi.. Eh, siapa ya yang bawa salak tadi? Kok lupa. Pak Bambang datang. Pak Jemi sempat mampir. Pulang pukul 16.30 WIB dalam keadaan gerimis. Yang tinggal sisa Mas David, Olen, Pak Bambang, dan seorang lagi serta Mas Haryo (karena masih hujan, nunggu hujan berhenti - maklum naik sepeda onthel).
Pulangnya Wulan main ke rumah sampai pukul 19.00 WIB, terus dalam keadaan masih hujan kita ke Koran Pendidikan. Ceritanya kita malam mingguan selama 60 menit.

31 Desember 2006 - Minggu
Wulan sudah telepon pukul 14.30 WIB. Lalu sms pukul 16.46 WIB nanyain apa aku nunggu dijemput Tamrin. Di markas sudah ada Mas Haryo yang tadi dibonceng Wulan karena bawa galon air. Mereka tinggal satu komplek, jadi simbiosis mutualisme - untuk kali ini. Mas David malah sudah nongkrong di sana, konon sejak jam 3-an, menunggu gule dari Enta. Pukul 17.00 WIB aku dijemput, bawa ransel gunung. Bawa kue dan krupuk dan sapu lidi. Mas Haryo bawa kue dan capucino plus 10 gagang sate. Lho, diminta bawa 10 batang lidi malah 10 tusukan sate. Sempat terheran-heran juga. Kemaren diberi pengumuman masing-masing bawa 10 batang lidi. Yang bawa hanya Mas Haryo, hanya salah. Nah, Mas Haryo juga bawa scrabble dan kartu.
Adi janjinya bawa nasi malah ga bawa apa-apa. Enta datang membawa nasi bungkus goreng, gantinya gule. Terima kasih, nggak jadi kelaparan nih. Adin bawa roti tawar dan camilan. Mas David bawa selain mentega (seperti janjinya kemarin), dan sebagainya. Fia datang sudah lebih dari pukul 20.00. Sempat main cangkulan dengan Mas Haryo, Olen, dan aku. Sebelum pukul 21.00 Fia cabut. Hari dan Alam bawa Coca Cola dan Fanta botol plus camilan dan kacang kulit. Sepanjang malam sampai menjelang pagi banyak yang main scrabble. Adi, Olen, dan Mas David yang baru belajar jadi keranjingan main. Kadang malah main scrabble dengan kata-kata dalam bahasa Jawa. Wah, kocak. Mila sempat telepon lewat HP Fia bicara dengan Mas David dan aku.

1 Januari 2007 - Senin
Menjelang pukul 00.00 kita keluar menuju samping gedung perpustakaan dekat bak sampah. Jalan Ijen penuh sesak dengan kendaraan dan jubelan manusia. Bunyi terompet memekakkan telinga. Tret….tet……tet…….suara trompet, klakson mobil dan hiruk pikuk orang-orang yang berjubel. Selamat Tahun baru 2007, hari baru, harapan baru.Kemudian kita keluar pagar lewat pintu depan gedung sampai menuju samping gedung. Dua orang polisi atau apa namanya nggak tahu (mereka pake seragam mirip security) masuk dengan santainya lewat pintu pagar samping itu dengan santainya. Kita semua pada bengong dan akhirnya terbahak-bahak mengingat kebodohan kita. Lha wong pintu pagarnya itu sebenarnya nggak dogembok! Setelah puas, balik ke markas. Main scrabble lagi. Tamrin tidur sampe pagi. Adin sempat tidur di sofa perpustakaan, juga Alam. Suud dan Mila datang sekitar pukul 1 dini hari, terus Suud gabung main scrabble. Mila sudah sekitar satu jam nggak muncul. Aku bilang padanya kalo kebanyakan ngumpul-ngumpul seperti ini, orang-orang yang di situ jadi nggak waras. Penyakit menular. Lama banget Mila baru sadar dan membenarkan hal itu. Sambil main dan ngobrol, panggang roti pake tooster Olen yang diolesi selai kacang, stroberi, coklat, dan mentega dibantu Mas- temannya Mas David - yang kerja di Hotel Santika (?). Makanya oles-oles roti cekatan. Krupuk puli yang kubawa sudah habissin sendiri sama Mas David sebelum yang lain datang. Melewati pergantian tahun dengan kemah-kemahan di perpustakaan! Beres-beres, pulang jam 7 pagi.

3 Januari 2007 - Rabu
Hari-hari sibuk. Adin sms ngajak ke rumah Olen. Wah, lumayan juga jalan menuju rumah Olen melewati jembatan kayu gantung. Sempat mikir juga, seandainya jembatan ini patah, habis deh…..hanyut kebawa air. Bisa jadi ide untuk cerpen. Di rumah Olen, aku disms Mas David dua kali. Pulsaku abis nih! Komunikasi sempat lewat telepon rumah. Dari situ Adin dan aku ke kantor Koran Pendidikan. Dikerjain beneran, menunggu selama 2 jam. Aku jadi ngobrol banyak dengan Adin. Akhirnya penantian kami berakhir dengan datangnya Mas Ruly yang katanya tadi (per telepon) masih di Batu.
Segera cabut ke perpustakaan! Backdropnya keren banget. Ada foto Bu Neni dan putrinya. Bikin pengumuman 2 lembar kertas untuk dipasang di papan pengumuman. Nambah tulisan ‘kota Malang’ pada backdrop. Tempel menempel dengan Wulan, Mas David dan Olen. Adin pulang duluan, sih. Jadi tinggal berempat. Setengah enam aku dan Wulan pulang. Pekerjaan esok masih menunggu.

4 Januari 2007 - Kamis
Acara pertama pembuka tahun 2007. Sibuk. sibuk. sibuk. Aku ditelepon Bu Neni, payahnya kalo pas aku ga bawa HP pasti deh krang kring melulu. Kalo HP ga kubawa….diem aja. Jadi aku lari-lari ke wartel menelepon Bu Neni. Lalu telepon Mas David (kayaknya dibangunin dulu) karena beberapa hari ni kurang tidur…katanya. Itu penyakit penulis. Berangkat ke perpustakaan, belum ada siapa-siapa. Kursi-kursi sudah diatur. Setelah dari atas, aku lihat Mas Haryo udah nongkrong baca koran. Mbak Fitri datang nganterin buku-buku karya Bu Neni. Maaf Mbak, rencananya dari perpustakaan saya ke rumah ambil buku tapi keduluan. Mendekati pukul 13.00 , Olen dan Tamrin (Mbak Wulan manggilnya Mas Tam Tam) jualan buku-buku Ibu Neni dengan menggelarnya di atas meja kecil. Pak Noordin (Pimred/Pemimpin Redaksi Koran Pendidikan) sudah datang.
Ibu Neni, putra putrinya dan Mbak Fitri sudah siap. Mbak Wulan jadi moderator. Pembicara pendamping adalah Ibu Cicik. Acara molor, mulainya pukul 13.30 WIB. Banyak ibu guru (dari berbagai sekolah di Malang) datang. Anggota dan pengurus FPKM yang muncul antara lain Rey (yang ikut jualan buku), Heri, Alam, Mila, Suud, Puput, Adin, Mas Haryo, Tamrin, Indah, Haris dan masih banyak lagi.
Bincang-bincang berlangsung seru, banyak yang nanya. Acara baru selesai pukul 16.00 WIB. Lumayan juga, nih, ada beberapa tambahan anggota baru. Seperti biasa di akhir acara kita semua pada beres-beres kursi.
Setelah itu membentuk dua kelompok diskusi, masing-masing dengan satu meja bundar. Satu kelompok lain duduk di kursi sofa, jadi ada tiga kelompok.
Tak lama kemudian perpustakaan sudah waktunya tutup, dan para anggota dan pengurus FPKM yang masih belum pulang semua pada pindah ke kantor FPKM yang ada di ruang bagian belakang gedung perpustakaan.
Nggak lama kemudian Mas David (ketua FPKM) pamit keluar sebentar. Aku (Vita) dan Wulan ngacir duluan, “kencan berdua” ke kantor surat kabar Radar Malang.
Sambil menunggu di kantor Radar Malang, tahu-tahu Wulan nyeletuk, “Anak-anak sekarang sedang apa, ya ?” Haaa ??? Trus aku bilang berarti sebenarnya tadi nggak tega ngacir duluan.
Malamnya Pak Ketu (=Pak Ketua : Mas David) kirim sms, nadanya sih agak protes, kok kita pulang duluan tanpa menunggu Pak Ketu. Soalnya Pak Ketu sampai belum sempat ngucapin terima kasih for our teamwork.
Maksudnya untuk kesuksesan dan kerja bareng yang bagus untuk hari ini. Cihuuy…sukses !!!

5 Januari 2007 - Jumat
Tadi malam Olen (Carolina Neolen) sms, kalo bisa ke perpustakaan besok (hari ini), ada 2 buku Ibu Neni yang tertinggal. Berangkat lagi deh. Aku duduk di TIC, Olen di depan anjungan Ken Arok (ruang pameran seni Gedung Perpustakaan Kota Malang) dengan Pak Bambang.
Sesudah urusan masing-masing beres, Olen ke TIC dan ngajak lihat pameran ilustrasi sebelum tidur (pameran poster) yang diadakan di Anjungan Ken Arok.
Ketemu dengan wartawan Malang Post. Mulanya malah aku wawancara dia, tukar peran gitu. Ujung-ujungnya malah balik mewawancarai aku tentang FPKM.
Selesai wawancara, aku dan Olen ke rumah Ibu Neni. Aku kaget tadi sebelum ke Bu Neni di papan pengumuman ada pengumuman tentang pameran buku yang bakal diselenggarakan di perpustakaan kota Malang.
Wah tugas baru sudah menanti.

6 Januari 2007 - Sabtu
Hanya Alam sendiri yang duduk di kursi kayu di lobi. Aku menegur sekilas, lalu jalan lurus ke belakang. Begitu balik, Alam sudah hilang, gantinya yang ada di situ malah Mas Haryo dan Haris.
Mas Haryo sudah khawatir bakal jadi reco penthung (arca pentung) karena kelamaan nunggu Olen yang bawa kunci kantor. Adin datang mau kembaliin buku ke perpustakaan bagian umum yang ada di lantai 2. Aku ikut ke atas.
Mas Haryo jadi tempat penitipan tas karena kunci locker dan lockernya sudah pada penuh terpakai karena padatnya pengunjung perpustakaan hari ini.
Eh, lantai atas, kita ketemu sama Trias. Bertiga lalu turun ke lantai bawah tempat lobby Perpustakaan di mana Mas Haryo duduk sambil jagain tas-tas punya kita.
Di lobby, sudah ada Indah UB (karena ada dua anggota FPKM dengan nama yang sama yaitu Indah), yang terus ngajak Adin dan Aku (Vita) lihat pameran poster “Ilustrasi Sebelum Tidur” di Ruang Pameran Perpustakaan Kota Malang (“Anjungan Ken Arok”).
Olen akhirnya datang juga tepat pukul 11.30 WIB trus ke kantor. Cahyo mampir. Hari ini komputer dipake scan foto Mas Haryo sampe 3 album foto (3 album foto jadoel yang dibawanya dari rumah), lalu gantian dipake oleh Adin untuk nge-scan lukisan-lukisan karyanya.
Maklum selain mahasiswa di bidang pendidikan Akuntansi Universitas Negeri Malang, si Adin juga seorang guru seni rupa di sebuah sekolah Menengah di Singosari.
Trias hari ini bawa kue molen pisang. Heri muncul sendiri. Mas David baru muncul pukul 14.30 WIB dari Tumpang. Paket buku-buku dari Penerbit Mizan dan Penerbit Resist datang, maklum kita kan panitianya pameran dan bursa buku (yang diadakan di lobby Gedung Perpustakaan Kota Malang), jadi mulai sibuk deh !
Pekerjaan periksa silang buku-buku itu per judul. Lumayan banyak paket buku yang datang, jadi agak lama juga kegiatan ngecek ulang buku dengan daftar yang ada.

7 Januari 2007 - Minggu
Pagi-pagi Rey SMS. Tumben. Sori berat nih gak bisa balas, pulsa habis. Yang datang hari ini kok wajah-wajah itu melulu ya ?
Mungkin perlu pake topeng biar kelihatan beda orang. Tokoh-tokoh tetap komunitas ini, seperti biasa adalah Mas Haryo, Olen, Mas David, Rey, Adin, Puput dan temannya (lupa lagi namanya).
Tamrin muncul sekejap. Mila dan Suud datang, namun tak lama mereka pun pulang duluan. Rey sempat ngambek, SMS-nya nggak dibales sama Mas David dan aku. Harap maklum, pentolan-pentolan FPKM lagi kere (nggak punya duit) untuk beli pulsa.
Kegiatan hari ini membahas tema untuk even kita yaitu penulisan novel 72 jam nonstop. Hari ini Mas David “patah hati”. Sebabnya ? Ada deehh…
Besok mulai kerja bakti jaga stan pameran selama 10 hari !! Ada yang lupa nih, Wulan kirim SMS, “Salam untuk teman-teman,” katanya.
Wulan masih ada di dunia lain. Puput sempat baca “Catatan harian” yang masih pake tulisan cakar ayam (belum di upload ke blog FPKM). Nah kan, ketawa. Kok, orang-orang yang baca Catatan Harian pada ketawa ya ? Orang yang menulis catatan harian aja nggak ketawa kok.
Ada yang lucu ? Puput rada nyesel nggak ikut acara bersama melewati pergantian tahun baru di kantor.
Nggak lama kemudian, kita pun kembali asyik ngecek buku-buku dari penerbit Resist dan Penerbit Mizan yang dipamerkan hari ini.

8 Januari 2007 - Senin
Hari pertama kerja bakti “jaga stan pameran buku” (rencananya sampai tanggal 17 Januari 2007) ! Tengah hari Rey datang setelah ujian sekolah, lalu ikut bantu-bantu kita jagain stan pameran.
Berapa pun hasil yang diperoleh hari ini patut disyukuri. Mas David dan aku ngotot dengan pendapat masing-masing tentang bunga kenanga dan bunga kantil ! Tak lama kemudian kita pun mulai asyik lagi ngecek buku terbitan Penerbit Kanisius yang mau dipamerkan besok.

9 Januari 2007 - Selasa
Hari kedua kerja bakti jaga stan pameran buku. Buku-buku terbitan Kanisius mulai digelar di stan pameran. Sarapan pagi dan siang dengan menu sepiring beton (biji nangka yang direbus) pemberian Ibu Tin yang biasa jaga kunci locker perpustakaan kota Malang.
Rey sudah datang pukul 09.00 WIB selesai ujian sekolah. Pintar juga tuh anak, sering-sering datang ke perpustakaan sambil juga ngumpul rame-rame dengan kita-kita, jagain stan pameran.
Pukul 12.30 WIB aku ikutan seminar “Cara Mudah Membangkitkan Minat Baca Anak” yang diselenggarakan juga di Gedung Perpustakaan Kota Malang ini. Sampe pukul 16.00 WIB. Rey sempat ikutan juga, Alam dan Heri juga nggak ketinggalan.

11 Januari 2007 - Kamis
Pagi-pagi Heny SMS. Maaf ya Heny, lagi kere nih ga bisa balas. Aku minta tolong Wulan membalas smsnya. Thank you very much ! Banyak yang muncul hari ini.
Heny yang nanya tentang cara buat artikel, Alam beli buku 2 biji, Wulan tiba-tiba nongol, Puput baru aja pulang dari sekolah (dan mampir ke gedung perpustakaan ini), ada juga Indah UB.
Adin yang datang akhirnya baru pulang sore hari (pulang duluan karena mau nonton sepakbola Arema !).

13 Januari 2007 - Sabtu
Cukup banyak yang muncul hari ini meskipun tidak ngumpul di kantor. Mas Haryo (yang ngantor untuk scan bukuku); Rey; Tamrin (tumben pagi-pagi sudah nongol); Cahyo; Adin (ngantor untuk periksa tes murid-muridnya); Heny (yang konsultasi mau bikin artikel); Wulan (yang nongol sekejap); Trias (yang baru datang ketika perpus sudah mau tutup);Ninda dan Unoy (anggota baru). Nah siapa, yang belum disebut boleh protes atau tunjuk jari lewat milis kalo baca catatan harian ini sah-sah saja. Maklum tiga orang anggota FPKM lagi belajar jadi SPG buku kecil-kecilan. SPG…? itukan singkatan Sales Promotion Girl. Lha kalo mas David yang berjenis kelamin laki-laki? Sebutannya apa dong! SPM (Sales Promotion Man)? Boleh juga, buat istilah baru. Hoorreee…hip…hip..hura! Hari ini rame, memecahkan rekor penjualan tertinggi dari hari yang sudah lewat.

14 Januari 2007 - Minggu
Heny dan Indah R. (repot juga ada 2 nama indah yang sering nongol di FPKM, maksudnya bikin bingung yang nulis)sudah duduk manis. Tamrin dan Rey masuk. Heny siap-siap sekalian mau masuk kerja, makanya rapi banget. Hari ini sepi sekali, memecahkan rekor penjualan terendah! Aku pulang dibonceng Rey naik sepeda Ontel”

17 Januari 2007 - Rabu
Heny datang pagi-pagi seperti janjinya di sms untuk beli buku wulan datang menjelang sore. Asli deh aku ngantuk berat. aku bilang Rey minta kopi, maksudku guyon gitu. Lha kok rey datang dari arah belakang (tempat jual bakso) sambil bawa satu gelas kopi untukku… Maturnuwun, Rey. Hari terakhir bazar buku, cek buku-buku berdasarkan stok. setelah diteliti ada 3 buku yang raib. wah, nombok nih. Wulan bantu “beres” memasukkan buku ke dalam kardus dan kotak-kotak kayu ke dalam Capai!! Rey hilang!! Ada kejadian heboh hari ini. Tiga perempuan terbengkalai di depan wartel perpustakaan. Sampe rumah pukul 22.00!

18 Januari 2007 - Kamis
Aku dijemput Wulan ke perpustakaan. Disana selain orang-orang yang berkepentingan hari ini, ada Adin, Trias, dan Puput. Trias dan Puput semangat banget mau menengok Rey, sayang ga ada motor. Yang berangkat ke rumah Rey: Alam, Adin yang hanya sebentar, aku, Wulan, Olen dan Mas David serta Lia. Itulah kehidupan…

21 Januari 2007
Semula Pak Ketu, Mbak Wulan, Mbak Vita dan aku (Carolina),sepakat akan bertemu hari minggu kegiatan rutin forum)”entah masalah apalagi yang akan dilumat”. Maklum akhir-akhir ini beberapa orang disibukkan oleh kegiatan yang membuat keringat kami menetes pasrah.
“Rey Fenomena”. tapi sudahlah… dengan adanya tragedi tersebut mungkin jiwa kami mulai saat itu menjadi saling bersentuhan.
Pagi sekali telp berdering, ternyata adin menenyakan keberadaan kunci kantor yang seharusnya dia tahu “kepada siapa dia mesti mengadu!!!”. tapi dari telepon itu akhirnya aku menitipkan surat ijin untuk tidak dapat mengikuti diskusi forum dikarenakan “capek deh..”
Rentang pukul 11 siang, tiba-tiba terdengar keputusan dari pak ketu untuk segera menghadap dan akhirnya dengan cuaca yang kurang bersahabat itu, kukayuh sepeda kesana.
Kupikir mbak vita, mbak wulan sudah ada disana, tapi ternyata mereka juga bernasib sama.
“Mbak wulan dengan alasan bolos, sedangkan Mbak Vita ALPA alias tidak ada kabar beritanya. Suasana kantor saat itu mirip suasana rapat dan kedatanganku… menambah ketegangan saat mas Haryo, Adin dan Pak Ketu memandang ketus agar aku segera duduk. Ternyata kita kedatangan anggota baru “Mbak Retno”namanya. Dia adalah satu-satunya anggota yang menarik menurutku. karena mampu membuat semua orang yang ada disitu tertarik oleh kisah-kisah uniknya (btw kalau mau tau kenalan aja sendiri sama mbak Retno). Selang beberapa lama kemudian ada sms dari mbak vita yang menyatakan secara resmi bahwa dirinya dilanda rasa sakit.
Sekarang di kantor berkumpul Pak Ketu, Mas Alam, Adin, Mas Haryo, Rey, Mbak wulan dan lelaki kecil bernama Candra. Akhirnya rencana untuk mengunjungi mbak vita “gatot” karena urusan cuaca dsb.
Acara kumpul semakin parah ketika ada statement dari pak ketu yang akan berniat (baca : berandai-andai) membelikan anggotanya rumah bertipe di luar negri. Rencananya mbak Wulan akan memakai rumah itu menjadi Psycotherapy. Adin dengan Production house-nya, Mas Haryo dengan Kedai kue haryo, Mas Alam dengan tempat karaokenya sedang mbak Vita harus mengalah karena niat kami yang sama tentang pengelolaan buku, mau tidak mau Pak Ketu mengambil Keputusan dan mbak Vita harus mengalihkan usahanya. “Kantor Pos!!!” sahut Pak Ketu. He..he..he.. sungguh Ketua yang baik !!!
Kami masih melanjutkan obrolan, sampai pukul 16.00. Setelah cuaca yang hujan agak reda barulah suasana sepi menyelimuti perpustakaan.

27 Januari 2007 - Sabtu
Ada Panggung di depan perpustakaan. sebagian jalan ijen ditutup. Di perpustakaan ada pameran keris, buku dan yang jual makanan berat. Alam munul dengan rambut pendek. Tamrin malah bikin kejutan dengan potongan rambut barunya, hampir gundul. Para pengagumnya harus kecewa menghadapi kenyataan ini. Adin sibuk memotret. Olen, apa yang terjadi denganmu hari ini? Mas Andik muncul.

28 Januari 2007 - Minggu
Mbak Yanti dan Mbak Serli baru masuk jadi anggota. Mbak Indah wartawan surabayapost ikut ngobrol di kantor. Indah R dan Fia menampakkan diri, tapi/pulang duluan, Alam muncul sebentar Rey muncul. Wulan bawa kripik singkong lumba-lumba. Aku bawa jambu biji. Mas David pergi, Mas Haryo sibuk scan buku. Jadilah aku, Wulan dan Olen membahas TTS Kompas dan Adam Air. pertanyaan nasi yang dikeringkan. setahunya kan aking. Ada huruf king, sisanya masih kosong. Nggak ada yang cocok. Aku usul nasiking (niru iklan kayaking - makanan kecil, apa ya?) Lupa!!!

31 Januari 2007 - Rabu
Rapat pukul 13.00 di teras perpustakaan. Adin, Tamrin, Olen, Haryo, Trias, Puput, dan dua temannya yang juga anggota forum (belum hafal namanya), Rey. Intinya : “acara apa hari sabtu ?”

3 Februari 2007 - Sabtu
Ayo, kumpul-kumpul di ruang audiovisual lantai 2. “Miniatur Hari Sabtu”. Nah kan, akhirnya membicarakan pembentukan tim kecil penyusunan AD/ART organisasi komunitas ini. Selesai kumpul, pindah ke kantor. Leo beli cilok beberapa plastik. Pak Ketu beli 2 bungkus krupuk. Mila muncul sendiri, pulang sebentar hanya untuk ambil foto-foto untuk discan sambil juga membawa mie instan yang dimakan rame-rame.

4 Februari 2007 - Minggu
Rame nih buat naskah AD/ART. Tumben pukul 15.00 WIB sudah pulang, biasanya lebih dari jam itu !

7 Februari 2007 - Rabu
Rancangan AD/ART sudah diketik dan hari ini dibaca untuk dievaluasi. Rapat tim kecil ini lesehan di halaman parkir.

10 Februari 2007 - Sabtu
Yah, hari ini tidak ada greget sepi banget. No passion, no spirit …why ? Cahyo membawa temannya dari MAFEC (Malang Fun English Club). Ternyata tetangganya Mas Haryo, namanya Luhur. Fia dan Trias datang sekejap lalu pergi. Demikian pula Wawan. Mas Andik muncul. Adin datang udah siang… What can we do ?

11 Februari 2007 - Minggu
Acara rapat kerja (RAKER) FPKM diselenggarakan di kantor FPKM, tepatnya di ruang kearsipan Gedung Perpustakaan Kota Malang. Acara santai tapi serius, lesehan di Red Carpet (karpet warna merah, seperti biasa). Peserta raker lumayan banyak, sampek kantor FPKM dipenuhi para pengurus dan anggota. Tampak para anggota baru yang mulai ikutan menyemarakkan rapat saat itu. Rupanya publikasi yang dilakukan dengan menyebar selebaran berisi alamat web, blog dan milis lumayan berhasil. Juga atas partisipasi Mbak Indah yang kebetulan juga wartawan Harian Surabaya Post sekaligus Humas komunitas FPKM (Forum Penulis Kota Malang) telah membuahkan hasil dengan semakin bertambahnya anggota FPKM. Rapat membuahkan hasil beberapa revisi atas naskah AD/ART hasil pertemuan sebelumnya. Disepakati beberapa aturan tertulis maupun tidak tertulis. Juga ada anggota yang bersedia berpartisipasi menyemarakkan milis komunitas ini yang beberapa bulan ini sempat “garing” alias sepi pengunjung.
Ya, harap maklum, organisasi profesi ini kan baru berumur beberapa bulan saja, jadi mungkin belum begitu populer. Namun paling tidak sudah ada beberapa anggota yang beberapa novelnya sudah terbit dan akan terbit. Juga, walau masih berumur beberapa bulan saja, organisasi komunitas penulis ini sudah mempunyai halaman web, blog dan milis sendiri yang kaya akan link serta sarat akan informasi mengenai dunia tulis menulis. Paling tidak organisasi komunitas ini sudah menghasilkan beberapa penulis produktif, serta kegiatan rutin yang diselenggarakan tiap bulannya seperti bedah buku atau pun naskah novel.
Rapat ! Rapat ! Rapat ! Ga selesai-selesai. Masalah satu kata yang sepele bisa bikin rapat tiada usai. Pertemuan setiap minggu. Minggu kedua atau minggu pekan ke-2″ Hualahh…

14 Februari 2007 - Rabu
Selamat Hari Valentine… Semoga bisa menjadi inspirasi bagi penulisan novel-novel teenlit bertema cinta. Mari berkreasi di hari Valentine ini dengan mencari ide-ide yang bisa digunakan untuk menulis sebuah novel. Selamat Berkarya.

17 Februari 2007 - Sabtu
Ditinggal Pak Ketua. Beberapa orang muncul sekejap maksudnya ga sampe kantor tutup. Trias, saya, anggota baru, Mas Haryo, Wulan, Adin, membahas program kerja dan proposal - orang-orang ini sampe jam 5 menunggu hujan reda. Ada Upik, Mas Andik, Mas Kris, Adi Abas, Fia, Christa (anggota baru), dan Luhur. Vita jadi juru kunci.

18 Februari 2007 - Minggu
Mem-preview novel “Jangan Salahkan Cinta punya Fia. Soalnya aku (Vita) di sms Fia, sudah ditunggu di perpustakaan karena aku yang bawa kunci. Seperti kemarin, hari ini tanpa karpet merah. Bukan karpet merah ala Hollywood, lho ! Selesai bedah buku, bikin program kerja. Acara 72 jam menulis novel dibahas juga, lalu juga rencana event baca puisi atau cerpen di depan museum pake obor. “Pengumuman penting dengar hai dengar ! Ini potongan lagu Cinderella. Trias jadi tukang tagih uang iuran, maklum mahasiswi kuliah bisnis. Tapi duitnya bukan dia yang pegang, karena dia hanya mencatat saja di buku. Tapi forum jadi sedikit lebih “kaya”. Acara bedah bukunya Ana Rinda Musthofia, heboh, banyak kritik dan tanggapan, tapi yang jelas semua kritik adalah kritik membangun. Kritik dan masukan berharga datang dari beberapa anggota yang sudah pakar menulis novel, karena beberapa novel mereka sudah terbit, jadi bisa membagi sedikit ilmu dan pengalaman bagi yang masih pemula. Acara hari ini cukup meriah dan bagus.

Sabtu - 24 Februari 2007
Anggota tetap… anggota tidak tetap… hak veto… Lho?!?, kok kayak PBB aja. Nggak jadi deh, ntar ada yang protes. Sabtu Minggu merupakan hari perpustakaan. yang muncul hari sabtu oorangnya sama melulu. sampe bosan melihat wajah-wajah lama. hari minggu ? biasanya lebih banyak yang hadir. hari libur, kan? lagipula jadwal 3 minggu ke depan penuh, sudah antre mau bedah cerpen.

Minggu - 25 Februari 2007
Trias jadi moderator untuk bedah cerpen Mbak Etty. sstt… Mbak Etty bawa nasi uduk bungkus untuk kita lho… plus krupuk dan peyek. enak deh… Eh, cita-citanya Trias mau ke Italia.

Sabtu - 3 Maret 2007
Pak Ketu izin ke Surabaya hari ini dan besok urusan luar negeri! jadi aku nih yang urus “dalam negeri” forum. yang muncul hari ini lumayan banyak. Tiba-tiba Mas Haryo nongol, mampir ke markas setelah pulang kantor. Upi bawa botol krat. ada yang tanya untuk apa? ya.. untuk aksi FPKM baca puisi dijalan, masa untuk molotov!!!

Minggu - 4 Maret 2007
Bedah cerpen “kembalikan rumahku” karya Santy. Sajen hari ini ditaruh ditengah ruang berupa kumpulan botol krat dalam besek. Tumben Rey muncul, setelah ga hadir beberapa minggu. Membahas proposal, suplemen Ruang baca Februari tentang komunita milis, dll, Bagus deh!!! wajah yang punya kesadaran intelektual, selalu hadir tanpa diundang. Wah …!! suara band di ruang Ken Arok bising, sampe moderator harus teriak-teriak.

Sabtu - 14 April 2007
Adi dan Olen sudah di kantor. Stovia muncul dengan kekhasannya : baju pink, eh bawa kue. Wow, terima kasih. Yang bawa kunci Nurul karena pulang belakangan.

Minggu - 15 April 2007
Kabar gembira ! Buku Wahyu Indah sudah terbit, berhak mejeng di toko buku deh. Tuh, dibawain sekotak donat untuk syukuran. Hari ini gak ada bedah-bedahan, yang ada main kartu dan scrable. Duh, ributnya ! Kelompok yang satu ngerumpi tentang penerbit. Kelompok satu lagi di depan komputer. Akhirnya tinggal Olen, Nurul, Wahyu Indah, Wulan, Mas Haryo dan aku (Vita). Tercetus ide untuk ikutan Festival Malang Tempoe Doeloe (MTD). Perut dalam keadaan lapar, dari tadi bunyi kruyuk-kruyuk. Sambil diskusi, mikir buat MTD (apa bisa mikir sambil perut kosong ?). Saking laparnya Mas Haryo ngelantur. Masa bentuk tasnya Indah, katanya jadi seperti pangsit basah (siomay), sedangkan pegangan tas kelihatan kayak mie telor ! Halusinasi !
Sabtu - 21 April 2007
Tumben nih banyak yang datang. Yang pertama datang Tamrin dan Malady. Ada Mas Haryo, Mas Andik, Upik, Luhur, Alam, Indah dan Bayu. Puput datang, langsung ambruk menelungkup di karpet merah. Capeek deeh, habis UAN. Tria mampir doang, Olen datang belakangan. Mas David tumben datang dengan wajah ceria.

Sabtu - 21 April 2007
Hari ini hari Kartini. Perpustakaan Kota Malang rame banget. Banyak pengunjungnya. Teman-teman anggota komunitas ini juga sempat nongol beberapa dan langsung nimbrung di markas besarnya FPKM. Acara rutin, ya ngerumpi sambil nanya-nanya alamat e-mail redaksi berbagai media di tanah air. Maklum beberapa di antara kita banyak yang keranjingan menyebar naskah tulisan lewat e-mail. Ada pula yang nanya-nanya seputar gimana cara menerbitkan buku, mendapatkan endorsement, dan sebagainya. Pokoknya semua ngobrol rame-rame, saling tukar aneka informasi penting dunia kepenulisan. Aku (Haryo) menyempatkan diri mengupdate antivirus komputer di kantor FPKM, soalnya sekarang virus yang beredar di warnet pada ganas-ganas. Makanya hati-hati untuk sementara jangan pake flash disk kalo mau ngirim naskah tulisan lewat e-mail. Lebih baik pake CDRW aja, lebih aman dan dijamin gak bakalan bisa terinfeksi virus. Pengumuman mengenai virus komputer yang lagi ganas-ganasnya menyebar di kota Malang disampaikan secara luas ke teman-teman, biar lebih waspada dan nggak sampek ketularan virus yang bisa mengobrak-abrik komputer ini. Hati-hati ! Selalu waspada !
Setelah acara kumpul-kumpul diakhiri pada sekitar jam dua siang, aku (Haryo) dan Mbak Vita melanjutkan acara hari ini dengan bergabung ke rapatnya komunitas lain. Kebetulan kita berdua juga anggota dari komunitas sejarah dan seni, yang baru memulai acara kumpul-kumpul pada sekitar jam tiga sore. Sempat muncul gagasan dari beberapa anggota komunitas sejarah untuk membuat film dokumenter budaya Jawa dengan setting di pelataran candi-candi kuno di Malang raya. Rencana ini juga sempat disebarluaskan ke teman-teman FPKM, barang kali ada yang tertarik untuk nampang main di film sendratari dan drama Jawa itu.

Minggu - 22 April 2007
Bedah cerpen punya Vita menyangkut feminisme dan jender. Seru banget ! Ya.. 21 April kan hari Kartini. Tumben Mas Sidik yang rajin ikut milis hadir di hari Minggu. Ike datang membawa sekotak kue. Kabar baiknya, novel Ike sudah terbit. Herry baru pulang dari Singapura, mempromosikan bukunya. Banyak cerita yang dibawa dari negeri tetangga itu, termasuk kemungkinan kemudahan para anggota FPKM untuk bisa mencoba peruntungan menerbitkan buku di Singapura ! Horee..Mbak Indah bawa berkotak-kotak kue dari seminar nikah siri yang berlangsung di perpustakaan. Nah, jangan remehkan FPKM. Anggota trus bertambah. Ada beberapa wartawan mulai dari wartawan surya, Malang Pos, Koran Pendidikan hingga Surabaya Post. Benar-benar semangat para penulis !

Minggu - 22 April 2007
Acara bedah cerpen Jawa karya Mbak Vita yang berjudul “PENITISAN KEMBALI” cukup semarak dengan begitu banyak anggota FPKM yang hadir. Orang-orang yang sudah lama nggak muncul, ee..tahu-tahu muncul dengan segudang cerita khas mereka. Anggota baru komunitas ini pun tak mau kalah. Mbak Ike yang baru saja bergabung dengan komunitas penulis FPKM tahu-tahu memberikan kejutan berupa diterbitkannya buku novelnya. Juga Mas Herry yang sudah lama nggak muncul sejak pesta perayaan tahun baru Januari yang lalu, ee.. tahu-tahu hari ini datang dengan begitu banyak cerita. Rupanya Mas yang satu ini baru saja balik dari tur promosi buku dan naskah novelnya. Mulai dari proyek buku biografi pejabat dari Sumatra hingga proyek bukunya di Malaysia dan Singapura. Promosi abis, sekalian berlibur, katanya. Dia juga berjanji bakal bagi-bagi tips dan alamat penerbit Singapura yang sedang mencari naskah-naskah dari penulis Indonesia. Yang hebatnya lagi, untuk menerbitkan buku novel atau buku apa pun di Singapura, kita tidak perlu repot-repot translate ke bahasa Inggris, karena penerbitnya sendiri yang bakalan menterjemahkan naskah kita ke dalam bahasa Inggris. Keren kan ? Kalau sudah berhasil menembus pasar buku di Singapura, dijamin bakal populer, soalnya buku-buku itu biasanya nggak cuman beredar di Singapura saja, namun beredar luas di seluruh Asia, Australia hingga Eropa. Perlu dicoba nih, cara baru dan mudah untuk menjadi kaya ! Bayangkan aja royalti yang bakal diterima kalau buku kita best seller, yang semuanya bakal dalam mata uang dolar. Keren Bo ! Makanya buat teman-teman, buruan gih, berkarya seproduktif mungkin. Kalau perlu siang malam jadi pabrik kata-kata, ee.. siapa tahu bisa jadi jutawan dadakan. Pada pertemuan kali ini begitu bertabur kue-kue. Ada sekotak besar kue-kue yang langsung diserbu oleh teman-teman yang hadir saat itu. Juga ada Mas Sidik Nugroho, peserta milis FPKM di internet yang datang jauh-jauh dari Surabaya khusus buat mengikuti kegiatan mingguan pertemuan FPKM. Momennya pas ! Semua orang pada datang dan rame banget. Sehabis mengulas dan membedah cerpennya Mbak Vita Priyambada, dilanjutkan dengan diskusi seputar jender. Maklum, menyambut hari Kartini. Jadinya ya, semakin rame aja. Bagi teman-teman yang ada di luar kota jangan ngiri ya. Kalau memungkinkan boleh kok datang bergabung dan ngerumpi rame-rame tiap hari Minggu di markas besarnya FPKM (Gedung Perpustakaan Kota Malang, ruang kearsipan - Jl. Raya Ijen 30 A Malang. Jawa Timur. Dijamin nggak nyesel, ada aja yang bisa diobrolin di sini. Kalau pas lagi rame, malah ruangannya sering nggak muat. Jadinya ya terpaksa duduknya harus saling berdesak-desakan supaya semua kebagian tempat untuk duduk. Karpet merah yang segitu lebarnya bahkan konon sampek sering nggak muat untuk menampung ruang duduknya teman-teman semua. Makanya gabung dengan FPKM, dijamin seru dan bakal menambah wawasan dan persahabatan.

26 April 2007
Sebuah undangan ditujukan kepada Forum Penulis Kota Malang, Kesempatan ini
dibuka lebar oleh seorang tokoh asal Malang “RATNA INRASWARI IBRAHIM” yang sudah banyak bergelut di dunia sastra. dalam undangan tersebut terlampir acara diskusi dengan topik feminisme dimana melalui karyanya yang baru, Batu Sandung, banyak ditemukan hal-hal atau pun konflik-konflik yang sekiranya tidak pernah dipikirkan oleh kaum feminis.
Meskipun ketika itu hujan deras mengguyur kota Malang, tetapi antusias untuk dapat berpartisipasi di rumah budaya jalan Diponegoro 3 boleh dikatakan seru apalagi dengan suguhan musik akustik.
Dengan pembicara yang berasal dari pusat studi gender UIN, Jamillah S.S dan Tengsu Cahyono, Dosen sejarah Universitas Negeri Malang serta pemerhati budaya ini, mampu melibatkan keakraban pecinta novel dari kalangan remaja maupun dewasa. Karena itu, novelet terbaru berjudul BATU SANDUNG, layak sebagai suatu cerminan terhadap kejadian-kejadian yang secara tidak sadar merupakan suatu bentuk penindasan.

28 April 2007, Sabtu
Hari Sabtu seperti biasa ke perpustakaan. Eh… lha kok di dalam ruang arsip yang jadi kantor FPKM malah jadi penuh dengan lukisan-lukisan yang terbungkus rapi. Rupanya lukisan-lukisan itu untuk acara pameran yang bakal digelar di Galeri Seni Anjungan Ken Arok dan Ruang Lobby Gedung Perpustakaan Kota Malang. Ya sudah, anggota FPKM ngalah dan pada keluyuran di ruang perpustakaan cari ilham untuk bahan penulisan novel dan sebagainya. Jadi kesimpulannya untuk besok hari Minggu kita libur selama kurang lebih dua minggu khusus untuk acara diskusi hari Minggu. Tapi yang pengin datang ke perpustakaan nggak ada yang ngelarang kok, sekalian sambil menikmati keindahan karya lukisan yang dipamerkan di galeri seni Ken Arok.

12 Mei 2007, Sabtu
Pak ketu (Mas David) sibuk mengurus lukisan untuk pameran. Upi (Lutfi Fadila) sudah buat rencana kerja untuk Forum Penulis Kota Malang, yaitu : bakal ada kegiatan penulisan novel nonstop secara estafet selama 72 jam, acara keripik tempe dan juga pembuatan antologi cerpen karya-karya para anggota FPKM. Hari ini kedatangan tamu dari writing club Universitas Brawijaya yang mau kerja sama dengan FPKM. Mereka akan membuat workshop dengan pembicara dari FPKM. Kita ngobrol dan berdiskusi hingga sore hari.
Pukul 19.00 WIB, di gedung Perpustakaan Kota Malang ada acara Pembukaan Pameran Lukisan yang bertema “A BEAUTIFUL DEATH” yang sempat tur keliling Yogyakarta, Surabaya, Bali dan Malang serta menghadirkan para perupa dari Yogyakarta, Semarang, Batu, Malang, Bali, dan Surabaya. Perayaannya dilaksanakan dengan acara lesehan lengkap dengan suguhan ubi jalar, singkong, talas, pisang dan kacang rebus. Acara ini dihadiri oleh seniman-seniman. Ada Djoko Pekik dan Romo Sindhunata yang berulang tahun. Acaranya seru lho ! ADa suguhan tarian dan acapela Mataram dari Yogyakarta - mencangkemisasi.

13 Mei 2007, Minggu
Leo, Luhur, Upi, Mbak Etty, Mbak Yanti, Mas Haryo, Mas David, Trias, Mas Andik, semua pada uyel-uyelan (berdesak-desakan) di kantor sekretariat FPKM yang masih juga berfungsi ganda sebagai gudang penitipan barang-barangnya pameran. Akhirnya, karena keterbatasan tempat, maka acara ngumpul-ngumpul dan ngerumpi pindah ke depan galeri seni anjungan Ken Arok (Mas David sempat ‘pesan tempat’ takut keduluan komunitas group yang lain). Alhasil, kita membawa kursi-kursi yang kemudian diatur berjejer dan diatur secara melingkar. Tak lama kemudian Santi datang. Yang lain pada ngobrol dan rapat di situ. Olen (Carolina Neolen) datangnya sudah siang banget. Datang sambil nyengir takut dimarahi yang lain karena datangnya paling bontot. Akhirnya kita ngerumpi sampai sore.

19 Mei 2007, Sabtu
Upi (Lutfi Fadila) mengoprak-oprak para anggota FPKM untuk mengumpulkan cerpen-cerpen karya mereka demi buku antologi cerpen FPKM yang rencana bakal terbit untuk memperingati hari ulang tahun pertama FPKM pada bulan Oktober nanti. Rupanya beberapa pentolan forum sedang ‘korslet’ - maksudnya punya ide gila dan semangat juang. Minggu depan ada kerjasama seminar kepenulisan yang diselenggarakan oleh Universitas Brawijaya Writing Club dan FPKM. Ide lain ? Ke RSJ. Sekalian mendaftarkan aku (Vita) ke sana. Ha..ha..ha.., soalnya ada yang bilang ide-ideku ‘out of mind’. Ya deh…pasrah aja. Ide-ide yang muncul semakin ‘tewur’ (=ruwet ; bahasa balikan khas Malang - baca dari belakang), semakin menarik dan bagus. Walaupun begitu kondisinya, tapi ada lho yang nggak ikut pertemuan dua kali aja udah kangen ketemu teman-teman di forum. Ngangeni….

20 Mei 2007, Minggu
Acara ngumpul seperti biasa, cuma kali ini tidak seramai minggu lalu. Tumben Trias muncul pagi-pagi, sebelum kantor buka. Salah satu anggota milis yang rajin banget ngisi milis, datang. Weiiii….Padahal selama ini hanya bertemu di dunia maya, ee hari ini baru bisa kopi darat, muka ketemu muka, daftar jadi anggota lagi. Ide-ide gila semakin banyak mengalir. Upi siap menampung di kotak pandora. Ide satu belum terlaksana, muncul ide lain. Mas Haryo izin ga masuk dua minggu untuk berkarya di rumah menyelesaikan proyek buku-buku novel, kumpulan cerpen, buku resep dan proyek buku komputer.
Seperti biasa kita semua pada ngerumpi, sambil juga jaga kantor sekretariat, karena teman-teman banyak yang datang silih berganti untuk menyerahkan file naskah cerpen yang sedianya akan dibukukan menjadi buku antologi cerpen FPKM. Lutfi Fadila (Upi) kebagian tugas mengedit dan mengatur lay out naskah-naskah yang masuk. Kelihatannya serius banget. Mas Kris dan Mas Andik bertugas mengeprint label CD-R yang berisi kompilasi e-magazine dan e-book tutorial FPKM untuk bahan seminar kepenulisan. Mas Andik sanggup untuk membackup dan mem-burning bahan-bahan yang akan menjadi isi dari CD Kompilasi FPKM. Dia juga yang mendesain stiker logo yang akan ditempelkan di CD Kompilasi tersebut. Sekedar sebagai pemberitahuan, CD kompilasi FPKM berisi edisi-edisi majalah digital FPKM mulai dari edisi perdana hingga edisi bulan Mei 2007, plus bonus e-book Panduan Lengkap Menulis dan Menerbitkan Buku Fiksi maupun Non Fiksi. CD Kompilasi ini bisa diperoleh dengan mengganti biaya pengadaan CD sebesar Rp 10.000,-/keping. CD bisa diperoleh dengan datang langsung ke kantor sekretariat FPKM di Gedung Perpustakaan Kota Malang - Jl. Raya Ijen 30 A, Malang - menghubungi Mbak Vita, Mas David, Carolina Neolen (Olen), Mbak Etty, atau Mas Haryo.

26 Mei 2007, Sabtu
Ruang sekretariat FPKM yang bertempat di ruang kearsipan Gedung Perpustakaan Kota Malang masih penuh dengan karton dan kemasan paket lukisan-lukisan sisa pameran beberapa waktu yang lampau. Ada yang usul karton-karton dan dus besar-besar itu dirombeng atau diloak aja. Mas David, sang ketua FPKM langsung teriak: Hei di dalam kardus dan karton-karton itu ada lukisannya Djoko Pekik yang nilainya 200 jutaan !! Kalo diloak yang punya bakal marah besar ! Ah..ah.. di mana ruangan kita ? Sekretariat FPKM jadi penuh sesak dan berfungsi sebagai ‘gudang penitipan’. Konsekuensinya pertemuan rutin yang biasa diadakan di ruangan kecil ini agak terganggu. Tapi untunglah, hal ini tidak menghentikan kegiatan keilmuwan kita, yaitu bedah buku. Saat ruang sekretariat tak lagi memungkinkan, para anggota FPKM ngungsi ke ruang lobby gedung perpustakaan karena acara bedah buku novel karya Mbak Lan Fang yang berjudul “Perempuan Kembang Jepun’ diadakan di Hall area lobby gedung perpustakaan. Yang ngikut lumayan juga walau tidak terlalu penuh sesak. Sambutan dan diskusi seru seputar masalah jender dan masalah sosial pun mewarnai diskusi bedah buku yang cukup semarak ini. Acara baru berakhir sore hari. Para anggota FPKM pun melepas kepergian Mbak Lan Fang yang akan balik ke Surabaya sambil melambaikan tangan. Mobil Mbak Lan Fang pun meluncur keluar dari pelataran parkir Gedung Perpustakaan Kota Malang. Sampai jumpa di event yang sama lain hari nanti. Semoga novelnya tambah laris ya, Mbak !

27 Mei 2007, Minggu
Acara ngumpul hari Minggu. Banyak juga para anggota FPKM yang datang. Kali ini lebih banyak lagi yang menyerahkan naskah karya cerpen untuk buku antologi cerpen FPKM. Ada yang menyerahkan dalam bentuk disket, ada yang membawa flash disk dan ada juga yang membawa CD yang berisi naskah karya-karya terbaik para anggota FPKM. Seperti biasa Upi (Lutfi Fadila) sibuk mengedit naskah dan mencatat naskah yang masuk di database FPKM yang ada di komputer. Tampak asyik dan serius mengerjakan selama berjam-jam. Teman-teman yang lain sibuk saling bertukar informasi dan alamat e-mail penerbit. Rame bercerita pengalaman mengajukan naskah novel ke penerbit dan sebagian lagi ngerumpi ngalor ngidul. Ada juga yang ngacir ke lantai 2 perpustakaan mau pinjam buku dan baca-baca. Tak lama kemudian mereka pun kembali dengan membawa buku-buku yang baru saja mereka pinjam dari perpustakaan. Maklum, hari minggu begini takut nggak kebagian pinjaman buku, karena pengunjung perpustakaan pada hari Minggu bisa mencapai 2000 orang. Seperti yang sudah diketahui, para warga Malang adalah kutu buku dan hobi surfing di internet. Akibat ada kasus skandal razia beberapa warnet di kota Malang yang sempat tidak mempunyai software lisensi microsoft berakibat banyak juga warnet yang tutup. Dan tentu saja hal ini menjadi begitu heboh, karena internet bagi sebagian besar warga Malang adalah jantung kehidupan. Banyak para guru dan dosen pengajar di Malang yang selalu tergantung pada komunikasi internet untuk mencari bahan kuliah, para mahasiswa mengandalkan internet untuk mencari materi bahan kuliah, dan tentu saja para penulis FPKM sangat tergantung pada internet saat harus mengirimkan karya tulisnya ke penerbit maupun redaksi majalah dan koran. Komunikasi internet juga menjadi satu-satunya jalur penghubung antara komunitas penulis FPKM di Malang dan komunitas-komunitas penulis lainnya di tanah air dan di luar negeri. Jadi kalau ada gangguan dengan ditutupnya beberapa warnet yang bermasalah jelas ini membikin sebagian besar dari warga Malang menjadi heboh dan marah-marah. Komunikasi internet begitu penting di era milenium ini karena internet merupakan satu-satunya jalur komunikasi termurah yang bisa menghubungkan kita dengan dunia luar khususnya di tingkat internasional. Pembicaraan seputar internet ini sempat menjadi topik hangat pembicaraan pada pertemuan hari Minggu di sekretariat FPKM. Banyak yang mengeluh karena aktivitasnya jadi terganggu akibat banyak warnet yang ditutup dan tidak beroperasi. Banyak diantara anggota FPKM yang saling bertukar informasi mengenai warnet mana saja yang masih buka dan yang tergolong kecepatan tinggi. Soalnya kita-kita di Malang yang terbiasa dengan internet kecepatan tinggi terus terang kecewa bila menjumpai ada warnet yang kecepatannya lemot (menurut ukuran orang Malang). Biasanya kita menggunakan warnet yang berkecepatan minimal 100 MBPS. Jadi kalau kurang dari itu ya pasti ada komplain.
Satu demi satu anggota FPKm datang dan pergi. Ike hari ini datang sekalian pamit akan berangkat ke Bali sehubungan dengan pekerjaannya. Jangan lupa sama kita-kita ya…dan terus berkarya. Sebelumnya Tamrin sudah pulang kampung ke Sumbawa. Entah esok hari siapa lagi yang akan pergi. Padahal kita sudah mulai kompak dan menemukan jati diri.
Di dalam ruangan ada Mas Haryo, Mas David, aku (Vita Priyambada), Olen (Carolina Neolen) dan Wulan. Awalnya pembicaraan berkutat seputar masalah mencari pacar. Kata Mas Haryo, buka aja situs-situs perjodohan di internet. Pembicaraan berlanjut ke buku Gajah Mada yang ditulis Langit Kresna Hadi. Setelah dirunut, kata ketua, penulisnya masih punya hubungan saudara dengannya (Mas David). “Namanya bagus ya…Langit,” kata Mas David. Lalu Wulan berkata,”Kelak anakku kuberi nama Lintang Kemukus.” David, ketua FPKM pun menyahut,”Aku sudah punya calon nama Kemukus untuk anakku, kok.” (Padahal mereka berdua tuh, punya pacar aja belum, kok sudah mikirin kalau nanti punya anak mau diberi nama apa, dasar King of Wishfull Thinking !) Aku (Vita) menengahi, “Dijodohkan saja !” Olen tanya,”Panggilannya apa ? Kukus ?” Tapi Wulan katanya nggak mau kalau anaknya dijodohkan dengan anaknya Mas David. Katanya,”Ntar anaknya jadi hancur. (penghinaan nih..). Kalau Mas Haryo punya anak kira-kira namanya nggak jauh-jauh dari nama software & perangkat IT. Mungkin Linuxia, Printeria, dan sejenisnya. Kalau sudah pikiran gila muncul di antara para anggota FPKM, jadinya ya seperti ini, artinya semua sedang “kumat”. Mungkin perlu diantar ke RSJ Lawang…he..he..he.. Mungkin dari kegilaan sesaat itu bisa menginspirasi sebuah karya…Semoga…
Acara ngobrol dan diskusi berlangsung hingga sekitar pukul dua siang, dan setelah itu masing-masing berkemas untuk pulang. Perpustakaan mulai ramai karena sudah didesain untuk kegiatan pameran buku Islam pada tanggal 1 Juni 2007 yang rencananya akan berlangsung hingga seminggu penuh.

2 Juni 2007, Sabtu
Pameran buku Islam yang digelar di pelataran parkir gedung perpustakaan kota Malang dan anjungan seni Ken Arok ramai dipadati pengunjung. Walau ramai dan hiruk pikuk, kantor sekretariat FPKM tetap buka seperti biasa. Beberapa anggota yang kecapekan setelah sekian lama berkeliling muter-muter ngeliat-liat buku super murah di acara pameran, akhirnya punya kesempatan melepas penat dan lelah dengan mampir di kantor sekretariat. Ada yang ngopi file-file e-book dari hard disk komputer di kantor sekretariat dan ada juga yang asyik ngerumpi membahasa buku-buku bagus yang banyak dijual dan dipamerkan di pameran buku kali ini. Lama juga acara ngerumpi dan kumpul-kumpul diadakan di kantor sekretariat. Pada pukul satu siang, para anggota dan pengurus FPKM berbondong-bondong menuju ruang lobby gedung perpustakaan kota Malang, karena ada acara bedah buku dan dialog interaktif seputar dunia perbukuan dan kepenulisan. Seru banget. Beberapa hadirin yang hadir sempat mengerumuni Mas Haryo untuk menanyakan seputar situs kepenulisan FPKM dan link situs tutorial menulis serta milisnya FPKM. Wah, jadi semakin terkenal, nih ! Para anggota pun satu demi satu pulang saat acara selesai, masih ada beberapa yang tersisa mengikuti acara hingga sore hari (petang), termasuk Mas Haryo. Perjuangan gigih mengikuti bedah buku Islam ternyata tidak sia-sia karena Mas Haryo memenangkan door prize sebuah buku tebal bertema 35 sahabat wanita Rasulullah, Muhammad SAW. Padahal harga buku ini kalau beli lumayan mahal. Jadi penantiannya gak sia-sia.

3 Juni 2007, Minggu
Acara seminar kepenulisan di Gedung Kuliah Bersama Universitas Brawijaya yang diselenggarakan oleh Brawijaya Writing Club dan FPKM cukup meriah dan semarak oleh tanya jawab dan diskusi. Mbak Etty (Fiya Hentihu), Mbak Vita, Mas David dan Olen sempat menjadi pembicara dan berbagi pengalaman dengan para peserta seminar kepenulisan tersebut. Bahkan CD kompilasi FPKM yang sempat digelar dan dititipkan di panitia acara laris diserbu pembeli. Acara baru berakhir sore hari.
Ada makna damai dari langit, ketika rombongan kecil FPKM menerima undangan sebagai pembicara di Universitas Brawijaya Malang. Para sesepuh FPKM seperti Mas David, Mbak Vita dan Mbak Fia, menggenggam sebuah tugas untuk dibagi-bagikan kepada peserta Workshop. Memang,gagasan dari kelompok Writing Club program ilmu sosial sangat bagus. satu ide yang dapat diterima oleh teman-teman agar karya-karyanya dapat diapresiasikan. untuk acara awal memang ada sedikit kemunduran jadwal. tapi hal itu tidak dijadikan dilema oleh ketiga pemateri sebab pada akhirnya mereka mampu membawakan argumen-argumen penting seputar dunia kepenulisan.
Start awal, meja pendaftaran masih dibuka. Peserta kebanyakan berasal dari teman-teman pelajar di kota Malang. Tumpukan map serta beberapa atribut menulis dan materi workshop ada di dalamnya. Jajaran kursi yang sudah disusun panitia satu persatu terisi dan acarapun digelar.
Perkenalan antar teman sebagai ungkapan “tak kenal maka tak sayang”, dimaksudkan pembawa acara agar kegiatan workshop dapat berjalan dengan baik. satu metode yang kemudian membuat satu persatu dari mereka mulai meleburkan diri.
Ketiga sesepuh memasuki tempat praktek yang sudah disiapkan. dilanjutkan dengan antusias peserta yang terlihat seperti muka apik untuk menonjolkan ekspresi mereka. Tawaran pertama datang dari pernyataan mbak Fia (Etty). paparannya berupa trik-trik kepenulisan cerita pendek. ada sekitar tigapuluhan menit argument itu diulas sehingga memunculkan pertanyaan dari peserta workshop. Tahap selanjutnya, muncul dari pemateri nyentrik yang akhirnya banyak menuai kritikan dari beberapa peserta. Dandanan seorang seniman menjadikan otak mereka terpengaruh “apa iya nantinya aku akan seperti ini kalau jadi penulis nantinya?” mungkin itu yang ada di benak mereka. pesan saya untuk mbak Vita, jangan kecil hati bersemangat dengan ekspresi yang ada. itu hanya anggapan teman-teman yang takut pada simbol “kegilaan”(Bukan menganggap area ini sebagai curahan hati). Kronologi gaya tidak dianggap sebagai suatu singgungan oleh Mbak Vita dan bahkan semangat untuk memamerkan info dimuntahkan semua kepada para peserta. Pendekatan yang dilakukan seperti faktor-faktor teknis tentang kepenulisan dimedia massa. Next, sesepuh terakhir adalah seorang motivator. Mas David mendiskripsikan tentang cerita unik seorang buta dalam pembukaan materinya. Praktek itu membuka sebuah susunan kalimat yang membuat para peserta mengerti lebih jauh tentang arti dunia kepenulisan. Singgungan ke arah motivasi, dinyatakan agar teman-teman juga memiliki jiwa-jiwa intelektual. Pause!!! acara istirahat dilalui dengan acara isoma dan menjalankan ibadah bagi teman-teman yang berkepentingan Smile Acara Workshop diakhiri dengan memperlihatkan kreatifitas mereka. salam untuk teman-teman dari Writing Club semoga apa yang diinginkan tercapai.
Sementara itu, di waktu yang sama, di Perpustakaan Kota Malang, ramai dipadati pengunjung pameran buku yang ingin mengikuti bedah buku “Naga Bonar 2″ karya Mas Akmal Nasery Basral. Buku novel fenomenal ini berhasil difilmkan ke layar lebar berkat kerja sama Mas Akmal dan aktor kawakan Dedy Mizwar. Antusiasme penonton tidak diragukan lagi, diskusi berlangsung semarak. Tampak Mas Wawan Eko Yulianto, Mas Sidik Nugroho yang juga anggota FPKM turut hadir. Kebetulan Mas Wawan terlibat juga dalam proyek buku Mas Akmal yang masih dalam penggarapan. Kalau nggak salah kebagian bagian menterjemahkan, seperti diketahui bahwa Mas Wawan adalah seorang penterjemah buku, yang sempat menjadi salah satu penterjemah buku-buku terbitan Gramedia dan beberapa penerbit buku lainnya.
Aku (Haryo) datang saat acara sudah hampir selesai. Habisnya, ada perubahan acara sehingga banyak yang tidak mengira bahwa acara bedah novel itu akan dilaksanakan lebih awal (pagi). Wah, kecewa deh, banyak yang kecele datang terlambat saat acara sudah hampir selesai. Tapi ternyata kekecewaan itu tidak lama, karena Mas Sidik dan Mas Wawan mau berbaik hati mengenalkan aku (Haryo) dengan Mas Akmal yang rupanya sudah cukup akrab dengan mereka berdua di dunia maya. Rombongan Mas Akmal yang ramah ternyata tidak sendirian, ternyata ada juga tamu FPKM yang tak kalah ngetop, yaitu Mbak Mila D, seorang penyair yang kebetulan lagi cuti berlibur ke Indonesia. Selama ini beliaunya bekerja di sebuah resort di Maldives (Maladewa) sebuah negara kepulauan dekat Srilangka. Wah rame deh. Sempat ketemu sejenak, Mbak Mila buru-buru pulang (kebetulan Mbak Mila orang tuanya berdomisili di Malang). Nanti malam ketemu lagi, katanya. Ternyata Mas Akmal mengundang aku (Haryo) dan Mas Sidik Nugroho untuk ngobrol-ngobrol di hotel Santika tempat beliau menginap. Wah, akhirnya kami pun ngobrol panjang lebar seputar dunia kepenulisan. Mas Akmal banyak bercerita tentang novel-novelnya, buku kumpulan cerpennya, dan cerpennya yang fenomenal dengan tokoh utama Jems Boyons. Bahkan Mbak Mila sempat mengusulkan agar cerpen itu dibuat versi panjangnya menjadi novel komedi. Mas Akmal juga berbagi tips mengenai “SELF RESPECT” sebagai seorang penulis dalam menghargai karya sendiri dan tips bernegosiasi dengan penerbit. Tak ketinggalan pula beberapa e-mail contact person yang cukup penting sehubungan dengan dunia kepenulisan, perbukuan dan perfilman. Aku (Haryo) bahkan sempat diberikan alamat e-mail pribadinya aktor kawakan dan sutradara yaitu Dedy Mizwar. Katanya kalau mau menawarkan naskah ide cerita atau naskah skenario sinetron dan film bisa coba menawarkannya lewat e-mail ke Pak Dedy Mizwar, aktor yang punya gawe dan peranan cukup penting dalam film “Naga Bonar 2″. Kami bertiga makan siang (sebetulnya makan sore karena hari sudah sore, sekitar pukul setengah empat sore) di sebuah depot lesehan dekat hotel. Obrolan pun berlanjut kembali. Tak terasa sudah pukul setengah lima sore. Sebelum kembali ke hotel Mas Akmal berkata bahwa ia ingin mengundang teman-teman FPKM untuk ngobrol bareng di lobby hotel dan juga jalan-jalan ke kota Batu sambil makan-makan. Tentu saja undangan ini langsung disambut dengan semarak oleh aku (Haryo) dan Mas Sidik. Aku langsung buru-buru pamit pulang untuk menghubungi teman-teman FPKM yang lain lewat telepon (buku telepon teman-teman ketinggalan di rumah). Sampai di rumah pukul lima sore, aku langsung telpon teman-teman FPKM yang bisa hadir malam nanti untuk acara ngobrol bareng di lobby hotel Santika. Ternyata banyak juga yang mau ikutan. Catat aja, mulai Olen (Carolina Neolen), Mas David, Mbak Vita, Mbak Etty, Luhur, Upi (Lutfi Fadila). Yang lain kayaknya nggak bisa datang atau nomor mereka lagi nggak bisa dihubungi. Akhirnya semua ngumpul di lobby hotel Santika jam enam tet petang. Kami langsung naik ke lantai dua, kamar nomor 220 tempat Mas Akmal menginap. Nggak berapa lama Mbak Mila D, datang. Mas Sidik sudah lebih dulu datang pertama kali dan sudah ngobrol sambil nonton film dengan Mas Akmal. Rombongan yang terakhir datang adalah Mas Wawan dan temannya. Kami semua berfoto-fotoan sambil mengobrol selama beberapa saat sebelum akhirnya berangkat menuju kota Batu untuk makan malam sambil melihat pemandangan indah di ketinggian. Obrolan pun berlanjut seputar dunia kepenulisan, lika-liku penulisan novel dan banyak lagi. Acara foto-fotoan pun kembali digelar setelah makan malam di sebuah warung lesehan. Mas Wawan dan Mas Sidik serta aku (Haryo) paling sering nanya-nanya seputar dunia kepenulisan pada Mas Akmal yang sudah banyak pengalaman sebagai wartawan dan juga penulis. Banyak juga ilmu yang diperoleh dari beliaunya. Wah seru pokoknya. Tak terasa hari sudah malam sekitar pukul setengah sepuluh malam, dan kami pun harus pulang. Mobil yang disopiri oleh Mas Sidik Nugroho pun meluncur menuju kota Malang. Di tengah-tengah perjalanan, hand phone milik Mbak Etty (Mbak Fiya) berdering, ternyata berita kedatangan Mbak Mila ke Indonesia sudah sampai terdengar hingga ke Samarinda. Salah seorang penggemar Mbak Mila dari Samarinda yang juga teman Mbak Etty di dunia maya menelepon penasaran tak percaya bahwa Mbak Etty lagi duduk semobil dengan Mbak Mila dan Mas Akmal. Seperti diketahui Mbak Mila dan Mas Akmal termasuk aktif dalam berdikusi di dunia maya, karena mereka berdua adalah anggota dari milis Apresiasi Sastra. Akhirnya obrolan panjang di telepon cukup ramai dan semarak. Sesekali teman-teman FPKM ikutan nimbrung mengomentari orang-orang yang lagi sibuk ngerumpi di telepon itu. Acara guyonan dan ngobrol kembali berlanjut di mobil selama dalam perjalanan pulang menuju Malang. Akhirnya kami pun harus berpisah setelah sampai kembali di hotel Santika. Hari ini adalah hari yang sangat padat dengan acara dan cukup berkesan buat sebagian besar anggota dan pengurus FPKM.

9 Juni 2007, Sabtu
Pak ketua ngoprak-oprak anggotanya. Wah …gimana sih. Giliran dia yang semangat, anggotanya jadi korban. Giliran anggotanya semangat, dia melempem. Siang ini bikin lampu-lampuan dari botol-botol kratingdaeng dan sejenisnya. Tutupnya dibolongi dengan palu dan paku, lalu dipasangi sumbu. Mas Chris, Feri, Santi, Mbak Fiya, Olen, aku (Vita), Pak ketua yang jadi tukang bolongi,…semua sibuk. Mas Haryo dan Luhur muncul. Mas Sidik muncul. Mas Andik ngeprint formulir sayembara menulis cerpen dan cerber majalah Femina.
Capek semua, ngobrol ngalor ngidul. Kumat semua! Aku (vita) tiduran di atas gelaran karpet merahnya FPKM. Mas David juga di ujung sebelah sana. Nama FPKM jadi forum penidur. Memang sudah kebiasaan orang-orang sini kalau ngantuk langsung ngambil tempat di pojokan ruangan langsung tidur pules. Bahkan pernah ada yang ngorok keras sekali. Kalau ada yang pungut botol-botol untuk bikin lampu-lampuan, jadi forum pemulung. Wah, julukannya banyak banget tergantung situasi dan kondisi. Nah, satu hal yang perlu diwaspadai. Orang-orang di dalamnya (yang sebagian mengaku berjiwa seni) gak ada yang pikirannya genap, hi.. Penyakit menular. Orang waras bisa ketularan jadi ga waras. Maklum kelakuannya seniman kan aneh-aneh dan cenderung seenaknya. Orang yang awalnya pendiam dan kalem keluar dari FPKM jadi hancur-hancuran. Malu-maluin! Soalnya keluaran RSJ (ha..ha..ha..guyon !) Emangnya orang gila tidak bisa berkarya? Sangat bisa! Contohnya Dr. W.C. Minor, seorang pensiunan dokter tentara Amerika yang kemudian menjadi pembunuh dan dipenjara di RSJ di Inggris. Dialah yang banyak memberi sumbangan lebih dari 10.000 kata dalam penyusunan kamus Oxford English Dictionary. Ngomong-ngomong soal acara kumpul-kumpulnya FPKM, eh si Puput (Gusti Aisyah Putri) dan Adin (Mohammad Abdin) datang paling belakang.

10 Juni 2007, Minggu
Mbak Mila Duchlun, seorang penyair dan penulis buku antologi puisi Perempuan Bersayap datang ke kantor sekretariat FPKM dan ngobrol-ngobrol sedikit dengan kita-kita. Pertanyaan-pertanyaan penting disimpan untuk hari kamis (bedah buku Mila Duchlun di toko buku Toga Mas). Tiba-tiba ada paket TIKI JNE, artikel yang ditulis Mas Haryo tentang komunitas penulis FPKM dimuat di majalah MATABACA edisi Juni 2007 terbitan Gramedia. Semua anggota heboh rame-rame membaca artikel dan majalah tersebut. Wah, FPKM jadi tambah ngetop aja, dan lebih dikenal di jagat kepenulisan tanah air.

11 Juni 2007, Senin
Tiba-tiba aku (Vita) dijemput Olen (Carolina Neolen) ngajak keliling sebar brosur bedah puisi ke sekolah dan kampus. Selesai itu ke perpustakaan. Eh, balik lagi beli mangkok di sekitar pasar besar. Balik lagi ke perpustakaan lihat Pak Azis dan ketua FPKM buat oncor dari bambu sampe sore.

14 Juni 2007, Kamis
Acara bedah buku karya penyair muda berbakat, Mila Duchlun, dengan buku kumpulan puisinya yang berjudul PEREMPUAN BERSAYAP, berlangsung dengan semarak di Toko Buku Toga Mas - Malang, Jawa Timur, pada hari Kamis, 14 Juni 2007. Acara bedah buku ini terselenggara berkat kerjasama Mila Duchlun dengan Forum Penulis Kota Malang (FPKM) - sebuah komunitas penulis di kota Malang serta Toko Buku Toga Mas di Malang. Bertempat di lantai tiga ruang audio visual Toko Buku Toga Mas, acara bedah buku ini dihadiri oleh puluhan pecinta buku, seniman, pengajar, penulis, pelajar dan mahasiswa di kota Malang. Beberapa penyair asal kota Malang, seperti Abdul Mukhid dan penyair-penyair kota Malang sempat membacakan beberapa puisi yang ada dalam buku kumpulan puisi Mila Duchlun tersebut. Puisi-puisi Mila yang lugas, polos,serta ekspresif mengangkat isu-isu seputar gender, kisah hidup seorang wanita Indonesia, dan juga rasa nasionalisme para generasi muda Indonesia. Puisi yang berjudul “Bendera” bahkan ditulis Mila di kedalaman samudera Hindia, 17 meter di bawah permukaan laut dengan menggunakan peralatan tulis khusus, sambil mengibarkan Sang Saka Merah Putih. Buku antologi puisi setebal 83 halaman dengan ilustrasi gambar sosok perempuan yang mempunyai sepasang sayap ini rupanya ingin menggambarkan sosok wanita Indonesia yang selalu ingin terbang meraih mimpi dan cita-citanya.
Suatu sore yang cerah pada hari Kamis tanggal 14 Juni 2007 di kota Malang diadakan acara bedah buku kumpulan puisi Mbak Mila Duchlun yang berjudul “PEREMPUAN BERSAYAP”. Acara bedah buku ini terselenggara berkat kerjasama antara Forum Penulis Kota Malang (FPKM) - sebuah komunitas penulis di kota Malang dengan toko buku TOGA MAS. Bertempat di lantai tiga ruang audio visual toko buku TOGA MAS, acara bedah buku ini berjalan semarak dan cukup meriah. Sudah sejak pukul setengah tiga sore, panitia menyiapkan segala sesuatunya, mulai dari konsumsi dan minuman untuk para pengunjung acara bedah buku ini. Sang penulis buku sendiri, Mbak Mila Duchlun sudah datang sejak pukul setengah tiga sore bersamaan dengan kedatangan panitia (yang merupakan pengurus dan anggota Forum Penulis Kota Malang).
Bagi yang belum mengenal sosok Mbak Mila Duchlun, mungkin wajar-wajar saja, karena penulis dan penyair yang satu ini selama ini memang bermukim di luar negeri (Maldives ; sebuah negara kepulauan kecil di Samudera Hindia, berdekatan dengan Srilangka). Mbak Mila sendiri adalah warga negara Indonesia asli Malang yang lama tinggal di Riau, namun karena bekerja di sebuah resort internasional yang ada di salah satu pulau kecil di Maldives, satu-satunya kontak yang bisa dilakukan dengan sesama seniman, penulis dan penyair Indonesia hanyalah melalui e-mail dan mailing list di internet. Kebetulan Mbak Mila adalah salah satu cucu dari para pahlawan nasional “Hamid Rusdi” yang asli warga Malang (Jawa Timur). Maka untuk mengenang almarhum sang kakek, dalam buku “PEREMPUAN BERSAYAP” ini terdapat sebuah puisi yang ditulis untuk mengenang sang kakek, “Hamid Rusdi” sebagai seorang pejuang dan pahlawan Indonesia.
Buku kumpulan puisi “PEREMPUAN BERSAYAP” benar-benar mengupas tuntas sisi kejujuran jiwa seorang perempuan, suka duka menjadi seorang perempuan, semangat nasionalisme yang berkobar-kobar, kritik sosial mengenai keadaan negeri ini, hingga beberapa isu seputar gender atau emansipasi, dan segala hal pernak-pernik kehidupan perempuan Indonesia berikut gambaran lingkungan alam Indonesia yang semua digambarkan dalam bentuk kata-kata indah yang terangkai cantik dalam puisi-puisi yang tertulis dalam buku ini. Dengan gambar sampul seorang wanita yang memiliki sayap, tampaknya sang penulis ingin menumpahkan segala impiannya agar suatu ketika para perempuan/wanita Indonesia bisa terbang menggapai impiannya. Gambar wanita dengan sepasang sayap pada sampul buku puisi ini sebenarnya memiliki juga sebuah cerita unik. Mbak Mila yang sejak kecil sangat menyukai keindahan, di masa kanak-kanaknya pernah bermimpi ingin menjadi seorang bidadari (“Angel”), dan tampaknya kenangan masa kecil itulah yang mengilhami judul buku kumpulan puisinya, “PEREMPUAN BERSAYAP”.
Semangat nasionalismenya sebagai seorang anak bangsa, digambarkan oleh penyair yang satu ini dalam puisinya yang berjudul “Bendera” yang proses penulisan puisi ini cukup fenomenal untuk diikuti. Bayangkan saja, si penulis, yaitu Mbak Mila, benar-benar menuliskan puisi ini di kedalaman 17 meter di Samudera Hindia dengan menggunakan peralatan selam, alat tulis tahan air, dan semacam papan tulis yang khusus digunakan untuk menulis dalam air. Benar-benar semangat seorang wanita Indonesia yang gigih dan pantang menyerah! Beberapa puisinya yang lain yang juga bertema semangat nasionalisme, antara lain Aku Kereta Tempo Dulu, Baret Ungu, Syair Negeri Elok Rintihnya Terseok, dan Dari Tengah Hutan Papua.
Puisi-puisi yang tertulis dalam buku kumpulan puisi “PEREMPUAN BERSAYAP” merupakan puisi-puisi yang ekspresif dengan inspirasi alam Indonesia. Penggambaran mengenai langit, tanah, matahari, api, sepi, pantai, samudera, hujan, dan cinta begitu mengalir dan merasuk ke dalam jiwa para pembacanya. Puisi yang mengalir polos, naif dan sedikit sentimental. Gaya bahasa yang lugas namun cantik sering digunakan untuk menumpahkan segala emosi dan ekspresi jiwa dari penulisnya.
Dengan bantuan seorang rekan yang berada di Bali, Wayan, yang sangat membantu mulai dari desain kover, hingga pencetakan buku ini di Bali, buku ini cukup menarik untuk dibaca karena mencoba mengetengahkan suatu yang lain mengenai cara pandang seorang wanita dalam memandang dirinya sebagai sosok wanita Indonesia dan wawasannya mengenai dunia. Pembuatan buku ini cukup menarik untuk diikuti karena semuanya berjalan hanya melalui kontak pos elektronik (e-mail), pesan singkat sms, dan chatting di internet antara Mbak Mila dan rekannya yang berada di Bali (Wayan). Berkat jasa Mas Wayan inilah, akhirnya buku puisi indie yang diterbitkan sendiri oleh penulisnya dengan mengusung nama penerbit Qhumaira Production akhirnya bisa mendapat sambutan yang baik di kalangan sastrawan dan penyair Indonesia.
Acara bedah buku kumpulan puisi “PEREMPUAN BERSAYAP” dimulai sekitar pukul setengah empat sore dan dipenuhi oleh para pengunjung yang sebagian merupakan seniman, penulis, pecinta seni, penyair, masyarakat umum dan wartawan. Sebagian besar dari para pengunjung memang merupakan anggota komunitas penulis “Forum Penulis Kota Malang”, biasa disingkat menjadi FPKM, (http://komunitaspenulisfpkm.tripod.com & http://klipingfpkm.multiply.com), dan sebagian yang lain adalah berasal dari masyarakat umum (pelajar, mahasiswa dan wartawan). Para anggota dan pengurus Forum Penulis Kota Malang yang hadir dalam acara bedah buku ini antara lain, David Ardy (Ketua FPKM dan juga penulis puisi), Haryo Bagus Handoko (penulis fiksi dan juga sekaligus webmaster situs FPKM), Carolina Neolen (Departemen Informasi dan Dokumentasi FPKM), Vita Priyambada (Departemen LitBang FPKM ; juga seorang penulis serta pengurus komunitas filateli kota Malang), Chris dan Andik Darmawanto (Departemen Informasi dan Dokumentasi FPKM), Wawan Eko Yulianto (penterjemah buku, web content translator untuk Universitas Brawijaya Malang, dan juga anggota FPKM), Sidik Nugroho (pengajar/guru, pengamat sastra, kritikus seni, penulis dan pecinta buku, juga anggota FPKM), Sriwulaningsih (wartawan Koran Pendidikan dan juga pengurus FPKM), Wahyu Indah Retnowati (wartawan lepas dan script writer penerbit QultumMedia, juga anggota FPKM), Lutfi Fadila (penulis resensi buku dan juga anggota FPKM), serta masih banyak lagi yang lain yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Sebagai moderator acara adalah Mbak Etty Hentihu (pengurus FPKM yang juga penulis novel teenlit). Tak ketinggalan, tampak pula beberapa penyair senior kota Malang, seperti Mas Abdul Mukhid dan teman-temannya yang tampak antusias mengikuti jalannya acara. Bahkan Mas Abdul Mukhid sempat membacakan beberapa puisi yang tertulis dalam buku kumpulan puisi ini.
Di akhir acara sempat diadakan kuis dan lomba dengan hadiah buku kumpulan puisi “PEREMPUAN BERSAYAP” ini. Bahkan sampai acara selesai pun, beberapa dari pengunjung sempat mengantre untuk memperoleh tanda tangan maupun kesan dan pesan dari Mbak Mila untuk dituliskan dalam buku kumpulan puisinya. Beberapa dari pengunjung bahkan ada yang membawa handycam untuk mengabadikan jalannya acara bedah puisi ini, sementara yang membawa kamera tak terhitung banyaknya. Acara bedah buku puisi ini baru benar-benar berakhir saat Adzan Maghrib terdengar, dan satu demi satu para pengunjung dan antusias seni pun pulang ke rumah masing-masing. Mbak Mila sendiri pun pulang ke rumah orang tuanya di daerah Blimbing (Sumpil), kota Malang, setelah beramah tamah sejenak dengan panitia yang sebagian besar merupakan pengurus Forum Penulis Kota Malang. Acara ini cukup meriah sama meriahnya saat acara bedah buku novel Andrea Hirata dan bedah buku novel Lan Fang yang sempat juga diselenggarakan oleh Forum Penulis Kota Malang beberapa bulan yang lalu. Salut untuk Mbak Mila, maju terus untuk menghasilkan karya-karya demi harumnya nama Indonesia di jagat sastra! Mbak Mila Duchlun bisa dihubungi di blog pribadinya di internet yaitu di :
http://perempuan-bersayap.blogspot.com

16 Juni 2007, Sabtu
Pameran buku bertema Islam kembali digelar di kota Malang. Kali ini diselenggarakan oleh Pengurus Daerah Muhammadiyah kota Malang. Bertempat di pelataran parkir gedung PDM (Pengurus Daerah Muhammadiyah) Jl. Gajayana – Malang, pameran buku bertema Islam ini berlangsung pada 15 Juni hingga 17 Juni 2007, dengan diikuti oleh toko-toko buku Islam di kota Malang, Penerbit Agromedia group, toko buku rabat “Yusuf Agency” dengan potongan harganya yang fenomenal, serta penerbit-penerbit lainnya, seperti Penerbit Pena yang sempat mengadakan bedah buku “Khadijah The True Love Story of Muhammad”. Tak ketinggalan dalam pameran buku ini juga dimeriahkan oleh berbagai lomba untuk anak-anak seperti lomba baca puisi, lomba menulis dan berbagai kegiatan menarik lainnya. Diskon besar-besaran pun digelar. Mbak Fiya bahkan berhasil membeli edisi terbaru majalah “Ummi” terbitan Ummigroup hanya dengan harga Rp 3000,-, padahal harga normalnya biasanya lebih dari nominal tersebut.
Acara ini cukup sukses digelar terbukti oleh jumlah pengunjung yang cukup membludak.

21 Juni 2007, Kamis
FPKM mendapat kiriman sumbangan buku dari penerbit Al-Kautsar, sebuah penerbit buku-buku bernuansa Islami. Jumlah buku yang disumbangkan ke FPKM tidak tanggung-tanggung, 10 buah buku yang tebal-tebal dan dialamatkan ke alamatnya Mas Haryo (Departemen Informasi dan Dokumentasi). Segera saja Mas Haryo menelepon teman-teman untuk memberitahukan kabar gembira ini.
Teman-teman bahkan sudah ada yang inden buku untuk dipinjam (kayak inden mau beli mobil saja), padahal buku-buku tersebut rencananya baru mau dibawa ke kantor sekretariat pada hari Sabtu, tapi antusiasme sudah begitu menyebar ke teman-teman yang tergolong kutu buku berat. Walau bertema Islami, namun teman-teman yang kebetulan beragama non Islam ternyata juga sangat antusias untuk ikutan beramai-ramai membaca buku sumbangan tersebut. Namanya ilmu dan pengetahuan kan nggak ada salahnya untuk dipelajari dan dibaca-baca. Tidak ada ilmu yang sia-sia. Betul kan?

23 Juni 2007, Sabtu
Mas Haryo datang dengan setumpuk buku sumbangan yang sudah dijanjikan untuk dibawa. Buku-buku itu langsung diserbu teman-teman FPKM untuk dibaca-baca. Alhasil, ruang sekretariat langsung sunyi senyap kayak kuburan, karena semua pada asyik baca-baca buku. Mas Haryo, Mbak Vita dan Olen sibuk gotong-royong memindai (nye-scan) foto-foto kegiatan FPKM yang bejibun, plus aneka kertas berisi kesan dan pesan yang pernah ditulis dan ditanda tangani oleh para penulis ternama negeri ini. Sebut saja kesan dan pesan dari Ibu Neni Utami (penulis buku cerita anak terbitan Mizan yang asli Malang, walau tinggal di Bandung), Andrea Hirata (penulis novel), Lan Fang (penulis novel), Akmal Nasery Basral (penulis novel) dan Mila Duchlun (penyair dan penulis buku antologi puisi). Wah banyak juga yang perlu discan.
Tak lama teman-teman lain berdatangan, Mas Andik dan Chris, lalu Adin, lalu Mbak Etty dan Lutfi. Semuanya antre mengcopy software download cepat untuk internet, tips-tips download, aneka e-book dan banyak arsip FPKM yang dicopy ramai-ramai. Adin muncul menawarkan video clipnya (yang berisi video demo grup band dia bersama kawan-kawannya yang rencananya mau dikirim ke MTV) untuk dicopy ke hard disk komputer FPKM. Rencananya sih video ini bakal diubah ke format WMV dan diupload ke situs video international di www.youtube.com tapi itu baru rencana. Mungkin kalau sudah diupload link-nya bakal tampil di situsnya FPKM supaya bisa ditonton banyak orang.
Wah anggota FPKM kreatif juga ya. Wis yang penting berkreasi baik di dunia tulis menulis maupun di semua bidang dunia seni. Ya nggak? Si Lutfi rebutan sama Mas Haryo mau make komputer. Mas Haryo yang sedang asyik memindai foto dan arsip FPKM ternyata lama banget nggak selesai-selesai, akhirnya diputuskan Si Upi (Lutfi) baru mau memakai komputer tersebut keesokan harinya (hari Minggu) guna mengedit naskah-naskah cerpen yang masuk yang rencananya bakal dikumpulkan dalam buku antologi cerpen FPKM.

24 Juni 2007, Minggu
Di markas besar FPKM hari ini kok sepi banget ya. Mbak Dewi, aku, Olen dan Upi. Di lobi ada diskusi tentang seni. Upi dan Mbak Dewi yang hadir, lalu Olen dan aku (Vita) nyusul. Daripada bengong di markas, mending tambah pengetahuan tentang seni. Ambil camilan kripik pisang, kripik singkong, dan 2 camilan lain yang gak tahu namanya. Pokoknya makan camilan. Eh, Upi ngacir dulu ke kantor mau edit proyek cerpen. Hebatnya, diskusi ini ada rehat makan siang. Anugerah! Biasanya gak pernah tuh pake makan. Menunya mie ayam. Nyam..nyam..lezatnya! Olen malah kabur ga mau makan. Akhirnya hanya Mbak Dewi dan aku.
Selesai diskusi, kita jalan kaki ke Toga Mas. Bedah buku Adam ternyata dilahirkan karya Agus Mustofa. Di sini ada tragedi sandal jepit hilang. Sebelumnya aku sudah punya firasat gak enak dengan sandal jepitku. Lha kok, kekhawatiran menjadi kenyataan. Tapi ada dapat 2 buku door prize lho..
Malam harinya ada acara pertemuan dua komunitas penulis, FPKM dan Forum Pelangi yang diselenggarakan di kediaman penulis novel kenamaan Ratna Indraswari Ibrahim, di Jalan Diponegoro 3 Malang, acara ini berjalan cukup semarak dengan mengambil tema “Pencitraan Media”. Pertemuan dan diskusi ini dimulai sekitar pukul tujuh malam. Diskusi seru pun terjadi. Masing-masing peserta diskusi mengajukan argumen dan pendapatnya mengenai citra media nasional dewasa ini dalam hal mendidik dan mencerdaskan bangsa. Para peserta datang dari berbagai latar belakang, mulai mahasiswa, pers kampus, komunitas sastra, pecinta buku, wartawan surat kabar Surya, seniman hingga para penulis novel dan penulis artikel. Acara berlangsung hingga larut malam karena diskusi yang mengasyikkan ini mengundang antusiasme dari para peserta. Bahkan saat acara selesai pun, masih banyak dari para peserta ngobrol dan saling bertukar wawasan. Acara baru benar-benar diakhiri sekitar pukul sebelas malam setelah sebelumnya semua peserta saling berfoto bersama dengan Mbak Ratna Indraswari Ibrahim.

30 Juni 2007, Sabtu
Aku (Vita) ngantor pukul 9.30 WIB. Sendirian lamaa banget sampe Mas Andik datang menemani. Lalu Mas Kris. Nurul, Alam, Leo, ngumpul. Upi aja datang sudah pukul..hm..kalo gak salah hampir pukul 14.00 WIB. Nurul, Alam dan Leo diskusi di kantor sampai lewat pukul 17.00 WIB. Maaf..maaf…harus kuusir karena sudah sore. Aku dah dijemput Olen.

1 Juli 2007, Minggu
Berangkat dari rumah Olen. Lubis sudah sms aku mau main-main ke FPKM. Kita bawa sedikit kue buat teman-teman. Akhirnya setelah ditunggu cukup lama Lubis, Mas Sidik dan Mas Wawan dan satu orang teman Lubis datang. O ya, Mas Kris sempat print beberapa judul cerpen. Mas Andik akhirnya datang juga ikutan nimbrung.

6 Juli 2007, Jumat
Malam ini ada peluncuran buku “Menanam & Merawat” karya Drs. Peni Suparto, M.AP - Walikota Malang. Hari ini acara semarak dengan diundangnya Forum Penulis Kota Malang ke acara bedah buku Pak Walikota Malang, Drs. Peni Suparto, M.AP yang bertempat di Studio Mahameru TV di lantai 3 Gedung Perpustakaan Kota Malang. Aku (Vita Priyambada) datang agak telat. Di ruang lobby perpustakaan sudah ada Mbak Ratna Indraswari, Mbak Etty, Wulan, Indah R, Indah Manis (Indah Ayu Wardhani), Mas Haryo, Nurul, buku Pak Walikota pun segera dibagikan secara gratis saat para undangan datang. Acara didahului dengan acara santap malam di lobby Gedung Perpustakaan Kota Malang (lantai 1) dan pembagian materi buku yang akan dibedah. Buku karya Pak Walikota Malang ini berjudul “Mari Menanam & Merawat”, sebuah panduan gerakan penghijauan bagi kawasan perkotaan. Yang jelas acara ini rame banget karena dihadiri oleh lebih dari 200 pengunjung, mulai dari para pejabat jajaran pemerintah Kotamadya Malang, hingga rektor-rektor universitas di Malang, seniman, penulis, wartawan media cetak dan elektronik dan tak ketinggalan tentu saja para anggota dan pengurus FPKM. Wah rugi kalo nggak datang. Makanannya enak-enak, plus dapat buku gratis lagi. Ratusan buku dibagikan secara gratis, tis. Juga kita semua sempat diliput oleh kru TV Mahameru dan sempat juga masuk siaran TV. Seru deh pokoknya!

7 Juli 2007, Sabtu
Jalan kaki dari rumah ke perpustakaan perlu waktu 30 menit. Sampai di perpustakaan pukul 8.40 WIB. Mas Haryo dan Mbak Etty sudah nongkrong di tangga teras. Pintu perpustakaan belum buka. Yang pegang kunci kantor belum datang. Hari ini tugas ngeprint cerpen dilanjutkan. Entah apa yang menjadi pembicaraan Olen, Mas Haryo, dan Mbak Etty. Masalah situs FPKM, cerpen-cerpen di kolomkita.com, dsb. Luhur datang. Yang mengejutkan…Mas Kris nongol. Wah, padahal udah kasih ucapan “good bye” di milis. Tapi gak pa-pa. Mbak Etty dan Olen keluar sebentar beli pilus, dan 2 macam cookies. Obrolan tambah rame. By the way, printernya rewel. Diutak-atik, pake didukunkan segala. Akhirnay print cerpen selesai. Upi tadi begitu datang langsung sapu-sapu. Mbak Etty ngantuk pulang duluan. Jadi sisa berenam. Ngobrol nggak ada juntrungannya mulai dari galaksi yang tabrakan, anak indigo, aura, jodoh, cinta, karir…malah sampai ilmu meramal. So…namanya berubah lagi jadi Forum Peramal Kota Malang. Mas Kris habis digojloki. Ha..ha..Upi ketawa sampai keluar air mata. Lagi pilek. Malah kita ditraktir mie pangsit. Padahal Upi (Lutfi) tadi pagi mau pulang ditahan Mas Kris. Akhirnya Upi nggak jadi pulang deh. Ini pertama kalinya Mas Kris tidak hidup dibatasi bel, di FPKM sampai kantor tutup. Horee….suit..suit..

8 Juli 2007, Minggu
Hari ini sepi banget. Yang datang cuma Mbak Etty, Mbak Lutfi, Olen, dan aku (Haryo). Mas David masih belum muncul. Mungkin masih di Banyuwangi, karena kabarnya Neneknya meninggal. Ada Liga Alam muncul agak siang sambil membawa aneka gadget-nya seperti biasa. Maklum pecinta alat elektronik. Yang biasa dibawa-bawa apa lagi kalo bukan HP kesayangannya, dan juga sebuah kamera multifungsi yang bisa digunakan untuk memutar musik dan film. Obrolan pun mengalir. Hanya kali ini nggak seseru waktu-waktu yang lalu. Teman-teman agaknya sedang dilanda virus malas. Ngobrol pun akhirnya nggak bergairah. Mbak Etty, dan Mbak Lutfi pulang duluan. Kemudian barulah yang lain menyusul ikutan pulang. Kali ini kegiatannya agak kurang greget. Mungkin teman-teman banyak yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Maklum sekarang kan tahun ajaran baru, dan banyak di antara teman-teman yang baru lulus SMA masih bingung mendaftar untuk persiapan kuliah. Sementara yang lain sibuk dengan aneka lomba menulis yang diumumkan di milis FPKM, yang tenggat waktu penutupannya sudah kelihatan di depan mata, sekitar akhir Juli. Makanya banyak yang absen hadir kali ini. Mungkin sibuk menulis untuk kemudian dikirimkan ke aneka lomba menulis tersebut. Semoga sukses dengan lomba-lomba yang diikuti, ya?

14 Juli 2007, Sabtu
Hari ini lumayan sepi, walau sudah agak rame daripada minggu lalu. Yang datang cuma Mas David, Olen, Luhur,aku (Haryo), Lubis (yang penasaran nyari-nyari Mbak vita yang sudah absen dua minggu ini), Lutfi, Leo, Adi Abas, Liga Alam, Nurul, Indah Ayu Wardhani, dan juga Muhammad Abdinal Akhda (Adin). Adin sudah lama sekali nggak muncul. Rupanya sibuk dengan komunitas bandnya. Maklum penggembira yang satu ini suka sekali berorganisasi, kayaknya hampir semua komunitas yang ada di Malang diikutinya, mulai dari komunitas pecinta budaya Jepang, komunitas band, komunitas pelukis, hingga komunitas ini (Forum Penulis Kota Malang). Si Adin juga masih kuliah (baru saja KKN), dan sibuk mengajar sebagai salah seorang guru seni rupa di sebuah SMA di Singosari. Kreatif juga ya, Mas yang satu ini. Obrolan dan rumpian pun berlangsung dengan kudapan seadanya. Seperti biasa selalu ada yang mengetik-ngetik di komputernya FPKM, sedang mengedit dan mencetak naskah untuk bahan buku antologi cerpen. Wah kelihatannya sibuk banget sampai mulutnya manyun plus monyong seperti itu. Kalau sedang sibuk, jangan sampai bermulut monyong kayak gitu dong, Mbak..he..he..

15 Juli 2007, Minggu
Versi Haryo:
Penguasa ruang arsip FPKM seperti biasa ya itu-itu saja yang datang. Lihat saja, kali ini yang muncul cuma Mas David, Olen, aku (Haryo), Lutfi, Liga Alam, Adi Abas, Leo, dan …Mbak Vita yang datang cuma untuk mengantar titipan gethuk pisang dan krupuk-krupuk oleh-oleh Mas Kris dari Kediri. Habis menaruh semua oleh-oleh itu di meja, Mbak Vita langsung ngacir lagi. Saat ditanya mau ke mana, yang bersangkutan cuma melambaikan tangan dan buruan pergi. Lagi sibuk opo toh, Mbak. Penggemarnya nyariin tuh (maksudnya Mas Lubis, yang bolak balik nanya ke mana Mbak Vita - Sang Diva ini kok sudah dua minggu nggak muncul..). Gethuk pisang langsung jadi rebutan, juga krupuk-krupuknya. Kabarnya Mas Kris sudah sampai di Jakarta hari ini untuk memulai karirnya di dunia penerbitan majalah. Sering-sering ngerumpi di milis ya, Mas. Luhur muncul di saat yang tepat. Langsung ambil bagian dalam pesta makan gethuk ini. Ada juga Leo dan Ferry yang tampak antusias dengan sepotong besar gethuk di tangan mereka yang kemudian dibelah dua. Aku (Haryo) juga ikutan sibuk membantu menghabiskan krupuk. Di saat terakhir, ternyata masih tersisa sebungkus besar gethuk pisang. Wis yang itu untuk Mas David saja, yang mbaurekso di FPKM. Itung-itung sesajen buat dia, he..he…Gethuknya dibawa pulang saja, Mas. Kalau nggak ada yang makan kan mubazir.. Tersisa juga satu bungkus krupuk (krupuk pasir), yang kemudian diumpetin di bawah tumpukan dus-dus bekas bungkus komputer di pojokan ruang. Moga-moga nggak ada yang nemu, biar bisa untuk dimakan minggu depan. Kasihaan deh lo..

Versi Vita:
Mas Kris titip aku oleh-oleh dari Kediri untuk teman-teman FPKM. Krupuk pasir dan gethuk pisang. Yaah…Mas Kris mau pergi ke Jakarta. Kapan kita ketemu darat lagi. Ketemu di dunia maya lewat milis FPKM aja deh. Selamat jalan Mas Kris..

21 Juli 2007, Sabtu
Versi Haryo:
Hih sepi banget kayak kuburan. Aku (Haryo) datang bersama Luhur tepat jam sebelas, dan di kantor baru ada Mas David, Mbak Etty (yang agak manyun karena teman-teman nggak juga ada yang datang), dan juga Mbak Lutfi yang kelihatan asyik ngobrol dengan Mas David membahasa buku antologi cerpen FPKM. Aku membawa kepingan DVD-RW berisi kompilasi lagu titipan Olen (eh, yang ditunggu malah nggak muncul). Segera saja lagu-lagu itu aku copy-kan ke dalam hard disk, barang kali ada yang mau..untuk ringtone HP, misalnya.. Leo datang agak siang. Ikutan ngerumpi. Wah rame banget, padahal yang ada di situ cuma segelintir orang, tapi ramenya kayak pasar. Mas David mengumumkan bahwa tanggal 26 Juli 2007 ada pameran budaya Jepang yang digelar di pelataran parkir dan juga bagian dalam gedung perpustakaan. Kayaknya bakal rame banget, soalnya ada pejabat dari konjen Jepang yang katanya mau hadir saat pembukaan pameran ini. Pameran berlangsung sekitar 3 hari. Wah, bakal rame nih minggu depan. Ikutan, ah..rugi kalo nggak ikut. Siapa tahu bakal ada pembagian yang gratis-gratis (komik, atau buku misalnya..). Wis, pokoke ikutan lah.. Si Mas David, pamit mau keluar njemput Jeng Olen dan ke rumahnya Mbak Ratna Indraswari (pasangan serasi ya..) dan baru balik sekitar satu jam kemudian (yang ternyata molor hingga sekitar tiga jam). Lutfi dan Mbak Etty ternyata baru saja balik dari Gramedia, beli bukunya Harry Potter yang sempat inden beberapa hari sebelumnya. Mahal banget, soalnya versi asli hard cover terbitan Inggris (sekitar dua ratus ribu lebih). Lutfi yang penasaran banget dengan isi ceritanya Harry Potter pun buruan balik pulang, mau baca buku itu saking penasarannya (maklum ini adalah edisi terakhir alias tamat). Mbak Etty, Luhur dan aku (Haryo) segera beranjak menuju ruang lobby perpustakaan, karena fasilitas internet gratisnya sudah bisa digunakan kembali (sempat vakum selama beberapa bulan lho). Lumayan browsing nyari-nyari info lomba menulis untuk dirangkum dan ditayangkan di milis. Saat sedang asyik browsing, tiba-tiba Mbak Vita muncul mengagetkan kita-kita. Mbak Etty cabut duluan dan bersama Mbak Vita menuju ruang kantornya FPKM. Takut kalau ada yang datang dan kecele, makanya ruang kantor segera dibuka kembali, setelah tadi sempat ditinggal untuk internetan. Habis capek internetan, aku (Haryo) dan Luhur segera bergegas menuju ruang kantor FPKM. Eh ternyata Mbak Etty berbaik hati mentraktir kita semangkok bakso. Lumayan. Katanya itu adalah sisa uang kembalian dari belanja buku hari ini. Mbak Etty belanja buku banyak banget di Gramedia sampek satu tas kresek besar. Maklum kutu buku.. selain profesinya sebagai penulis novel. Mbak Vita kemudian asyik dengan komputernya FPKM, mengetik naskah-naskah karya tulisnya. Naskahnya banyak banget, sampai bingung mana yang musti diketik lebih dulu. Sehabis diketik, rencananya naskah-naskah itu mau disebar ke berbagai media masa. Siapa tahu bisa dimuat. Tak lama kemudian, mas David dan Olen (Carolina Neolen) muncul sekitar jam satu siang dengan wajah sumringah, kemudian Ferry yang juga baru muncul dan segera ikutan nimbrung ngerumpi bersama kita-kita, tukar menukar alamat e-mail penerbit buku serta aneka info kepenulisan. Liga Alam yang baru saja datang, ikutan gabung juga. Mbak Etty pamitan pulang lebih dulu sekitar pukul setengah tiga sore. Yang lain masih bertahan dengan aneka obrolan santai yang semakin seru. Rumpian baru diakhiri sekitar pukul tiga sore. Nggak kerasa obrolan sudah berlangsung berjam-jam.

Versi Vita:
Di kantor hanya ada Luhur, Mas Haryo, Mbak Etty dan aku (Vita). Upi (Lutfi Fadila) sudah kabur lagi memburu Harry Potter seri terakhir. Hari ini edisi ketujuh buku Harry Potter terbitan Inggris (Bloomsbury) terbit, Upi sudah pesan (inden) buku itu jauh-jauh hari. Awas Pi, selesai baca Harry Potter jangan-jangan jadi penyihir alias “penulis penyihir”.
Mbak Etty sudah mau pulang ketika aku datang. Ya, aku kan jalan kaki dari alun-alun. Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang lewat. Eh, Mbak Etty yang baru saja internetan di ruang lobby perpustakaan gemetaran karena dari pagi belum ma’em. Tadi sempat jemput aku di rumah, tapi aku masih di warnet. Jadinya Mbak Etty beli bakso 4 mangkok di kantin, baksonya diantar ke kantor untuk dimakan rame-rame. Datang Pak Ketu dan Olen, tapi Olen hanya mampir doang. Selesai makan bakso, Mbak Etty katanya pengin pulang, tapi kenyataannya dianya nggak pulang-pulang sampek pukul setengah tiga sore. Jam tiga sore semua pada bubar, besok disambung lagi.

22 Juli 2007, Minggu
Versi Haryo:
Yang muncul hari ini cuma Olen (yang sibuk ngetik di Laptopnya Mas David), lalu Mbak Vita (juga kemudian ikutan sibuk mengetik di komputernya FPKM), lalu aku (Haryo), Luhur nyusul kemudian baru datang setelah agak siang, mampir sebentar dan langsung ngacir entah ke mana. Liga Alam datang lewat jam dua belas siang, mengeluh panjang lebar tentang hard disk laptopnya yang rusak parah, padahal datanya semua ada di situ. Aku (Haryo) menyebut beberapa alternatif jalan pemecahan untuk masalahnya itu, lalu aku kemudian ngacir sebentar ke lantai dua hendak membaca-baca buku di ruang koleksi buku perpustakaan. Setelah balik sekitar satu jam kemudian, ternyata yang datang tidak banyak mengalami perubahan. Kemudian muncul Ferry yang langsung ikutan ngobrol. Ada tambahan satu lagi yang datang, yaitu Wulan (yang sibuk sekali dengan karirnya sebagai wartawan surat kabar lokal). Sudah lama nggak muncul sih Mbak? Wulan datang dengan koleksi foto-foto jepretannya yang segera berpindah ke hard disk komputer FPKM. Fotonya konyol-konyol, tapi bagus. Seperti biasa, acara ngobrol pun berlanjut, meneruskan yang kemarin. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul tiga sore dan semua segera bersiap untuk pulang, dan….berkarya. Sebagai penulis, kita harus selalu aktif menghasilkan karya, apa pun itu. Sampai jumpa minggu depan, saat acara pameran budaya Jepang. Rugi lho kalau nggak datang..

Versi Vita:
Mbak Etty kabur dulu, katanya ada janji. Olen, Pak ketu (David), Mas Haryo, Luhur, Ferry, ngobrol ngalor ngidul tentang penolakan naskah buku oleh penerbit. Kita sudah berkarya tapi ditolak penerbit atau media cetak melulu. Putus asa, deh! Nah, istilah baru dimasukkan: Forum Putus Asa Kota Malang…he..he…Nggaklah kita tetap semangat kok. Eit, di kotak ajaibnya FPKM masih nemu krupuk pasir. Setelah digigit, duh….alo alias melempem. Tapi dasar nggragas (rakus) tetap aja dimakan. Liga Alam datang. Wulan, sang wartawan koran pendidikan menyusul datang ke kantornya FPKM. Tumben nih muncul.

27 Juli 2007, Jumat
Hari ini aku (Haryo) dan Luhur (Luhur Dirgantara) sudah datang ke perpustakaan pagi-pagi sekitar jam sembilan. Eh, di sana sudah rame banget kayak pasar. Ternyata akan ada acara pembukaan pameran budaya Jepang di perpustakaan kota ini. Rencananya Pak Walikota Malang akan hadir, dan juga seorang konsul dari konjen Jepang beserta rombongannya. Saat aku datang, di dekat pintu masuk utama gedung perpustakaan sudah ada Olen dan ….Mas David yang pake kimono Jepang. Rupanya Mas David jadi panitia penjaga stan pameran. Olen sedang ngobrol dengan Mbak Ratna Indraswari yang juga datang sebagai undangan. Acara kelihatannya molor dan nggak dimulai-mulai. Akhirnya aku dan Luhur main internet di ruang lobby perpustakaan, lumayan mumpung ada fasilitas gratisan, jadi main internet untuk mengupdate situs FPKM dan situsku sendiri. Luhur sibuk dengan situs cerpen yang dibuatnya. Setelah satu jam puas main internet, ternyata acara pembukaan sudah selesai, dan pameran resmi dibuka. Pas kan, dan yang lebih menyenangkan setiap tamu yang datang bisa mencicipi sushi dan aneka kue Jepang lainnya secara gratis, jadi aku dan Luhur langsung ngantre ambil bagian. Eh, ternyata Jeng Olen sudah ada di urutan depan, nggak mau ketinggalan nih ye..mencicipi sushi. Di belakangku ternyata ada Adin yang datang dengan senyum-senyum (membayangkan dapat jajanan gratisan),tumben datang pas hari kerja, mbolos dari mengajar ya, nanti malah dicariin murid-muridmu lho Din? Adin datang dengan kameranya.
Tak lama kemudian semua sibuk menikmati sushi dan aneka jajanan Jepang lain. Nyam-nyam, tapi rasanya kok kayak orem-orem atau lemper. Ada yang bilang ini lemper ala Jepang. Ada pula yang bilang kalo ini orem-orem khas Jepang. Katrok banget sih, ini namanya sushi, bukan Susi…he..he.. Puas incip-incip kita rame-rame ngider keliling stan, ada stan yang memamerkan karya origami, aneka gambar anime, aneka boneka plastik/karet tokoh figur anime Jepang, juga aneka patung mini yang menggambarkan budaya Jepang. Juga ada miniatur bangunan-bangunan obyek wisata sejarah budaya Jepang. Lucu-lucu dan sangat indah. Selesai keliling, eh, ternyata di ruang seminar di lantai 1 ada seminar tentang budaya Jepang yang dibawakan langsung oleh Mr. Sato, konsul dari konjen Jepang. Acara pemutaran video, slide foto dan tanya jawab berlangsung meriah dengan adanya door prize oleh-oleh dari Jepang. Sayangnya kami kali ini belum beruntung, karena ternyata para pengunjung yang jumlahnya begitu banyak ini (sampek berjubel kursi-kursinya) demikian banyak yang antusias lebih dulu mendapat giliran menjawab pertanyaan untuk hadiah door prize. Wah, sayang ya…Acara belum selesai saat aku dan Luhur keluar duluan dari ruang seminar ini. Jam sudah menunjukkan pukul menunjukkan waktu setengah dua belas siang, dan hari ini hari Jumat. Jadi kami harus pergi sholat Jumat. Kalau tidak, nanti bakal dimarahi Tuhan. Selesai sholat Jumat, ternyata acara seminar sudah buyar. Di dekat lobby masih ada Mbak Vita yang ngobrol dengan salah seorang staf perpustakaan. Ternyata Mbak Vita sudah mau pulang. Aku dan Luhur pergi ke loker untuk menitipkan tas kami, kemudian ngacir ke lantai dua. Biasa kita-kita kan kutu buku, jadi hobby banget baca buku dan majalah, apalagi semuanya tersedia gratis untuk dibaca di perpustakaan kota Malang ini. Aku menemukan majalah-majalah yang aku suka (yaitu majalah CHIP - majalah komputer). Aku baca dengan asyik info dan tips menarik mengenai bagaimana mengelola blog dan mempercantik blog dengan aneka asesorisnya. Luhur seperti biasa membaca majalah fotografi dan desain grafis, juga majalah sastra, buku-buku sastra, dan bacaan lain yang aneh-aneh. Bosan membolak-balik bukunya, Luhur mengincar beberapa majalah yang sudah selesai aku baca. Ia sibuk mencatat dan merangkum berbagai informasi yang menurutnya menarik. Aku masih asyik membaca dan merangkum sampai jam menunjukkan pukul tiga sore. Luhur mengajak pulang, perutnya keroncongan. Ternyata karena saking asyiknya membaca, kami jadi lupa makan. Yo wis, kita pulang saja. Besok diteruskan lagi.

28 Juli 2007, Sabtu
Aku (Haryo) datang bersama Luhur ke perpustakaan. Sampai di perpustakaan sudah siang, sekitar pukul sebelas. Acara demo penulisan seni menulis indah Jepang sudah separo telat. Aku lihat ada Mbak Vita, Lutfi, Adi Abas yang dengan tekun mengikuti penjelasan dari pembicara yang asli Jepang itu. Pengunjung perpustakaan berjubel dan tempat duduk yang ada dipadati pengunjung. Akhirnya aku tidak jadi mengikuti salah satu rangkaian acara dalam pekan budaya Jepang itu. Akhirnya aku dan Luhur mampir ke ruang komputer untuk surfing internet gratisan, seperti biasa yang aku lakukan di perpustakaan setiap hari Sabtu. Setelah sekitar satu jam asyik berselancar di internet, aku kemudian menghampiri beberapa kursi yang masih kosong di ruang lobby untuk mengikuti penjelasan seni menulis Jepang. Tak lama kemudian acara selesai. Aku, Mbak Vita, Luhur, Lutfi, Adi Abas, Mas David ngumpul di ruang sekretariat FPKM yang ternyata sempat menjadi gudang penitipan barang seperti biasa setiap kali ada pameran. Duduk berdesakan di ruang yang semakin sempit tidak mengurangi keasyikan mengobrol. Muncul guyonan-guyonan seputar pameran ini. Olen muncul dengan jajanan unik khas Jepang yang bertabur keju (memangnya ada makanan khas Jepang yang atasnya bertabur keju, bentuknya seperti siomai dan baso tapi ada saus mayonaise, saus kacang, taburan keju, dan saus sambal. Aneh, tapi rasanya enak, dan langsung diserbu ramai-ramai oleh teman-teman. Dasar rakus, tidak sampai lima menit penganan itu langsung ludes, bagaikan diserbu sekawanan ikan piranha. Makanan Jepang kayak makanan Perancis, porsinya pelit banget. Tidak seperti porsi makanan Cina yang berporsi besar. Tapi biar bagaimanapun yang penting rasanya enak! Puas jalan-jalan keliling stan, dan mencoba menggambar manga di salah satu stan sambil ketawa cekikikan, akhirnya kita ngobrol lagi di ruang sekretariat sampai agak sore. Kemudian pulang ke rumah masing-masing.

29 Juli 2007, Minggu
Aku dan Luhur sampai di perpustakaan kota Malang sekitar pukul sepuluh pagi. Ruang sekretariat FPKM sepi dan masih menjadi ajang penitipan barang-barang peserta pameran budaya Jepang. Teman-teman yang lain nggak ada yang nongol. Mungkin sudah tahu kalau ruangannya berantakan, jadi nggak mood untuk ngumpul bareng. Di ruang lobby aku ketemu Mbak Vita, dan kita berdua langsung ikutan demo peragaan tehnik origami yang menghasilkan karya-karya yang imut banget. Aku berhasil membuat boneka pinguin dari kertas. Teman-teman yang lain minta diajari. Selanjutnya diperagakan pula untuk membuat kerajinan tangan berupa tempat tisyu berbentuk angsa, juga dari kertas. Wuih, bagus banget, padahal hanya dari tehnik origami yang sederhana, namun sungguh hasilnya luar biasa indah. Katanya, kalau beli yang seperti ini di Jepang, harganya bisa mahal banget. Lumayan deh, dapat pengetahuan baru. Mbak Vita nyeletuk, Forum Penulis Kota Malang, berubah nama menjadi Forum Pelipat Kertas yang Malang…he..he..Nggak lah, kita tetap Forum Penulis Kota Malang. Mas David ngeloyor sambil nanya sudah berhasil membuat figur apa sajakah kita..he..he.. Trias datang agak telat sambil membawa tiga buah permen lolipop untuk kita bertiga. Sambil asyik melipat kertas, permen pun langsung leleh di mulut. Ternyata para peserta yang ikutan melipat kertas tidak hanya remaja, tapi juga …bapak-bapak. Banyak yang sangat antusias lho. Mungkin masa kecil kurang bahagia…Namun menurut penjelasan dari pembicara, di Jepang, origami sangat diminati terutama di kalangan bapak-bapak hingga kakek-kakek…Nah lho? Pokoknya seru. Setelah selesai acara demo peragaan origami, Mbak Vita sibuk mengetik artikel-artikelnya di ruang sekretariat ditemani Trias. Aku mampir sejenak ngobrol. Luhur sudah dari tadi sibuk dengan klub bahasa Inggrisnya, MAFEC, maklum di hari Minggu biasanya anak-anak MAFEc ngumpul untuk belajar bahasa Inggris. Biasanya setelah acara MAFEC, banyak yang ikutan gabung dengan FPKM, namun kali ini karena ruangan tidak memungkinkan, dan para anggota FPKM sedang banyak yang absen, maka ruang sekretariat sepi-sepi saja. Maka aku pun memutuskan segera pamit pulang. Mbak Vita dan Trias masih asyik dengan komputernya FPKM, mengetik-ngetik artikel, tentu saja.

4 Agustus 2007, Sabtu
Aku (Haryo) datang sekitar jam sepuluh pagi seperti biasa bersama Luhur dan langsung main internet di ruang lobby perpustakaan. Sekitar jam sebelas kami langsung menuju ke ruang sekretariat FPKM. Di sana baru ada Olen (Carolina Neolen) yang sedang menyapu-nyapu ruang sekretariat FPKM. Masih sepi. Aku tidak bisa membantu nyapu, karena sedang pilek. Tidak berapa lama muncul Liga Alam, Lutfi, Mbak Vita, Adi Abas, Trias, dan Wulan. Acara ngerumpi akhir pekan kembali marak. Seperti biasa yang dibahas tentu saja tentang buku. Mbak Vita membahas koleksi buku-buku karya Enid Blyton yang dimilikinya, mulai serial lima sekawan yang koleksinya masih belum lengkap, serial Sapta Siaga, serial Pasukan Mau Tahu, dan banyak lagi. Ternyata masih banyak yang belum lengkap. Tapi bingung mau cari di mana, karena serial tersebut sudah lama sekali tidak lagi terbit. Di Gramedia hanya ada beberapa, dan itu pun sudah punya. Yang dicari malah tidak ada. Mbak Vita meminjamkan sebuah buku serial Pasukan Mau Tahu karangan Enid Blyton terbitan tahun 1984 kepadaku (Haryo), kebetulan aku penggemar berat serial Enid Blyton, walau tidak sefanatik Mbak Vita dalam mengkoleksi. Koleksi Mbak vita termasuk super lengkap. Makanya aku dipinjami buku untuk aku baca-baca di rumah. Lutfi membahas koleksi buku Harry Potter-nya yang asli terbitan Bloomsbury. Ternyata dia belum memiliki yang seri 1 s/d 3. Seri ke-4, 5, 6, dan 7 sudah punya. Aku (Haryo) dipinjami serial Harry Potter yang terbaru (Harry Potter and the Deathly Hallows) terbitan Bloomsbury. Wuih, tebal banget. Aku memang penyuka Harry Potter dan lebih suka membaca versi bahasa Inggrisnya karena original daripada versi bahasa Indonesianya. Keasyikannya beda. Pemahaman bahasa, suasana hati dan humor atau apapun akan lebih kena saat kita baca versi bahasa Inggrisnya. Sedang kalau baca versi bahasa Indonesianya rasanya masih kurang begitu hidup, dan mungkin humor-humor atau kalimat lucu tidak terasa asyik lagi saat kita membacanya bukan dalam bahasa aslinya. Di mana-mana yang original selalu lebih asyik daripada versi adaptasi. Tapi ini subyektif sekali. Kebetulan aku memang menyukai segala sesuatu yang asli. Terima kasih ya pinjaman bukunya. Soalnya kalau beli sendiri nggak mungkin. Kalau kebetulan ada yang suka mengkoleksi buku-buku bagus kan lebih enak pinjam daripada beli karena harganya selangit. Mbak Indah, wartawan Surabaya Post datang agak siang dan ikutan nimbrung ngerumpi dengan kita-kita. Maklum, Mbak yang satu ini kan public relationnya Forum Penulis Kota Malang. Jadi pasti ada saja info penting yang mau disampaikan. Acara pembahasan buku cerita dan ngerumpi selesai saat menjelang waktu sholat Ashar. Kami semua pun kembali pulang ke rumah masing-masing.

5 Agustus 2007, Minggu
Hari Minggu siang masih agak sepi. Tapi sudah ada beberapa anggota dan pengurus FPKM yang datang. Ada Olen, Mbak Vita, Wulan, Adin, aku (Haryo), Luhur, Lutfi, Liga Alam, Trias, Mbak Indah (wartawan Surabaya Post), dan Cahyo muncul sebentar lalu ngacir. Hari ini FPKM diwawancarai oleh 2 orang wartawan Harian Surya yang datang meliput komunitas ini. Kami sempat difoto-foto, lalu ditanya-tanya mengenai banyak hal, terutama tentang aktivitas komunitas ini. Banyak juga yang harus diceritakan. Aku (Haryo) berperan sebagai juru bicara, karena kebetulan tugasku di komunitas ini kan sebagai seksi informasi dan dokumentasi. Jadi lebih banyak aku yang bicara. Teman-teman sesekali ikutan nimbrung menambahkan beberapa hal. Mas Alam menyerahkan beberapa buku karyanya secara cuma-cuma untuk dibaca-baca oleh wartawan Surya yang datang meliput. Sayang, Wahyu Indah nggak bisa datang, padahal buku karyanya yang bertema tentang sedekah terbitan Qultummedia kan termasuk best seller dan dipajang di rak buku laris di Gramedia. Wis, nggak apa-apa yang penting semua hasil karya anggota FPKM sudah diutarakan saat wawancara. Termasuk juga 2 buah novel karyanya Mbak Ike yang barusan terbit. Mbak Ike sendiri masih kerja di Bali. Mungkin kalau pas libur dan pulang ke Malang, bisa ikutan nimbrung di acara mingguan komunitas ini seperti dulu. Mas Yusli juga masih belum balik dari Inggris, kuliah S-2. Maklum Pak Dosen yang satu ini sibuk, sehingga jarang muncul walau saat masih belum berangkat ke Inggris dulu. Mas David sang ketua, masih di Banyuwangi, ada keperluan keluarga. Namun demikian, FPKM tetap kompak dan solid seperti biasa. Yang penting teman-teman terus aktif berkarya dan berkreasi menyemarakkan jagat kepenulisan tanah air, dan mungkin bisa go internasional. Semoga!

6 Agustus 2007, Senin
Hari ini hari Senin. Sudah malam, sekitar pukul sembilan malam aku (Haryo) dan Luhur berangkat dari rumah menuju warnet Surya Indah di Jalan Galunggung, Malang. Rencanannya kita mau begadang sampek pagi, mengupdate blog dan situs masing-masing. Aku (Haryo) dan Luhur bertetangga, makanya kalau mau acara ke warnet biasanya kita berangkat barengan. Kebetulan hari ini kita janjian mau internetan bareng Mbak Vita dan Carolina Neolen yang ikutan gabung begadang di warnet semalaman. Jangan salah, kalau di Malang, urusan begadang semalaman di warnet sudah biasa. Cewek-cewek pun banyak kelihatan yang internetan rame-rame di warnet semalaman. Maklum kalau malam kan ada pahe (paket hemat), cuma sepuluh ribu internetan sepuasnya mulai jam sepuluh malam sampai jam tujuh pagi. Enak kan? Aku dan Luhur sampai di warnet Surya Indah sekitar pukul setengah sepuluh malam. Di ruang lobby warnet sudah ada Mbak Vita dan Olen (carolina Neolen) yang ketawa cengengesan ngeliat kita yang barusan datang. Maklum mereka sudah nunggu di warnet sejak jam sembilan malam. Aku dan Luhur ikutan nimbrung ngobrol dan ngerumpi duduk di sofa lobby warnet sambil baca-baca majalah-majalah yang setumpuk banyaknya di meja lobby. Kita nunggu sampek jam sepuluh tet, baru ambil nomor user sekalian bayar di muka. Tak lama kemudian kita pada sibuk sendiri-sendiri dengan komputer masing-masing. Mbak Vita baru mulai bikin blog profil pribadi di multiply dot com. Aku sesekali membantu menjelaskan cara mengupgrade blog biar kerenan dikit dengan menyisipkan skrip html, upload musik, dan foto-foto. Kemudian aku (Haryo) sibuk dengan blog dan situsku sendiri. Luhur sibuk mengupdate blog cerita bersambungnya yang online baru-baru ini. Blognya bagus banget, aku sampek ngiri. Olen sibuk nyari bahan skripsinya, sambil memantau pergerakan harga saham online di internet. Maklum mahasiswi akuntansi semester akhir, sedang sibuk bikin skripsi. Eh, Olen bawa seplastik jeruk besar-besar. Lumayan dimakan supaya nggak pilek karena begadang semalaman. Kita kudu banyak mengkonsumsi vitamin C. Ada benarnya juga bawa jeruk sebanyak itu. Padahal cuma buat bertiga. Luhur yang dari tadi asyik dengan blognya, sesekali ngeluyur keliling ke komputer kita satu per satu tanya-tanya situs apa yang menarik untuk dikunjungi. Semua asyik dengan aneka situs, blog dan kirim-kirim naskah karya ke berbagai media lewat e-mail. Maklum kalau malam begini, upload dokumen naskah cepet banget, jadi tinggal ngirim lewat e-mail. Hmm, nggak terasa jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, dan kita semua harus balik ke rumah masing-masing. Sampek ketemu hari Sabtu dan Minggu. Ciao…

10 Agustus 2007, Jumat
Ada atraksi tontonan di lapangan Rampal, Malang. SCTV mengadakan acara musik live - CARNAVAL FESTIVAL 2007 yang diramaikan dengan band yang disiarkan langsung lewat satelit dan juga acara bazaar berbagai stand. Tampaknya hanya Adin yang antusias ikutan nonton event kayak gini. Maklum Adin kan punya band sendiri. Tapi kali ini dia dan band-nya nggak ikutan manggung seperti saat acara pagelaran musik biasanya. Teman-teman FPKM yang lain lebih milih di rumah, nonton langsung lewat televisi. Maklum kalau acara seperti ini biasanya penontonnya bejubel dan rame banget. Daripada berkeringat dan berdesak-desakan serta resiko terinjak-injak seperti fenomena yang umum terjadi di pagelaran musik tanah air, lebih baik nonton di rumah, sambil…….ngetik di komputer, menulis aneka artikel dan cerpen. Bukannya kita cyber geeks atau apalah. Tapi buat apa berdesakan dan cari yang sulit kalau lebih nyaman di rumah nonton acara yang sama lewat televisi sambil menghasilkan karya. Ingat kan…kalau kita itu….PENULIS. Jadi kerjanya ya menulis. Namanya saja Forum Penulis Kota Malang. Kalau kebanyakan nonton bukannya Forum Penulis Kota Malang, malah bisa-bisa nantinya berubah jadi Forum Penonton Kota Malang. Kan nggak lucu…ya nggak?

11 Agustus 2007, Sabtu
Perpustakaan libur karena tanggal merah. Tapi kantor sekretariat FPKM yang ada di halaman belakang perpustakaan kota Malang tetap buka seperti biasa. Yang datang ada Mbak Vita, Olen, Mas David, Lutfi, Luhur, aku (Haryo), Adi, Adin, Nurul, Mbak Etty, Rey Ayudha, dan….Mas Andik yang baru datang dari Cipanas sebulan penuh (acara gerejanya, maklum mas yang satu ini kan calon pastur). Dalam organisasi FPKM kita ini Bhinneka Tunggal Ika,semua anggotanya multi etnis dan multi agama (mulai dari pemeluk Islam, Kristen, sampai Katolik taat semuanya kompakan dan sobatan akrab). Walau berbeda, namun kita satu jua (sesuai semboyan Bhinneka Tunggal Ika ; maklum menyambut Tujuh Belas Agustusan….he..he.. promosi Pancasila, nih ye…). Pokoknya, kita semua pada kompak dari dulu sampek sekarang. Mbak Indah (pengarang buku Islami terbitan Qultum Media) kok nggak muncul-muncul ya? Mungkin sibuk dengan aktivitasnya yang bejibun. Liga Alam muncul kemudian, lalu Wulan. Semuanya rame ngerumpi…membahas antologi cerpen FPKM, buku-buku baru yang beredar, termasuk acara bedah buku novel Islami yang sempat dibedah di rumah Mbak Ratna Indraswari (Forum Pelangi) baru-baru ini. Tak terasa sudah sore. Beberapa lainnya pulang ke rumah masing-masing. Aku (Haryo), Luhur, Mbak Vita dan Lutfi berbondong-bondong menuju Plasa Araya di Blimbing Malang. Ada pameran buku dan obral buku murah di Gramedia Plasa Araya. Sesampainya di Plasa Araya kita langsung asyik ngeliat-liat koleksi buku yang diobral dan dipamerkan. Wuih, banyak sekali dan banting harga. Sampek bingung mau beli yang mana. Akhirnya setelah keliling beberapa saat dapat juga yang dibeli. Mbak Vita memborong buku. Biasanya saingan sama Mbak Etty kalo mborong buku. Hanya hari ini Mbak Etty kebetulan nggak ikutan. Mungkin besok. Saat mau pulang, kita menukarkan brosur pameran dengan komik Donal Bebek gratis di sekretariat panitia pameran. Lumayan dapat gratisan. Senengnya kalo dapat yang gratis-gratis.. Setelah incip-incip mie goreng (ada stan mie goreng yang ngasih gratisan incip-incip. Lumayan…), akhirnya kita pulang. Mbak Vita dan Lutfi agak kecewa karena kupon undian lomba meraup buku yang diadakan Gramedia nggak tembus. Walau begitu kita nggak pernah kapok jadi penggembira setiap ada pameran buku di mana aja di kota Malang.

12 Agustus 2007, Minggu
FPKM rame. Banyak anggota baru dan wajah-wajah lama ngumpul bareng seperti biasa di hari Minggu. Kali ini kita membedah cerpen karya Mas David, sang ketua FPKM. Sempat ada debat kusir pro dan kontra mengenai cerpen yang sedang dibedah ini. Namanya juga diskusi, jadi ya tentu saja semarak. Apalagi hampir semua anggota dan pengurus FPKM pada doyan ngomong. Jadi ada bahan sedikit saja yang bisa jadi bahan diskusi langsung jadi rame dibahas habis. Diskusi cukup seru. Bedah cerpen diakhiri dengan nonton bareng DVD yang diputar di laptop-nya Mas David. Beberapa teman ada yang nggak ikutan nonton DVD, dan membaca buku di lantai 2 perpustakaan. Setelah puas baca-baca, balik lagi ke kantor sekretariat FPKM dan ikutan gabung ngerumpi lagi. Kebetulan walau film telah habis diputar, beberapa anggota dan pengurus belum ada yang mau pulang. Banyak yang masih rame-rame ngerumpi ngalor-ngidul. Mulai dari membahas apa acara bedah cerpen minggu depan, sampek aneka bahan pembicaraan lain. Mas Sismanto, rencananya mau presentasi tulisan esainya minggu depan untuk dibedah rame-rame. Makanya kalau hari Minggu sebaiknya ikutan gabung di FPKM daripada bengong di rumah. Hari sudah sore dan semuanya pun pulang ke rumah masing-masing.

13 Agustus 2007, Senin
Beli koran Surya pagi-pagi. Eh, ternyata profil FPKM dimuat di koran Surya hari Senin. Lengkap dengan foto para pengurus dan anggota FPKM. Memang hanya satu foto saja yang sempat dimuat mengingat keterbatasan ruang kolom di surat kabar itu. Tapi nggak apa-apa yang penting para anggota dan pengurus FPKM bisa nampang dan numpang terkenal di koran Surya. Semoga para anggota maupun para penggembira FPKM bisa banyak memperoleh manfaat dari hadirnya komunitas ini baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Semoga!

17 Agustus 2007, Jumat
Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-62. Semoga Indonesia selalu jaya selalu dan tambah maju dalam segala bidang. Yang penting semangat dan jangan lupa, kerja keras, serta banyak membaca dan….menulis. Lho? Apa hubungannya? Ya, jelas ada dong. Dengan banyak membaca, kita bisa memperoleh banyak ilmu, dan dengan banyak menulis berarti kita bisa menularkan berbagai ilmu demi kemaslahatan bangsa ini. Ya nggak? Ngomong-ngomong, hari ini aku (Haryo) nerima kiriman paket. Ada dua paket berisi majalah. Yang satu berisi majalah Healthy Life (Gramedia Group) dan yang satu berisi majalah MATABACA (Gramedia Group). Ternyata beberapa karya tulis dan berita liputanku (Haryo) dimuat di majalah MATABACA edisi Agustus 2007 ini. Foto-foto anggota FPKM bertebaran menghiasi indahnya majalah MATABACA (ceile…wess..). Sampek-sampek seorang teman di Yogya sempat mengirim SMS ke Mbak Etty ngasih kabar kalau fotonya FPKM muncul di halaman berita majalah MATABACA. Beberapa foto bersama FPKM bersama Akmal Nasery Basral (penulis novel NAGA BONAR 2), dan juga foto bersama Mila Duchlun (penulis buku antologi puisi) juga dimuat. Kalau nggak salah ada sekitar 7 artikel yang dimuat, termasuk berita liputan bedah bukunya walikota Malang, Drs. Peni Suprapto, M.AP, beberapa waktu lalu. Syukurlah akhirnya komunitas ini dipercaya untuk mengirimkan liputan-liputan terbaru seputar dunia perbukuan di kota Malang. Tulisanku (Haryo) juga dimuat di majalah Healthy Life edisi Agustus 2007, dengan tema seputar khasiat obat tradisional (judulnya “Lupakan Obat, Kembali ke Alam!”). Akhirnya kerja keras tulis menulis ini tidak sia-sia karena semakin sering karya tulis anggota dan pengurus FPKM yang menghiasi berbagai media tanah air. Bahkan beberapa saat yang lalu, aku (Haryo) juga sempat mendapat telepon dari majalah VISI PUSTAKA (majalahnya perpustakaan nasional / perpustakaan pusat di Jakarta), kalau ada kemungkinan karya tulisku bakal dimuat di edisi terbaru majalah tersebut. Duh, senengnya. Yang nelpon aku bahkan sang editornya sendiri, yaitu Mas Ari. Beliau sempat berbincang-bincang panjang lebar seputar dunia buku dan perpustakaan, mulai perpustakaan Universitas Brawijaya (dulu aku alumni UNIBRAW), hingga perpustakaan umum kota Malang. Semoga tulisanku jadi dimuat, karena di situ aku juga sempat menyinggung-nyinggung sedikit mengenai komunitas ini - Forum Penulis Kota Malang. Maksudnya biar numpang beken gitu lho…!

18 Agustus 2007, Sabtu
Teman-teman berkumpul seperti biasa di kantornya FPKM. Hari ini berdiskusi mengenai berbagai hal. Juga ada acara guyonan, ngerumpi seperti biasa dan membaca! Jadi penulis harus banyak membaca. Mulai dari membaca koran hingga aneka buku, supaya dapat banyak ide dan pencerahan. Acara kumpul-kumpul baru bubar sore hari. Pada hari Sabtu ini, 18 Agustus 2007, Wawan Eko Yulianto, salah seorang anggota Forum Penulis Kota Malang, secara simbolis menyerahkan sumbangan berupa buku hasil karya terjemahannya, yang berjudul Sidney Sheldon, Memoar – The Other Side of Me, Sisi Lain Diriku, (diterbitkan oleh Penerbit Gramedia), untuk menjadi salah satu koleksi buku komunitas penulis Forum Penulis Kota Malang. Buku setebal 480 halaman ini cukup menarik untuk dibaca, khususnya bagi para penulis, baik penulis pemula maupun penulis yang sudah berpengalaman sebagai bahan referensi serta pembelajaran.
“Sebagai seorang penulis kawakan yang telah menulis 18 novel sekaligus penulis skenario lebih dari 25 film Hollywood, Sidney Sheldon tidak diragukan lagi kepiawaiannya dalam dunia tulis menulis,” demikian pengakuan Wawan Eko Yulianto saat ditanyai pendapatnya tentang penulis kawakan asal Amerika, Sidney Sheldon. Buku yang tergolong cukup laris ini diterjemahkan oleh Wawan Eko Yulianto dalam kurun waktu sekitar empat bulan dan baru selesai sekitar bulan Juli 2006. Cetakan pertama buku Sidney Sheldon, Memoar – The Other Side of Me, Sisi Lain Diriku, diterbitkan oleh Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama pada bulan Juni 2007. “Buku ini banyak memberikan pencerahan dan begitu banyak pelajaran yang bisa dipetik setelah membaca buku ini,” tutur Wawan Eko Yulianto, penterjemah buku ini. Pria yang gemar menulis aneka cerpen dan esai ini cukup aktif mengisi mailing list Forum Penulis Kota Malang (FPKM) di dunia maya,
http://groups.yahoo.com/group/forum_penulis_kota_malang .
Wawan Eko Yulianto bisa dihubungi baik melalui mailing list FPKM atau pun dengan mengakses blog profil pribadinya yang beralamat di http://berbagi-mimpi.blogspot.com atau http://wawanekoyulianto.multiply.com . Penulis sekaligus penterjemah ini pernah menterjemahkan beberapa buku novel terbitan Penerbit JalaSutra selain menterjemahkan buku terbitan Gramedia. Saat ini Wawan Eko Yulianto sedang sibuk menyelesaikan penterjemahan salah satu buku pesanan Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama. “Judulnya masih rahasia,” katanya. “Yang jelas sampai sekarang aku masih sibuk menyelesaikan terjemahan buku ini,” sambungnya lagi. Wawan Eko Yulianto cukup aktif dalam komunitas Forum Penulis Kota Malang baik dalam pertemuan mingguan maupun di dunia maya. Bahkan sering pula chatting baik di mailing list FPKM, maupun di yahoo.messenger serta di fasilitas chatting gmail pada saat waktu senggang dengan sesama anggota komunitas penulis FPKM. Saat ini Wawan Eko Yulianto bekerja sebagai penterjemah situs Universitas Brawijaya http://www.brawijaya.ac.id untuk menterjemahkan content web Universitas Brawijaya ke dalam bahasa Inggris.
Oh ya, ada pengumuman dari Mas Alam, editor buku-bukunya Pak Walikota Malang. Ini isi pengumumannya:
Walikota Malang, Drs. Peni Suprapto, M.AP, bekerja sama dengan Forum Penulis Kota Malang telah membagi-bagikan buku tulis gratis untuk para pelajar kurang mampu di wilayah kota Malang. Pembagian buku tulis gratis bergambar sampul walikota Malang - Drs. Peni Suprapto, M.AP, yang berdiri di tengah hijaunya pepohonan di taman kota Malang ini, sekaligus sebagai propaganda gerakan cinta lingkungan dan penghijauan di wilayah Malang Raya. Gerakan cinta lingkungan hendaknya dimulai dari lingkungan sekolah dan selanjutnya dilanjutkan di sekitar lingkungan tempat tinggal. Pembagian buku tulis gratis ini sekaligus sebagai upaya untuk menumbuhkan semangat menulis di kalangan para pelajar kota Malang. Sebagai tindak lanjut sejak diluncurkannya buku bertema penghijauan yang berjudul “Mari Menanam & Merawat” yang baru diluncurkan beberapa saat yang lalu, maka diharapkan dengan propaganda program penghijauan melalui pembagian buku tulis gratis kali ini dapat memberikan inspirasi bagi setiap warga kota Malang terutama para pelajar sekolah untuk senantiasa peduli pada pelestarian lingkungan yang dimulai dari lingkungan sekolah maupun lingkungan sekitar tempat tinggal. Sampai dengan saat artikel ini ditulis, program pembagian buku tulis gratis masih berlangsung. Bagi pelajar kurang mampu yang berdomisili di kota Malang dan membutuhkan bantuan buku tulis, dapat menghubungi Forum Penulis Kota Malang (yaitu menghubungi Sdr. Liga Alam selaku pelaksana distribusi buku tulis gratis) setiap hari Sabtu dan Minggu pukul 11.00 siang, di kantor sekretariat Forum Penulis Kota Malang, Ruang Kearsipan, Gedung Perpustakaan Kota Malang, Jl. Raya Ijen 30 A, Malang 65100, Jawa Timur. Sdr. Liga Alam bisa dihubungi di nomor telepon (0341) 8126177. Setiap pelajar kota Malang yang kurang mampu berhak mendapatkan sekurang-kurangnya satu buah buku tulis atau maksimal lima buah buku tulis yang diberikan secara cuma-cuma (selama persediaan masih ada). Pembagian buku tulis gratis tahap I sudah lewat dan cukup sukses karena persediaan langsung habis beberapa waktu setelah dilakukannya peluncuran buku penghijauan “Mari Menanam & Merawat”, sementara saat ini sudah memasuki tahap II karena panitia sudah sempat memesan ke percetakan dalam jumlah yang cukup banyak sehingga bisa dibagikan secara gratis hanya untuk pelajar yang berdomisili di wilayah Malang raya.

19 Agustus 2007, Minggu
Eh minggu pagi sepi, sekali, yang jaga kantor cuma Lutfi Fadila. Teman-teman rupanya sedang sibuk dengan aktivitasnya sendiri-sendiri. Mas David mendaki gunung Semeru dengan kelompok gank-nya, Mbak Vita pergi ke gereja (sudah lama nggak ke gereja ya?), Olen ke luar kota, Mas Haryo sibuk menulis bukunya yang nggak kelar-kelar, Mbak Etty masih di Nganjuk (belum mudik ke Malang). Wah, kasihan si Lutfi. Tapi mungkin hanya minggu ini saja FPKM sepi karena pasti di lain waktu, semua anggota dan pengurus bakal nongol dan rame seperti biasa.

20 Agustus 2007, Senin
Perpustakaan kota Malang pada hari Senin, 20 Agustus 2007 begitu dipadati pengunjung. Maklum saja, hari ini adalah hari pembukaan Pameran Kartun 40 Tahun Oom Pasikom – Peristiwa dalam Kartun tahun 1967 - 2007. Acara pamerannya sendiri baru dibuka untuk umum pada tanggal 21 Agustus 2007 hingga 29 Agustus 2007. Pada tanggal 22 Agustus 2007 juga dilaksanakan acara diskusi santai bersama GM Sudarta yang terbuka untuk khalayak ramai. Tentu saja seperti biasa acara yang digelar di Gedung Perpustakaan Kota Malang senantiasa mendulang sukses. Pada hari biasa saja, pengunjung rata-rata perpustakaan ini bisa mencapai sekitar 1500 pengunjung, apalagi bila ada momen acara khusus seperti ini. Perpustakaan yang buka mulai pagi pukul 08.00 WIB hingga malam hari pukul 20.00 WIB ini memang selalu dipadati pengunjung yang sebagian besar adalah generasi muda kota Malang.
Sudah sejak pagi para pengunjung menanti-nanti kehadiran kartunis ternama, GM Sudarta yang rencananya bakal hadir dalam pembukaan pameran kartun karyanya tersebut. Seperti telah diketahui, GM Sudarta adalah pria kelahiran Klaten, 20 September 1945. Sekitar tahun 1965-1967, beliau mengenyam pendidikan di ASRI Yogyakarta. Kemudian pada tahun 1967 GM Sudarta bergabung dengan surat kabar Harian Kompas yang memang baru saja lahir. Dalam partisipasinya di harian surat kabar tersebut, GM Sudarta menciptakan tokoh kartun “Oom Pasikom” yang mulai tampil pada bulan April 1967. Kartunis Indonesia ini telah beberapa kali meraih berbagai penghargaan baik di tingkat nasional maupun di kancah internasional, diantaranya adalah Hadiah Jurnalistik Adinegoro dan Tropi dari PWI (1983,1984, 1985, 1986, 1987), Best Cartoon of Nippon (2000), dan Gold Prize Tokyo No Kai (2004).
Para undangan yang datang langsung diberikan sebuah tas plastik berlogo surat kabar “Kompas” yang berisi selembar press release Pameran Kartun Oom Pasikom, sebuah brosur promosi dan selembar kaus T-shirt bergambarkan kartun karya GM Sudarta yang dipersembahkan oleh Cartoon T-Shirt Jangkrik 85 Bali (Istana Kuta Galeria BW2 -09/10, Central Parkir, Kuta – Bali). Acara pameran baru dibuka sekitar pukul dua belas siang, setelah sebelumnya dibacakan beberapa sambutan dan atraksi. Beberapa kata sambutan diantaranya dibawakan oleh kepala perpustakaan kota Malang, Drs. Jemianto, yang diikuti pemberian beberapa patah kata sambutan oleh GM Sudarta sendiri, serta seorang pejabat yang mewakili walikota Malang yang kebetulan berhalangan hadir. Acara ini dihadiri oleh beberapa pejabat di lingkungan pemerintah kotamadya Malang, wakil dari ABRI, wakil dari kepolisian, beberapa wakil dari universitas-universitas yang ada di Malang, para seniman, komunitas penulis (Forum Penulis Kota Malang dan Forum Pelangi), serta penulis kenamaan Ratna Indraswari Ibrahim. Acara diteruskan dengan pementasan musik rakyat oleh seniman kota Malang yang tergabung dalam grup musik rakyat “Isaku Iki” (Keahlianku Hanya Ini). Tampak kemeriahan yang begitu gegap gempita saat penyanyi transjender bernama “Ance” (bukan nama sebenarnya) membawakan beberapa lagu bertemakan isyu sosial. Panitia bahkan sempat melontarkan guyonan bahwa Ance – wanita transjender dari kota Malang ini adalah salah satu bentuk hidup dari karikaturnya GM Sudarta, yang kontan disambut gelak tawa oleh sebagian hadirin. Ance sendiri sempat melontarkan beberapa lawakan khas Malang demi mengomentari berbagai hal termasuk dirinya sendiri. Selanjutnya berlangsung acara tanya jawab singkat bersama GM Sudarta yang dipandu oleh pembawa acara. Setelah acara tanya jawab ini selesai, GM Sudarta sempat melukis kartun di hadapan para hadirin. Kartun yang dilukisnya bergambar tanaman gelombang cinta. Saat ditanya mengapa beliau menggambar tanaman tersebut, kartunis yang satu ini menjawab bahwa sebagai kota bunga dan tanaman hias, kota Malang juga sempat terkenal oleh adanya gerakan penghijauan “Malang Ijo Royo-Royo” sehingga dibawah tulisan “Gelombang Cinta”, beliau menuliskan kata-kata “Gelombang Royo-Royo” dan juga kata-kata “Gelombang Aremania” karena kota Malang selalu semarak oleh para suporter sepak bola Arema. Barulah di bagian paling bawah dari kanvas yang sedang dilukisnya, digambarkan tokoh Oom Pasikom yang legendaris. Lukisan karya GM Sudarta itu disumbangkan kepada Perpustakaan Kota Malang untuk dipajang di ruang lobby menemani berbagai karya lukisan seniman Malang yang memang sejak dulu sudah menghiasi lobby gedung perpustakaan di kota Malang ini.
Pameran yang bertempat di galeri pameran “Anjungan Ken Arok” yang merupakan salah satu bangunan di lingkungan perpustakaan kota Malang ini, disemarakkan oleh tak kurang dari 165 karya karikatur GM Sudarta mulai periode tahun 1967 hingga tahun 2007 yang tidak hanya melukiskan tokoh kartun Oom Pasikom saja namun juga menuangkan berbagai isyu kritik sosial lewat karya-karya kartun. Saat memasuki galeri Ken Arok, GM Sudarta yang diikuti oleh para pejabat pemerintah kotamadya Malang, para undangan serta wartawan surat kabar maupun televisi ini sempat juga berkenan memberikan kesempatan untuk para wartawan media mewawancarainya. Sesekali pula beberapa dari para undangan memperoleh kesempatan berfoto bersama dengan kartunis yang terkenal murah senyum ini. Demikian pula dengan salah satu pengurus Forum Penulis Kota Malang – Haryo Bagus Handoko, yang sempat berfoto bersama beliau dan diabadikan lewat jepretan foto dari wartawan Surabaya Post - Mbak Indah (yang juga merupakan warga kota Malang dan salah satu pengurus Forum Penulis Kota Malang). Tampak beberapa wartawan media surat kabar lainnya, diantaranya adalah Mas Sudharma Adi yang dulu sempat menuliskan profil komunitas penulis Forum Penulis Kota Malang di Harian Surya maupun di Surya Online, salah satu situs surat kabar ini di internet. Beberapa wartawan media televisi lokal juga tampak, mulai dari wartawan Mahameru TV, hingga wartawan televisi lokal lainnya seperti Malang TV, Agropolitan TV, dan juga Batu TV.
Setelah selesai berkeliling di galeri pameran Anjungan Ken Arok, GM Sudarta memberikan kesempatan “temu penggemar” dan acara pemberian tanda tangan pada lembaran “Press Release” para undangan maupun pemberian tanda tangan di buku kumpulan kartun karya beliau yang tampak begitu indah bergambarkan beberapa kartun karyanya dan biografi singkat profil GM Sudarta. Buku kumpulan karya GM Sudarta itu memang sempat dibagikan kepada beberapa seniman senior kota Malang dan juga kepada penulis ternama Ratna Idraswari Ibrahim. Acara temu penggemar itu diiringi oleh senandung lagu yang kembali dibawakan oleh grup seniman rakyat “Isaku Iki”. Sambil mengobrol santai, hadirin berkesempatan menikmati hidangan rakyat secara gratis yang telah disediakan oleh panitia, diantaranya adalah lontong soto khas Malang, lontong sayur khas Malang, serta aneka jajanan Malang seperti pisang goreng dan tempe mendoan. Pameran kartun karya GM Sudarta di Perpustakaan Kota Malang ini adalah salah satu dari rangkaian tur pameran karya GM Sudarta, setelah sebelumnya sempat mengadakan pameran yang sama di Jakarta (Bentara Budaya, 4-12 Juli 2007), dan Yogyakarta (Bentara Budaya Yogyakarta, 4-10 Agustus 2007). Tur pameran karya ini juga akan dilanjutkan di berbagai kota lain seperti Surabaya (Balai Pemuda, 8-14 September 2007), Denpasar Bali (Danes Art Veranda, 19-28 Oktober 2007), Semarang (Galeri Semarang, 4-14 November 2007), dan Bandung (Galeri Soemardja, 18-27 Januari 2008). GM Sudarta juga pernah mengadakan pameran dan seminar kartun bertaraf internasional seperti yang pernah diselenggarakan Kyoto Internasional Cartoonist Congress di Kyoto, Jepang (1990, 1992, 1994, 1996, 1998, 2002, 2004, 2006). Hingga kini beliau masih menjadi kontributor untuk C&WS (Cartoonist & Writer Syndicate) dan beberapa media massa di Jepang. Mulai tahun 2008 nanti, rencananya beliau akan mengajar kartun di Cartoon Departement Seika University, Kyoto, Jepang.

22 Agustus 2007, Rabu
Acara diskusi santai dan jumpa penggemar kartun Oom Pasikom bersama GM Sudarta berlangsung di ruang galeri pamer Ken Arok - Gedung Perpustakaan Kota Malang. Acara ini berlangsung seru, karena selain kue suguhannya enak-enak (ada lemper, roti pisang, brownies, segelas kopi, dan segelas air mineral), pembicaranya pun enak (GM Sudarta). Acara berbagi pengalaman dalam menggambar kartun dan perjalanan karir sang maestro dalam menyemarakkan jagat kartun dunia (bukan hanya di Indonesia saja), ternyata bisa membuat semua hadirin berdecak kagum kepada jiwa kreatif kartunis yang satu ini. Walau hanya merupakan acara lesehan namun acara ini dipadati pengunjung, mulai dari para pelajar, mahasiswa, masyarakat umum, wartawan media, kartunis, seniman, dan komunitas-komunitas penulis di kota Malang, termasuk pula FPKM. Acara baru dimulai pukul dua siang dan baru berakhir pukul setengah lima sore. Acara diakhiri dengan pembagian tanda tangan yang ditulis di atas lembaran kertas press release yang dibagikan di awal acara. Acara seperti ini selalu saja menangguk sukses karena demikian besarnya antusiasme warga Malang raya dalam setiap event yang berbau pendidikan, seni, dan hiburan.

29 Agustus 2007, Rabu - 4 September 2007, Selasa
Festival Buku Malang 2007 yang tahun ini mengambil tema “Buku Untuk Semua” kembali digelar di Gedung perpustakaan Kota Malang. Acara pembukaan festival buku kali ini begitu semarak dengan tarian barongsai yang dibawakan oleh kelompok “Barongsai 5 Benua” dari Malang sebagai atraksi acara pembukaan Festival Buku Malang 2007. Pameran Buku Tahunan kali ketiga ini dibuka secara resmi oleh Walikota Malang, Drs. Peni Suparto, M.AP. Kepala perpustakaan kota Malang, Drs. Jemianto, mengungkapkan bahwa penggemar buku serta pengunjung perpustakaan kota Malang dari tahun ke tahun cenderung meningkat dan diharapkan agar minat baca dan tulis dari warga kota Malang semakin nyata terwujud ke depannya. Festival Buku Malang 2007 yang kali ini mengusung tema “Buku Untuk Semua”, digelar selama tujuh hari berturut-turut mulai tanggal 29 Agustus 2007 hingga 4 September 2007. Kegiatan hari pertama Festival Buku Malang 2007 ini diawali dengan acara bedah buku bertema mistik yang berjudul “Dunia Mistik Orang Jawa” terbitan Penerbit LKIS yang diterjemahkan dari buku berbahasa Belanda. Acara bedah buku ini dipadati oleh para pengunjung yang sudah menunggu-nunggu sejak pagi. Dalam acara bedah buku ini, Walikota Malang, Drs. Peni Suparto, M.AP. yang juga seorang budayawan dan pecinta seni turut menjadi salah satu pembicara dalam acara bedah buku bergaya talkshow ini. Bedah buku yang digelar di ruang lobi Gedung perpustakaan Kota Malang pun segera saja dipadati oleh pengunjung. Sementara di areal stand pameran, para pengunjung bahkan sudah sejak pagi memadati berbagai stand penerbit dan toko buku yang ada. Bahkan sebelum acara pameran itu resmi dibuka, tampak kerumunan pengunjung yang sudah tidak sabar datang untuk melihat-lihat dan membeli beberapa buku yang dijual secara obral.
Beberapa stand penjualan buku bahkan sudah dipadati pengunjung seperti yang terjadi di stand toko buku rabat “Yusuf Agency” yang menjual aneka buku dengan harga super murah. Bayangkan saja, buku novel fiksi trilogi Lord Of The Rings dan The Hobbits terbitan Gramedia hanya dijual seharga Rp 25.000,- , sementara sebuah buku novel fiksi horor berjudul “Drakula” yang bersampul desain gothik hanya dijual seharga Rp 25.000,-. Novel Pramoedya Ananta Toer pun digelar dengan harga super murah yaitu hanya seharga Rp 25.000,-. Bisa dibayangkan bagaimana padatnya pengunjung yang berebut membeli buku dengan harga super murah tersebut. Yang fantastis, novel-novel cinta Harlequin maupun novel bertema horor karangan R.L. Styne terbitan Gramedia pun hanya diobral seharga Rp 5000,-. Bahkan di sela-sela rak yang berderet di stand pameran “Yusuf Agency” terdapat beberapa buah novel terbitan Amerika dalam bahasa Inggris yang diobral hanya seharga Rp 5000,-. Bukan hanya buku bertema fiksi saja yang dijual dengan harga super murah, buku non fiksi seperti halnya buku-buku motivasi, buku bertema kesehatan, agama Islam, filsafat, sejarah, gizi makanan, dan cerita anak hanya dijual dengan kisaran harga antara Rp 5000,- hingga Rp 20.000,- .
Penerbit KPG Gramedia pun tak mau kalah juga menggelar obral besar aneka jenis buku mulai dari buku fiksi, non fiksi seharga Rp 5000,- hingga Rp 20.000,- . Terdapat pula berbagai variasi diskon antara 15% hingga 20% untuk buku-buku baru terbitan Gramedia. Bahkan beberapa novel karya Pramoedya Ananta Toer dijual secara paket terdiri dari beberapa judul dengan harga super murah, bahkan ada sebuah novel karya Pak Pram yang hanya dijual dengan harga Rp 20.000,- sementara harga normalnya tentu saja di atas harga tersebut. Tentu saja hal ini mendapat sambutan yang cukup meriah dari para pengunjung pameran, terutama sekali para pecinta buku novel. Kebetulan salah satu penjaga stan pameran KPG Gramedia adalah juga salah satu pengurus Forum Penulis Kota Malang (http://komunitaspenulisfpkm.tripod.com). Penerbit Agromedia bahkan menggelar obral buku murah untuk beberapa novel hanya seharga Rp 5000,- padahal harga normalnya saja ada yang mencapai kisaran Rp 40.000,-. Masing-masing stand penerbit dan toko buku pada Festival Buku Malang kali ini tampaknya saling berlomba menjual berbagai tema buku dengan harga super murah. Bisa dibayangkan berapa uang yang bisa dihemat para pecinta buku apabila dari harga normal buku yang biasanya sekitar Rp 30.000,- hingga Rp 40.000,- menjadi diturunkan hanya sehingga hanya dijual dengan harga sekitar Rp 5000,- hingga Rp 10.000,- saja. Penerbit Andi dari Yogyakarta juga menggelar diskon buku yang cukup menarik mulai dari 15% hingga 20% untuk aneka buku bertema teknologi informasi dan komputer. Kemasan buku yang memang terlihat demikian menarik semakin banyak diminati karena disertai pula dengan potongan harga di bawah harga normal di pasaran. Penerbit Agromedia Pustaka, Media Kita dan Buku Kita juga menggelar aneka buku mulai dari buku bertema kesehatan, buku resep masakan hingga buku komputer dengan kisaran harga yang menarik dan tentu saja juga potongan harga yang lumayan. Bagi para penggemar buku Harry Potter terbitan Bloomsbury bisa mendapatkan tiga macam versi buku terbitan Inggris tersebut dengan harga spesial di stand toko buku Toga Mas yang posisinya berhadap-hadapan dengan stan toko buku rabat “Yusuf Agency”. Di stan toko buku Toga Mas bahkan digelar obral buku komik yang lumayan banyaknya hanya seharga Rp 4500,-an per judul buku. Aneka buku komik terbitan Elex Media Komputindo dan juga penerbit buku komik lainnya semuanya dipatok dengan harga super murah yaitu Rp 4500,- hingga Rp 10.000,- . Penerbit buku komputer Gava Media juga menggelar potongan harga yang lumayan untuk buku-buku bertema komputer yang dijual. Kebetulan salah satu penjaga stand penerbit Gava Media adalah salah satu pengurus komunitas penulis Forum Penulis Kota Malang yang memang beberapa anggota dan pengurusnya selalu terlibat dalam setiap acara pameran dan bedah buku yang diselenggarakan di Gedung Perpustakaan Kota Malang. Dalam pameran buku ini ada sebuah stand toko buku yang cukup menarik yaitu stand toko buku Poestaka Rakjat (baca = Pustaka Rakyat). Stand toko buku ini menjual beberapa buku kuno jaman kolonial Belanda, serta beberapa buku jaman Orde Lama dengan harga kurang dari Rp 100.000,- , padahal buku-buku yang dijual tergolong buku-buku bermutu dan lumayan tebal-tebal. Stand ini pun ramai dikunjungi oleh para antusias dan pecinta buku. Stand buku “Ar Ruzz” yang menjual aneka buku bertema Islam pun dikunjungi para kolektor dan pecinta buku bernuansa Islam, sementara stand buku “Dioma” yang selain menjual buku-buku bertema Kristen juga menjual buku-buku fiksi dikunjungi pula oleh pengunjung yang sebagian besar adalah para remaja. Penerbit Agromedia Group juga menggelar diskon buku-buku novel fiksi dengan harga Rp 5000,- hingga Rp 10.000,- padahal harga normalnya saja bisa berkisar antara Rp 30.000,- hingga Rp 50.000,-.
Di beberapa stand buku yang lain bahkan juga dijumpai beberapa novel fiksi yang dijual dengan harga hanya Rp 3000,- saja, padahal pada harga normalnya saja bisa mencapai kisaran Rp 20.000,-an hingga Rp 30.000,-an. Benar-benar fantastis!
Secara umum pameran yang diikuti sekitar 99 penerbit buku dan juga toko buku ini cukup meriah karena selain menawarkan aneka kisaran potongan harga atau rabat yang cukup menggiurkan, juga selalu disemarakkan dengan acara pembagian buku gratis sebagai door prize pada saat acara bedah buku. Seperti contohnya yang terjadi dalam acara peluncuran buku kumpulan puisi sekaligus bedah buku “Surat Kepada Poppy” karya M. Fadjroel Rachman pada tanggal 30 Agustus 2007 yang tak kalah gegap gempitanya dengan begitu banyak penonton. Seorang teman yang merupakan ketua Forum Penulis Kota Malang, David Ardy, bahkan memperoleh kenang-kenangan berupa buku kumpulan puisi tersebut yang langsung juga mendapat tanda tangan dari penulisnya sendiri, Mas M. Fadjroel Rachman. Malam harinya pada tanggal 30 Agustus 2007 kembali diadakan acara bedah buku berjudul “Starbuck The Experience” yang digelar juga di ruang lobi Gedung Perpustakaan Kota Malang, dimana dalam acara tersebut diulas tentang pengalaman dan suka duka berbisnis waralaba kedai kopi asal Amerika itu yang telah ditulis dalam buku berjudul “Starbuck The Experience”. Dalam acara bedah buku bertema bisnis waralaba itu dibagikan tiga buah buku gratis bagi tiga penanya pertama saat acara bedah buku tersebut digelar.
Pada hari Jumat, 31 Agustus 2007, kembali terbukti respon para pecinta dunia sastra dan perbukuan di kota Malang yang begitu besar saat digelar acara jumpa penulis bersama novelis kawakan, Ratna Indraswari Ibrahim. Acara ini baru dimulai sekitar pukul 18.30 WIB. Seperti telah diketahui bersama bahwa Ratna Indraswari Ibrahim juga merupakan pengelola komunitas penulis Forum Pelangi di kota Malang dan juga mempunyai sebuah toko buku “Pustaka Kayutangan” di rumahnya yang beralamat di Jl. Diponegoro 3 Malang 65111. Alhasil dalam temu penulis ini menjadi ajang kesempatan bagi masyarakat umum dan juga dua komunitas penulis di kota Malang yaitu Forum Penulis Kota Malang dan Forum Pelangi untuk saling berbagi pengalaman, suka duka dan wawasan seputar dunia kepenulisan. Beberapa idealisme penulis juga sempat diungkap dan didiskusikan di sini. Acara temu penulis ini baru berakhir pada malam hari.
Keesokan harinya pada tanggal 1 September 2007 diadakan acara story telling yang diselenggarakan oleh Penerbit buku “Kanisius” pada pukul 10.00 WIB pagi hingga siang hari. Selanjutnya pada pukul 14.00 WIB digelar acara bedah buku novel fiksi bertema absurditas dan kehampaan hidup yang berjudul “Cerita Dante” karya Stefani Hid, yang dalam dalam buku novel ketiganya kali ini memperoleh endorsement yang cukup bagus dari penulis kawakan Budi Darma dan juga Richard Oh. Buku dengan ketebalan 126 halaman ini diterbitkan oleh penerbit Grasindo - Gramedia Widiasarana Indonesia dengan setting lokasi yang menarik baik di Indonesia maupun di Eropa Timur. Bahkan dalam novel ini juga disinggung setting lokasi dengan latar belakang kehidupan tokoh pelaku pasca musibah tsunami yang pernah melanda Nangroe Aceh Darussalam. Dalam bukunya yang ketiga ini sisi penceritaan Stefani semakin matang setelah dua novelnya yang berjudul “Bukan Saya, Tapi Mereka Yang Gila!” (Penerbit KataKita, 2004), dan “Soulmate” (Penerbit KataKita, 2004) yang konon kabarnya juga mengundang kontroversi akibat tema yang lugas dan cenderung provokatif. Malam harinya, yaitu pada pukul 19.00 WIB hingga selesai diadakan pagelaran musik akustik oleh kelompok seniman “Mas Abi CS” demi semakin memeriahkan acara Festival Buku Malang 2007 ini. Sambutan meriah datang dari para penonton yang menyaksikan acara ini.
Pada tanggal 2 September 2007 diadakan acara hiburan untuk keluarga yaitu “Lomba Menata Foto” untuk Anak-Anak dan Orang Tua, hasil kerja sama Perpustakaan Kota Malang bersama Lulu Album. Acara ini mendapat sambutan yang cukup meriah dari warga kota Malang terbukti begitu banyak peserta yang ikut berpartisipasi dalam acara ini. Kemudian pada pukul 11.00 WIB siang, juga terlaksana sebuah talk show dan dialog interaktif penulis novel teenlit yang juga editor buku-buku Walikota Malang, sekaligus salah satu pengurus Forum Penulis Kota Malang, Mas Liga Alam. Dialog yang berlangsung cukup santai dan informatif ini banyak mendapat perhatian dari kalangan penulis di kota Malang yang ingin memperluas wawasan dan pengetahuan seputar dunia kepenulisan. Selanjutnya pada siang harinya yaitu sekitar pukul 13.00 WIB diselenggarakan acara pelatihan cara berhitung secara mudah untuk anak-anak dengan metode “Jarimatika” dengan dipandu oleh Mbak Aginita Kusumawardani.
Pada tanggal 3 September 2007 festival buku ini kembali dimeriahkan oleh acara lomba menggambar kartun bertema “Buku & Masyarakat” yang terbuka untuk masyarakat umum, diiringi dengan diskusi serta bedah puisi “Menjadi Penyair Lagi” bersama penyair nasional Acep Zamzam Noor.
Hari Selasa, tanggal 4 September yang merupakan hari terakhir sekaligus hari penutupan acara Festival Buku Malang 2007 diwarnai oleh dua kegiatan besar yaitu acara pelatihan dan workshop singkat “Mengerjakan Matematika Secara Cepat Ala Math Flash” yang diselenggarakan oleh penerbit buku Wahyu Media dengan dipandu oleh Mas Drajat Permadi. Selanjutnya pada siang harinya pada sekitar pukul 14.30 WIB hingga sore hari diadakan acara jumpa penulis, penerbit, penyalur buku dan pembaca buku dengan mengambil tema “Strategi Penjualan” yang juga memperoleh sambutan tak kalah meriah.
Seperti biasanya di hari terakhir penutupan Festival Buku Malang seperti halnya tahun-tahun yang lalu, menjelang acara penutupan pameran setiap penerbit dan stand toko buku seperti berlomba memberikan acara diskon dan potongan harga gila-gilaan untuk setiap buku yang dipamerkan. Bahkan untuk buku-buku yang pada hari-hari pameran hanya dipatok dengan potongan harga antara 15% hingga 20% di acara akhir penutupan pameran (biasanya antara pukul 20.30 WIB hingga malam hari menjelang penutupan pameran sekitar pukul 22.00 WIB) diskon yang diberikan bahkan bisa mencapai lebih dari 50% hingga 70%. Tentu saja para pengunjung yang sebagian besar merupakan para pecinta buku dengan setia selalu menanti momen-momen berharga ini demi memperoleh buku-buku bermutu dengan harga murah.

9 September 2007, Minggu - 21 Oktober 2007, Minggu
FPKM libur selama bulan puasa dan dalam rangka memperingati hari raya Idul Fitri. Pertemuan tidak resmi tetap berlangsung namun hanya dihadiri sedikit anggota dan sekedar berkumpul, ngobrol atau membahas buku-buku yang baru saja dibaca, pinjaman dari perpustakaan Malang.
Teman-teman banyak yang mudik atau berkarya di rumah masing-masing, mengingat selama bulan puasa, tenaga harus dihemat, agar pikiran tetap bisa berpikir jernih menghasilkan karya-karya bermutu.

28 Oktober 2007, Minggu
Acara halal bihalal FPKM berlangsung meriah. Acara halal bihalal ini sekaligus sambil merayakan ulang tahun FPKM yang pertama yang sebenarnya jatuh pada tanggal 8 Oktober 2007.
Teman-teman banyak yang datang sambil membawa aneka penganan, manisan, cake dan biskuit. Bahkan ada yang membawa prol tape tabur keju dan juga puding coklat yang langsung ludes diserbu mulut-mulut yang lapar sehabis berdiskusi.
Teman-teman dari Surabaya, Bandung, dan juga berbagai wilayah di seputar Malang raya berdatangan dengan membawa ceritanya masing-masing, bertukar pengalaman serta aktivitas yang selama ini dilakukan. Ada Mbak Neni Utami yang jauh-jauh datang dari Bandung sambil membawa membawa kripik oncom dan juga aneka manisan.
Seperti biasa acara FPKM kurang afdol tanpa acara foto-fotoan, makanya semuanya pasang tampang sok keren, dan jepret-jepret semuanya berhasil difoto dengan pose yang manis-manis.
Kalau dipikir-pikir, momen acara seperti ini selalu membuat kangen teman-teman. Rencananya nanti pas malam tahun baruan, kita-kita juga akan kembali ngumpul merayakan tahun baru bersama-sama seperti tahun yang lalu sambil membawa aneka kue dan penganan untuk dimakan bersama-sama.
FPKM pokoknya seru deh!

11 November 2007, Minggu
Pertemuan kembali seperti masa awal dulu lewat KMB (Konferensi Meja Bundar) di ruang tengah lobi perpustakaan. Yah, FPKM nggak punya ruang dan tersingkir dari ruangan yang dulu, sekarang masih menunggu ruangan baru yang sedang dipersiapkan. Konon sekitar bulan Mei 2008 baru bisa ditempati, tapi itu nggak janji (begitu ceritanya). Walau demikian, pertemuan dan aktivitas FPKM tetap berjalan seperti biasa. Mas Haryo, Feri dan Adi sudah nongkrong dulu. Lalu muncul ketua, Mas Andik, Trias, Olen dan Wahyu Indah. Liga Alam sempat nongol walau hanya sebentar. Mas Sidik juga hanya bisa mampir sebentar karena harus segera ke Sidoarjo. Adin datang ketika pertemuan hampir selesai. Luhur ada juga, mesti harus berbagi waktu dengan aktivitasnya di MAFEC (Malang Fun English Club).
Tema kali ini tentang kualitas terjemahan buku yang beredar di pasaran. Materi yang dibahas bersumber dari artikel di Jawa Pos. Nara sumber dan pembicaranya adalah Feri Moniagara yang kebetulan menggantikan Lutfi Fadila yang kebetulan sedang berhalangan hadir karena harus ke Jember. Sebelum acara dimulai, Feri sempat minta ijin keluar sebentar selama satu jam. Tak lama ia pun balik lagi dan memulai acara. Pertemuan kali ini membahas mengenai kasus-kasus kesalahan penterjemahan yang marak dijumpai akhir-akhir ini, sehingga banyak menimbulkan protes dari para pembaca buku selaku konsumen dan pemerhati ilmu. Diskusi ini berlangsung cukup seru dengan begitu banyak pendapat yang dilontarkan. Sempat tercetus agar para penterjemah yang bekerja untuk para penerbit buku seharusnya menjalani minimal test TOEFL atau IELTS sebelum layak menterjemahkan buku-buku bermutu, agar tidak merusak tata bahasa yang tersusun indah di buku aslinya dan tidak pula menimbulkan banyak kesalahan persepsi. Selesai acara diskusi dan pembahasan, sang ketua FPKM, Mas David dan juga Olen pulang lebih dulu. Sekarang yang tinggal hanya ada Trias, Luhur, Wahyu Indah, Adin, dan Mas Haryo. Obrolan berlanjut mulai dari Production House, cara menulis skenario film, cerita hantu, voltus v, megaloman, gaban (3 film anak yang berjaya di tahun 80-an) sampai ke masalah mp3 korea-jepang-mandarin. Mbak Wahyu Indah muncul dengan info terbaru seputar penulisan naskah skenario drama sinetron, dan juga kontak person yang bisa dihubungi. Teman-teman langsung mencatat info berharga ini. Mbak Wahyu Indah sendiri saat ini sedang menyelesaikan penggarapan ide cerita dan naskah sinetron, sementara buku novel keduanya juga akan segera terbit.
Pertemuan tak resmi ini baru selesai saat perpustakaan sudah mau tutup. Di luar masih hujan rintik-rintik.
Kini pertemuan resmi FPKM berlangsung dua minggu sekali, tapi bagi teman-teman yang janjian pada selain hari pertemuan biasanya ngobrol di ruang perpustakaan atau di lobi.

25 November 2007, Minggu
Diskusi kali ini membahas ide cerita novel fiksi yang akan digarap oleh Mas David Ardy. Tema dan ide ceritanya sendiri sebenarnya cukup kontroversial dan juga agak sedikit ngeri mendengarnya, namun hal ini masih off the record.
Aku juga baru dapat kabar kalau bukuku yang berjudul Pachypodium, - tanaman hias dari Afrika (karya Haryo Bagus Handoko) rencananya akan terbit sekitar awal bulan Januari 2008. Segera saja aku informasikan pada teman-teman, barang kali nanti ada yang tertarik mau beli (he..he.. sambil promosi).
Bagi yang tertarik untuk menulis resensinya bisa menghubungi PT. Gramedia Pustaka Utama untuk mendapatkan contoh bukunya. Tentu saja harus dengan menyertakan foto copy kartu pers bila Anda seorang wartawan. Anda bisa menghubungi Bpk. Ketut Arya Mahardika yang merupakan editor bukuku itu, yang selanjutnya hal ini akan disampaikan ke bagian promosi PT. Gramedia untuk ditindaklanjuti.
Kalau bisa secepatnya sebelum bukunya terbit, karena persediaan contoh buku yang akan dibagikan juga jumlahnya cukup terbatas. Kalau ada yang berminat untuk memberikan endorsement juga boleh, dan prosedurnya sama seperti bila Anda mau menulis resensinya.

28 November 2007, Rabu
Kemarin ketika aku (Vita) jadi juri lomba cerpen SMA se-Malang di UKMP UM, Dian wanti-wanti supaya besok (hari ini) datang pukul 13.00 WIB. Ada sarasehan buat cerpen dan puisi di joglo perpustakaan pusat.
Upi datang menjelang pukul 13.00 WIB ke rumah. Kuajak sekalian ke UM. Di sana sudah ada David, Olen dan Mbak Dewi. Mas Mukid sudah duduk manis. Jadi sarasehan di atas karpet ditemani hujan dan angin.
Acara selesai, Puput datang dengan ocehan khasnya. Eh, masih seperti ketika di SMA aja coraknya. Put, kamu kan sudah mahasiswa. Gimana, sih…

30 November 2007, Jumat
Pukul 12.30 WIB. Duh, perpustakaan rame banget. Penuh..nuh. Eh, jebulnya ada Raditya Dika pengarang Radikus Makan Kakus, dan Cinta Brontosaurus. Lucu dan kocak saat acara dimulai pukul 13.30 WIB. Gerr..yang banyak hadir sih anak SMA. Mbak Dewi sudah nongkrong yang lain gak ada. Tau ah…ke mana aja mereka.

6 Desember 2007, Kamis
Waduh..waduh..Mas Haryo sms ngajak-ngajak ke Gramedia Book Fair. Padahal aku (Vita) janjian ama Mbak Etty hari Jumat. Lutfi nggak bisa pergi karena jadi juru masak di rumahnya. Atap rumahnya…katanya…pada bocor. Tahu-tahu Mbak Etty sms ngajak hari ini. Wuih…dasar penulis…dimana ada pameran buku didatangi, meskipun sampe sana hanya lihat-lihat karena kantong lagi kosong. Tapi lapar mata juga. Luhur dan Mas Haryo sudah keliling Araya. Nggak puas di Gramedia Book Fair, masih pergi lagi ke toko buku Toga Mas. Buku..lagi-lagi buku. Lapar ya makan nasi. Masa makan buku!!
Jepret sana jepret sini dimana-mana. Bentar lagi Luhur, Mbak Etty, Mas Haryo dan aku mejeng di majalah digital FPKM.

16 Desember 2007, Minggu
Acara bedah buku Noli Me Tangere (Jangan sentuh aku ; bahasa tagalog-filipina). Mengupas tentang kisah nyata perjuangan menegakkan hak asasi manusia di filipina, walau harus melawan dogma agama yang menjadi alat imperialis kuno bangsa spanyol yang saat itu sedang menjajah filipina. Yang hadir ada Mas David, Mas Haryo, Feri, Leo, Adi, Lutfi, Nurul, Wahyu Indah, Liga Alam, dan tentu saja sang pembicara dan pemateri, Trias Pratiwi. Obrolan berlanjut seputar dunia kepenulisan, guyonan khas fpkm dan obrolan ngalor ngidul dan curhatnya anak-anak fpkm.
Rapat baru diakhiri sekitar pukul satu siang karena langit sudah mulai mendung pertanda akan segera turun hujan. Para anggota dan pengurus fpkm pun segera pulang ke rumah masing-masing. Semua janji ketemuan lagi pas malam tahun baru untuk ngumpul lagi di perpustakaan jam 8 malam…sampek pagi, karena mau menonton acara kembang api dan tentu saja ngobrol semalam suntuk sampek ngantuk.
Selamat tahun baru FPKM, semoga terus mendapat ide-ide baru, walau ide terkadang muncul dari kekonyolan dan keisengan kita semua.

31 Desember 2007, Senin
Tidak banyak kegiatan yang dilakukan di bulan Desember ini mengingat banyak teman-teman yang plesir liburan akhir tahun maupun yang tengah menjalani KKN atau pun sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, namun pada saat perayaan pesta tahun baru ala FPKM pada tanggal 31 Desember 2007 yang baru lalu, tampaknya teman-teman meluangkan waktu untuk kembali berkumpul bersama, berbagi cerita, dan tentu saja berfoto-fotoan seperti biasanya. Perayaan tahun baru FPKM dimeriahkan dengan acara games, makan kue, foto-fotoan, nonton parade, dan tentu saja menghadiri pesta kembang api yang mewarnai langit kota Malang. Seperti perayaan tahun baru tahun lalu, perayaan kali ini tak kalah meriahnya, terutama saat permainan games seperti scrable dan aneka permainan lainnya yang digelar rame-rame. FPKM akhirnya tak ubahnya seperti kelompok bermain, he..he.. Lumayan hitung-hitung untuk refreshing setelah sibuk dengan proyek bukunya masing-masing maupun reportase yang seringkali melelahkan. Maklum beberapa dari anggota FPKM ada juga yang wartawan, walau sebagian besar adalah penulis kolom, maupun penulis buku. Walau teman-teman di luar kota banyak yang menyesal tidak bisa datang, namun komunikasi tetap jalan terus melalui sms, email maupun mailing list FPKM. Beberapa anggota FPKM yang bertebaran di luar kota maupun luar propinsi tak lupa saling mengucapkan selamat tahun baru. Ada yang berada di Semarang, Bandung, Kalimantan Timur, Surabaya, Madiun, dan banyak lagi. Walau mereka sekarang tak lagi berada di kota Malang, namun komunikasi tetap berjalan seperti biasa melalui sms dan email maupun mailing list. Tak kenal maka tak sayang, kalau sudah kenal FPKM maka biasanya sayang bila tidak berkomunikasi dengan teman-teman, walau seberapa pun jarak memisahkan kita. Yang penting dari semua itu apalagi kalau bukan menggalang silaturahmi, informasi dan tentu saja semangat untuk tetap rajin menulis dan menulis, karena komunitas ini didirikan atas semangat besar untuk menulis dan menghasilkan karya bagi negeri ini. Selamat tahun baru FPKM!

Posted by Catatan Harian Forum Penulis Kota Malang at 16:58:49 | Permalink | Comments (2)